Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Susur Gua: Sejarah, Eksplorasi, dan Konservasi Kekayaan Bawah Tanah

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 15 Juli 2025 | 03:18 WIB
Ilustrasi gua.
Ilustrasi gua.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Susur gua adalah aktivitas rekreasi yang menarik dan penuh tantangan, sekaligus menjadi pintu gerbang untuk memahami dunia bawah tanah yang misterius. Aktivitas ini erat kaitannya dengan speleologi, studi ilmiah tentang gua alami. Di Indonesia, susur gua juga dikenal dengan istilah penelusuran gua atau jelajah gua, yang semakin diminati.

Sejarah Singkat Susur Gua

Susur gua sebagai olahraga modern mulai berkembang di Kepulauan Inggris pada akhir abad ke-19. Namun, hingga periode antara dua Perang Dunia, aktivitas ini masih didominasi oleh sedikit petualang dan ilmuwan. Pada tahun 1920-an dan 1930-an, minat terhadap susur gua meningkat, yang mengarah pada pembentukan klub-klub susur gua pertama, awalnya di Yorkshire Dales dan Somerset, Inggris.

Peningkatan aktivitas susur gua ini secara dramatis membawa pada penemuan-penemuan bawah tanah baru. Dengan pengembangan peralatan dan teknik, para penjelajah gua mampu menjelajahi gua-gua yang semakin dalam, jauh, dan lebih sulit. Tidak dapat dihindari, risiko kecelakaan yang dialami para penjelajah gua di tempat-tempat yang hanya dapat diakses oleh sesama penjelajah juga meningkat secara paralel.

Meskipun klub-klub baru memiliki sarana untuk menangani kecelakaan kecil, menjadi jelas bahwa jika terjadi insiden serius di bawah tanah yang jauh, tenaga dan peralatan yang tersedia untuk satu klub saja akan sangat tidak memadai.

Kekhawatiran ini mendorong penggabungan sumber daya dan pembentukan Cave Rescue Organisation (CRO) di Yorkshire pada tahun 1935, yang disebut-sebut sebagai organisasi penyelamat gua pertama di dunia. Disusul kemudian dengan Mendip Rescue Organisation (MRO) di Somerset pada tahun 1936. Popularitas susur gua terus meningkat setelah Perang Dunia II, dan organisasi serupa lainnya pun terbentuk di berbagai wilayah, misalnya di Derbyshire pada tahun 1952.

Saat ini, ribuan orang melakukan susur gua setiap minggu, dan mayoritas melakukannya tanpa insiden. Namun, ketika ada kelompok penjelajah gua yang terlambat kembali atau ada yang terluka di bawah tanah, tim penyelamat gua lokal akan dipanggil untuk mengerahkan kombinasi tenaga, keahlian, dan peralatan yang diperlukan guna melakukan pencarian dan penyelamatan. Di Indonesia sendiri, kelompok-kelompok pencinta alam dan SAR sering berkolaborasi dalam operasi penyelamatan di gua.

Apa Itu Caving?
Caving adalah istilah rekreasi untuk menjelajahi gua dan gua bawah tanah, yang merupakan padanan rekreasi dari speleologi—studi ilmiah tentang gua alami. Para penggemar caving menyebut diri mereka caver (penjelajah gua) dan biasanya tidak menggunakan istilah "spelunker," yang seringkali dipakai oleh non-penjelajah gua.

Istilah "spelunker" digunakan selama tahun 1950-an sebagai istilah umum bagi mereka yang menjelajahi gua. Namun, pada tahun 1960-an, istilah spelunking mulai mengandung konotasi amatir yang tidak terlatih dalam susur gua. Secara umum, caving adalah olahraga rekreasi menjelajahi gua.

Dalam sejarah umat manusia, gua pertama kali digunakan sebagai tempat perlindungan dan berfungsi sebagai tempat tinggal bagi kelompok keluarga dan suku-suku awal. Karena alasan ini, sejumlah arkeolog sangat tertarik untuk menjelajahi gua sebagai lokasi pemukiman bersejarah dan melakukan penggalian untuk mengungkap halaman-halaman sejarah tertentu. Karena suhu gua tetap sama sepanjang tahun, gua menjadi tempat berlindung favorit bagi manusia maupun hewan.

Beragam Motivasi di Balik Hobi Susur Gua

Susur gua telah menjadi hobi karena berbagai alasan. Beberapa penjelajah gua tertarik untuk mengumpulkan data akurat tentang gua. Ahli geologi menjelajahi gua untuk tujuan mempelajari formasi batuan dan sedimentasi. Beberapa penjelajah gua tertarik pada kehidupan tumbuhan dan hewan di dalam gua, dan mempelajari kelelawar, ikan, salamander, kadal kecil, serangga, dan mamalia. Terakhir, beberapa penjelajah gua tertarik pada konservasi sumber daya alam yang tidak terbarukan ini. Namun, sebagian besar orang yang berkunjung tertarik pada gua untuk tujuan rekreasi.

Setiap gua menawarkan pengalaman unik dan memberikan peluang luar biasa untuk belajar serta bersenang-senang. Pengunjung merasakan sensasi kegembiraan saat mengikuti jalur bawah tanah melalui gua atau gua bawah tanah. Beberapa gua dapat dimasuki dengan berjalan kaki, ada pula dengan perahu atau lift, dan di satu gua, pengunjung bisa berkeliling dengan trem. Karena jalur mengikuti kontur alami gua, pengunjung dengan disabilitas disarankan untuk menanyakan aksesibilitas gua yang ingin mereka kunjungi. Mereka yang memiliki masalah medis serius seperti tekanan darah tinggi, kondisi jantung, dan kesulitan bernapas diperingatkan tentang risiko berada di bawah tanah. Sepatu jalan yang nyaman dan sweter tipis direkomendasikan selama tur berpemandu.

Tantangan Konservasi dan Perlindungan Gua

Banyak gua-gua di antaranya dikelola sebagai gua wisata, sementara yang lain tetap tertutup untuk kunjungan publik karena berbagai alasan seperti perlindungan air bawah tanah, aksesibilitas, dan legislasi. Legislasi ini dirancang untuk mencegah perusakan gua. Perlindungan gua sangat penting karena membutuhkan ribuan tahun untuk memperbaiki kerusakan pada formasi gua. Beberapa negara juga telah memberlakukan undang-undang perlindungan gua. Perlu juga dicatat bahwa legislasi perlindungan spesies yang terancam punah juga mencakup gua.

Satu poin penting berkaitan dengan area karst di atas gua, yang seringkali tidak tercakup oleh legislasi perlindungan gua. Polusi di atas gua dapat dengan mudah meresap dan mencapai sumber air di dalam gua, serta dapat menimbulkan masalah kesehatan akibat kontaminasi. Karena alasan ini, pelestarian area permukaan sama pentingnya dengan gua itu sendiri dalam melindungi sumber daya air.

Karena mayoritas gua terletak di lahan pribadi, terutama di daerah pedesaan, beberapa masalah harus ditangani bagi mereka yang tertarik pada eksplorasi maupun pemilik lahan. Masalah penting lainnya berkaitan dengan berbagai alternatif bagi pemilik lahan seperti penggalian, penambangan, pertanian, dan peternakan. Dalam kasus-kasus ini, perlindungan menjadi masalah yang rumit di antara pihak-pihak yang berkepentingan. Kerusakan yang disebabkan oleh kunjungan berlebihan, vandalisme, dan pengambilan suvenir adalah salah satu masalah yang dihadapi pemilik gua.

Masalah penting lain berkaitan dengan sisa karbit di area penggembalaan yang dapat meracuni rumput dan air. Untuk meringankan masalah ini, berbagai organisasi susur gua merekomendasikan edukasi yang baik sebagai solusinya. National Speleological Society (NSS), sebuah organisasi speleologi terkemuka, merekomendasikan agar pengunjung gua "take nothing but pictures; leave nothing but footprints; kill nothing but time" atau dalam bahasa Indonesia berarti: "Jangan ambil apapun kecuali gambar; jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki; jangan bunuh apapun kecuali waktu." Ini adalah panduan esensial untuk susur gua yang bertanggung jawab di seluruh dunia. (*)


Sumber Referensi: Encyclopedia

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#caving #susur gua