Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

8 Tanda Kepribadian yang Mengikis Elegansi Seorang Perempuan, Menurut Psikologi dan Gaya Hidup Modern

Hakam Alghivari • Sabtu, 10 Mei 2025 | 00:10 WIB
Ilustrasi kepribadian yang mengikis elegansi seorang perempuan
Ilustrasi kepribadian yang mengikis elegansi seorang perempuan

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Elegan bukan sekadar pakaian mahal atau cara berjalan yang anggun. Ia adalah cerminan dari ketenangan batin, cara bersikap, dan ketulusan dalam membawa diri. Dalam dunia yang makin cepat dan instan ini, elegansi sering kali disalahpahami sebagai sekadar kemewahan luar, padahal esensinya jauh lebih dalam dan psikologis.

Dalam kerangka psikologi sosial, elegansi mencerminkan keseimbangan emosi, kemampuan berempati, dan pengendalian diri. Vanessa Rodriguez dalam StylishlyMe menyatakan bahwa “gaya elegan adalah tentang kesadaran, tidak berlebihan, tidak pamer, tapi tahu batas.” Ini selaras dengan konsep self-regulation yang sering disebut dalam literatur psikologi kepribadian.

Sementara itu, dilansir dari Psychology Today, cara seseorang berpakaian dan bersikap merupakan refleksi dari rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Artinya, elegansi adalah soal nilai internal, bukan sekadar tampilan fisik. Maka ketika perilaku tertentu muncul, seperti sering mengeluh di publik atau bicara kasar, bukan hanya kesan tidak berkelas yang muncul, tapi juga tanda bahwa seseorang belum stabil secara emosional.

1. Terlalu Banyak Drama dalam Interaksi Sosial

Perempuan yang cenderung menciptakan atau menyebarkan drama dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung maupun di media sosial, sering kali sedang mencari validasi eksternal yang tidak stabil. Menurut psikologi, perilaku ini dapat mengindikasikan emotional dysregulation, yaitu ketidakmampuan untuk mengelola dan mengontrol emosi dengan sehat.

Elegansi sejati menuntut kontrol diri. Perempuan yang elegan tidak memerlukan panggung untuk memvalidasi perasaannya. Mereka memahami bahwa kestabilan emosi adalah fondasi dari perilaku yang anggun dan dewasa.

2. Sering Mengeluh di Depan Umum

Mengeluh terus-menerus tentang hal-hal kecil di media sosial atau forum publik tidak hanya memberi kesan negatif, tetapi juga dapat menunjukkan mentalitas korban. Dalam tulisan Dierdre Clemente di TIME Magazine, gaya hidup yang penuh keluhan adalah refleksi dari kurangnya resiliensi dan rasa syukur.

Elegansi mengajarkan untuk berbicara dengan keberanian dan ketenangan. Mengungkapkan perasaan sah-sah saja, tetapi dilakukan secara dewasa dan dalam ruang yang tepat menunjukkan pengendalian diri yang berkelas.

3. Kurang Kesadaran Sosial dan Empati

Perempuan yang sering memotong pembicaraan, membicarakan diri sendiri secara berlebihan, atau mengabaikan perasaan orang lain bisa dianggap kurang memiliki kepekaan sosial. Dalam psikologi interpersonal, empati adalah komponen utama dalam hubungan yang sehat dan tanda dari emotional intelligence.

Elegan berarti tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengar. Kepekaan terhadap lingkungan sosial menunjukkan bahwa seseorang menghargai orang lain, dan itu adalah salah satu bentuk elegansi yang paling nyata.

4. Over-sharing Kehidupan Pribadi

Tren “oversharing” di media sosial bisa menjadi bumerang bagi citra elegan seseorang. Gaya yang elegan adalah tentang keseimbangan antara keterbukaan dan privasi. Elegansi tidak mengumbar semua hal, ia memilih apa yang patut dibagikan dan apa yang lebih baik disimpan.

Perempuan yang elegan memahami bahwa menjaga sebagian kehidupan tetap pribadi mencerminkan kedewasaan, integritas, dan rasa hormat pada diri sendiri.

5. Gaya Bicara yang Kasar atau Menghakimi

Ucapan yang penuh sindiran, suara tinggi, atau nada yang merendahkan menciptakan kesan yang jauh dari anggun. Dalam psikologi komunikasi, cara berbicara adalah cermin dari nilai yang kita anut dan tingkat kontrol diri yang kita miliki.

Seseorang yang anggun tidak merasa perlu untuk menunjukkan kekuasaan lewat ucapan tajam. Sebaliknya, ia memilih kata-kata yang membangun, tegas namun santun, itulah kekuatan sejati dari elegansi verbal.

6. Terobsesi dengan Status dan Materi

Mengukur diri dan orang lain berdasarkan kepemilikan materi atau status sosial adalah bentuk kepribadian yang dangkal. Elegansi sejati lahir dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada merek atau harga barang.

Keanggunan bukanlah milik kelas atas semata, tetapi milik siapa saja yang bisa menunjukkan integritas dalam penampilan dan perilaku, apa pun latar belakangnya.

7. Tidak Konsisten antara Ucapan dan Tindakan

Perempuan yang sering berbicara tentang nilai-nilai positif tapi bersikap sebaliknya memperlihatkan ketidakkonsistenan yang merusak kesan berkelas. Dalam psikologi, konsistensi antara nilai dan tindakan dikenal sebagai congruence, dan ini adalah dasar dari karakter yang utuh.

Keanggunan tidak butuh gembar-gembor. Ia tampak dari tindakan kecil yang konsisten, dari cara bersikap kepada orang kecil hingga bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri.

8. Gagal Merawat Diri secara Seimbang

Penampilan yang terlalu diabaikan ataupun terlalu berlebihan bisa mengisyaratkan masalah pada hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Merawat diri bukan hanya soal estetika, tapi juga kesehatan fisik dan mental.

Menurut Vanessa Rodriguez, “gaya elegan adalah gaya yang tetap relevan bahkan 10 tahun dari sekarang,” karena ia didasarkan pada kualitas, bukan tren. Perempuan yang elegan merawat dirinya dengan sadar, bukan demi pengakuan, melainkan karena ia menghormati dirinya. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #psikologi #Gaya Hidup #kepribadian #Elegansi #Sikap