RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menjalani hubungan dengan pasangan yang penuh kasih sayang memang dapat membuat hidup lebih bermakna. Namun, tidak semua hubungan diawali dengan niat dan sikap yang positif.
Ada kalanya, tanda-tanda pasangan yang berpotensi toxic dapat terlihat sejak awal, tetapi sering kali diabaikan atau belum disadari.
Hubungan yang toxic bukan hanya soal pertengkaran dan ucapan kasar, tetapi juga pola komunikasi manipulatif, kontrol berlebihan, hingga sikap tidak menghargai nilai pribadi pasangannya.
Fenomena ini dapat berdampak panjang bagi kesehatan mental dan emosional seseorang. Bahkan, penelitian dari Journal of Social and Personal Relationships (2015) menyebutkan bahwa pola komunikasi yang toksik dapat memicu tingkat stres dan kecemasan tinggi bagi pasangan yang mengalaminya.
Karena itu, mengenali ciri-ciri pasangan yang berpotensi toxic sejak awal dapat menjadi langkah pertama untuk membangun relasi yang sehat dan saling menghormati. Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai.
1. Selalu Berusaha Mengontrol
Kontrol adalah salah satu ciri paling jelas dari pasangan yang berpotensi toxic. Mereka bisa saja mulai dengan memberi saran yang terdengar peduli tetapi lambat laun berkembang menjadi pembatasan dan kendali penuh atas pilihan pribadi pasangan.
Menurut penelitian dari Journal of Family Psychology (2013), pola kontrol yang intens dapat menghancurkan kepercayaan dan membuat pasangan merasa tidak bernilai.
Kontrol ini bisa muncul dalam bentuk kecil, seperti menentukan siapa yang boleh dijadikan teman, atau sebesar menentukan nilai dan tujuan hidup pasangan.
2. Pola Komunikasi yang Manipulatif
Pasangan yang toxic cenderung memutarbalikkan fakta, memojokkan, atau bahkan membuat pasangan merasa bersalah atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Pola ini disebut sebagai “gaslighting” dalam literatur psikologi.
Penelitian dari Journal of Interpersonal Violence (2014) menjelaskan bahwa pola komunikasi manipulatif dapat berdampak panjang bagi kesehatan mental, membuat pasangan meragukan nilai dan kemampuan pribadi, bahkan memicu gejala depresi dan kecemasan.
3. Tidak Menghargai Batasan Pribadi
Pasangan yang sehat menghormati kebutuhan pribadi masing-masing, sedangkan pasangan yang toxic cenderung memaksa, memotong waktu pribadi, atau bahkan menganggap kebutuhan pribadi sebagai bentuk pengkhianatan.
Berdasarkan penelitian dari Personality and Social Psychology Bulletin (2017), pelanggaran batas pribadi dapat menghapus ruang individual yang sehat dalam sebuah hubungan dan membuat pasangan merasa kehilangan jati dirinya sendiri.
4. Sikap Cemburu Berlebihan
Rasa cemburu memang wajar dalam sebuah hubungan, tetapi bila berkembang menjadi pola pengawasan, pelarangan komunikasi dengan pihak tertentu, hingga pembatasan aktivitas, itu dapat berubah menjadi pola toksik.
Studi dari Journal of Social and Personal Relationships (2019) menyebutkan bahwa pola ini dapat berkembang dari tingkat rendah menjadi tingkat tinggi dan berpotensi menimbulkan tindak kekerasan psikis maupun fisik.
5. Tidak Mau Bertanggung Jawab atas Kesalahan
Pasangan yang toxic cenderung menyalahkan pihak lain atau keadaan ketika terjadi kesalahan. Mereka sulit menerima kritik dan tidak pernah meminta maaf dengan tulus.
Pola ini membuat pasangan lain terus merasa berada dalam posisi yang salah dan memikul beban yang bukan tanggung jawabnya.
Menurut penelitian dari Journal of Marriage and Family Therapy (2018), pola ini dapat membuat pasangan merasa kecil, tidak berarti, bahkan dapat menimbulkan trauma jangka panjang terkait pola relasi yang tidak setara.
Kesimpulan
Hubungan yang sehat dibangun di atas komunikasi terbuka, saling menghargai, dan kerja sama untuk tumbuh bersama. Jika pasangan mulai menunjukkan pola kontrol, manipulasi, pelanggaran batas pribadi, hingga sikap menyalahkan yang terus-menerus, itu bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut berpotensi toxic.
Menyadari tanda-tanda ini sejak awal memberi kesempatan bagi siapa pun untuk membuat pilihan bijak: memperbaiki pola komunikasi bersama atau, bila memang diperlukan, keluar dari hubungan yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental dan emosional. Sekali lagi, hubungan yang sehat bukan soal siapa yang berkuasa, tetapi soal kerja sama, saling menghargai, dan tumbuh bersama. (kam)
Editor : Hakam Alghivari