RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika mendengar kata "Jepang", sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan anime, sushi, bunga sakura, dan keindahan alamnya. Tak hanya itu, Jepang juga dikenal sebagai negara maju dengan budaya yang unik, masyarakat yang disiplin, serta teknologi yang canggih. Namun, di balik semua kemajuan tersebut, ada banyak kebiasaan positif yang menjadi fondasi kuat kehidupan masyarakat Jepang dan layak dijadikan panutan oleh negara lain, termasuk Indonesia.
Budaya Jepang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan, kebersihan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sejak usia dini. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Jepang menjadi negara dengan tingkat ketertiban dan kualitas hidup yang tinggi. Beberapa kebiasaan yang telah menjadi budaya di Jepang berikut ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.
Baca Juga: Perempuan Pecinta Buku: Ini 7 Ciri Uniknya yang Jarang Disadari
1. Gemar Membaca dan Meningkatkan Literasi
Salah satu kebiasaan positif masyarakat Jepang adalah gemar membaca. Berdasarkan hasil survei dari Program for International Student Assessment (PISA), Jepang menduduki peringkat ke-8 dalam kemampuan literasi siswa. Hal ini bukan tanpa sebab. Di Jepang, anak-anak dibiasakan membaca buku selama 10 menit setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Selain itu, budaya membaca juga terlihat dari kebiasaan tachiyomi, yaitu membaca buku secara gratis sambil berdiri di toko buku. Budaya ini menunjukkan bahwa membaca sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jepang.
2. Menjaga Kebersihan Sejak Dini
Kebersihan menjadi aspek penting dalam budaya Jepang. Hampir tidak ditemukan sampah berserakan di tempat umum. Masyarakat Jepang terbiasa membawa pulang kembali sampah pribadi mereka jika tidak menemukan tempat sampah. Di sekolah, anak-anak dilatih untuk membersihkan ruang kelas, toilet, dan kantin secara bergotong royong. Tidak ada petugas kebersihan khusus di sekolah, karena tanggung jawab menjaga kebersihan diajarkan sebagai bagian dari pendidikan karakter.
3. Budaya Tertib dan Sopan
Kesopanan dan ketertiban menjadi ciri khas yang melekat pada masyarakat Jepang. Memberi salam dengan membungkuk, berbicara dengan suara lembut di tempat umum, serta menghargai orang lain menjadi kebiasaan sehari-hari. Hal ini mencerminkan penghargaan yang tinggi terhadap sesama manusia, serta kesadaran kolektif untuk menciptakan lingkungan sosial yang harmonis.
4. Disiplin dan Tepat Waktu
Waktu adalah hal yang sangat dihargai di Jepang. Masyarakat Jepang terkenal akan kedisiplinan dan ketepatan waktunya. Kereta api di Jepang misalnya, sangat jarang terlambat, bahkan keterlambatan beberapa detik saja akan disampaikan permintaan maaf kepada penumpang. Hal ini menunjukkan betapa besarnya penghargaan terhadap waktu dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Baca Juga: Tumbuh Menjadi Perempuan yang Tenang: 7 Kebiasaan yang Membentuk Kesabaran Menurut Psikologi
5. Memanfaatkan Transportasi Umum
Meskipun Jepang merupakan produsen kendaraan ternama seperti Toyota, Honda, Suzuki, dan Yamaha, penduduknya lebih memilih menggunakan transportasi umum, sepeda, atau berjalan kaki. Selain karena faktor kenyamanan dan keamanan transportasi umum, mahalnya biaya parkir, tingginya pajak mobil, serta rumitnya proses mendapatkan surat izin mengemudi membuat masyarakat lebih memilih alternatif yang ramah lingkungan dan efisien.
Kebiasaan-kebiasaan baik yang diterapkan oleh masyarakat Jepang merupakan cerminan dari budaya disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran kolektif yang kuat. Budaya ini tidak muncul secara instan, melainkan hasil dari proses panjang pendidikan karakter sejak dini. Jika kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat diadopsi dan diterapkan secara konsisten, bukan tidak mungkin negara lain, termasuk Indonesia, juga dapat mencapai kualitas hidup dan ketertiban sosial yang lebih baik. Sudah saatnya kita meniru hal-hal positif dari Jepang untuk membentuk masyarakat yang lebih maju dan beradab. (oss/mgg)
Editor : Hakam Alghivari