RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Era 2000-an di Indonesia adalah masa transisi yang menarik. Pasca-krisis moneter 1998, perekonomian mulai pulih, demokrasi tumbuh, dan teknologi digital mulai merangkak masuk. Dalam konteks ini, standar dan gaya hidup "orang kaya" di Indonesia juga mengalami evolusi, meskipun beberapa esensi tetap bertahan. Dibandingkan dengan "sultan" masa kini yang kerap pamer di media sosial, kaum berada di awal milenium punya ciri khasnya sendiri.
Lantas, bagaimana standar orang kaya Indonesia di tahun 2000-an dapat dikenali?
Indikator Kekayaan dan Aset di Awal Milenium
Pada tahun 2000-an, indikator kekayaan tidak sekadar dilihat dari jumlah nol di rekening bank, tetapi juga dari jenis aset dan investasi yang dimiliki.
Kepemilikan Properti Mewah: Rumah besar di kawasan elite Jakarta seperti Menteng, Pondok Indah, Kebayoran Baru, atau perumahan mewah di Surabaya dan kota besar lainnya adalah simbol status utama. Properti di luar kota seperti villa di Puncak atau Bali juga menjadi signature kekayaan.
Koleksi Kendaraan Premium: Mobil-mobil Eropa seperti Mercedes-Benz seri S atau E, BMW seri 7 atau 5, Audi, serta SUV mewah seperti Land Cruiser atau Jeep Cherokee, menjadi pilihan utama. Kendaraan ini tidak hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga menunjukkan kesuksesan.
Investasi di Sektor Riil dan Perbankan: Orang kaya 2000-an cenderung memiliki kepemilikan saham di perusahaan besar (seringkali perusahaan keluarga), investasi properti komersial (gedung perkantoran, pusat perbelanjaan), serta deposito atau reksa dana di bank-bank swasta terkemuka. Mereka adalah pemain kunci di sektor manufaktur, perkebunan, pertambangan, atau perbankan.
Aset Non-Finansial yang Signifikan: Data menunjukkan bahwa mayoritas kekayaan orang dewasa di Indonesia (hingga pertengahan 2018) terdiri dari kekayaan non-finansial (sekitar 84,2%), yang kemungkinan besar juga berlaku di awal 2000-an. Ini mencakup kepemilikan bisnis, properti, tanah, hingga koleksi seni atau barang berharga.
Gaya Hidup dan Simbol Status
Gaya hidup orang kaya di tahun 2000-an cenderung lebih eksklusif dan tidak se-eksposif era media sosial saat ini.
Pendidikan Anak di Luar Negeri: Mengirim anak untuk menempuh pendidikan tinggi di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat, Eropa, atau Australia adalah investasi prestise dan persiapan untuk generasi penerus bisnis keluarga.
Liburan ke Destinasi Kelas Atas: Liburan ke kota-kota metropolitan dunia seperti Paris, London, New York, Tokyo, atau destinasi eksotis seperti Maladewa dan Eropa Timur mulai menjadi tren.
Keanggotaan Klub Eksklusif: Bergabung dengan klub golf, klub kapal pesiar, atau keanggotaan di asosiasi bisnis tertentu adalah cara untuk memperluas jejaring dan mempertahankan lingkaran sosial.
Penampilan dan Mode: Meskipun ada yang suka pamer dengan barang branded mencolok (sering disebut OKB - Orang Kaya Baru), banyak juga "orang kaya lama" (old money) yang cenderung tampil sederhana namun elegan. Mereka mengutamakan kualitas, jahitan tailor-made, dan merek-merek klasik yang tidak perlu logo besar untuk menunjukkan kemewahan. Desainer lokal papan atas juga menjadi pilihan.
Aktivitas Sosial dan Filantropi (Silent Philanthropy): Banyak dari mereka terlibat dalam kegiatan sosial atau filantropi, meskipun seringkali dilakukan secara tertutup atau tidak dipublikasikan secara masif seperti sekarang.
Penggunaan Jasa Profesional: Memiliki sopir pribadi, asisten rumah tangga, chef pribadi, atau konsultan keuangan adalah hal yang lumrah untuk menunjang gaya hidup dan manajemen aset.
Komunikasi dan Networking: Orang kaya sejati di era ini sangat fokus pada pembangunan jaringan dan komunikasi yang efektif. Mereka menghadiri pertemuan bisnis penting, gala dinner, atau acara sosial terbatas untuk memperkuat koneksi.
Perbedaan dengan "Sultan" Era Digital
Dibandingkan dengan crazy rich atau "sultan" di era media sosial seperti sekarang, standar orang kaya di tahun 2000-an memiliki beberapa perbedaan signifikan:
Eksposur: Mereka cenderung lebih tertutup dan tidak terlalu suka memamerkan kekayaan di ranah publik. Media sosial belum menjadi platform utama untuk "flexing."
Sumber Kekayaan: Mayoritas kekayaan berasal dari bisnis keluarga yang sudah mapan di sektor riil, warisan, atau investasi jangka panjang, bukan dari fenomena influencer, trading instan, atau skema investasi baru yang berisiko tinggi.
Nilai: Ada kecenderungan untuk lebih menghargai kualitas, timelessness, dan nilai warisan daripada sekadar tren atau label harga.
Standar orang kaya di Indonesia pada tahun 2000-an mencerminkan era di mana kekayaan masih sangat lekat dengan kepemilikan aset fisik, bisnis riil, dan jaringan sosial yang kuat. Meskipun indikator jumlah kekayaan secara spesifik mungkin bervariasi (data 2010 menunjukkan rata-rata kekayaan orang dewasa di Indonesia sekitar USD 2.370, yang tentunya akan jauh lebih tinggi untuk kategori "orang kaya"), ciri-ciri gaya hidup dan kepemilikan aset di atas memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana kaum berada di awal milenium itu mendefinisikan dan menampilkan kemakmuran mereka. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko