Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Perempuan Sering Terlalu Keras pada Diri Sendiri? Ini 6 Penjelasan Psikologisnya

Hakam Alghivari • Selasa, 22 April 2025 | 23:38 WIB
Ilustrasi perempuan yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri
Ilustrasi perempuan yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, tekanan untuk menjadi "sempurna" semakin menguat dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi perempuan. Tidak hanya dituntut tampil ideal dalam pekerjaan, penampilan fisik, maupun kehidupan sosial, perempuan juga sering kali menanggung beban harapan yang tidak realistis dari lingkungan maupun diri sendiri. Hal ini melahirkan fenomena menarik dalam psikologi, yaitu kecenderungan perempuan untuk menjadi lebih keras terhadap diri sendiri.

Self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri merupakan kemampuan untuk memperlakukan diri dengan kebaikan, pengertian, dan penerimaan saat menghadapi kegagalan. Konsep ini penting, terutama di masa sekarang yang penuh tekanan sosial. Namun, banyak perempuan yang justru kesulitan mempraktikkan hal ini. Alih-alih memahami, mereka cenderung menghakimi diri secara berlebihan ketika melakukan kesalahan.

Dikutip dari Psychology Today, serta dirangkum dari berbagai wawasan populer lainnya seperti studi dari Kristin Neff (University of Texas), perempuan cenderung lebih rentan terhadap kritik diri karena gabungan faktor psikologis, budaya, hingga sosial. Fenomena ini bukan semata-mata kesalahan pribadi, melainkan hasil dari pembentukan sosial yang panjang dan kompleks.

1. Internalisasi Norma Sosial Sejak Dini

Sejak kecil, perempuan sering dipuji ketika mereka bersikap manis, patuh, atau rapi. Ini bukan hal yang buruk, namun ketika pujian selalu dikaitkan dengan kepatuhan atau kesempurnaan, anak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus "baik" untuk bisa diterima. Lama kelamaan, nilai diri mereka mulai tergantung pada bagaimana mereka bisa memenuhi ekspektasi sosial.

Ketika perempuan dewasa, standar ini tidak hilang, malah bertambah rumit. Mereka merasa harus menjadi versi terbaik dari diri mereka di mata orang lain. Maka, ketika mereka gagal memenuhi harapan tersebut—sekecil apa pun—mereka bisa merasa bersalah atau tidak layak. Ini adalah bentuk kritik diri yang sangat umum ditemui.

2. Peran Gender yang Mendorong Perfectionism

Perempuan sering kali mengemban banyak peran secara bersamaan—dari ibu, istri, pekerja, hingga teman. Dalam masyarakat patriarkal, mereka juga lebih sering dituntut untuk multitasking dan menjadi penengah emosi dalam keluarga. Tekanan untuk menjalankan semua peran ini dengan sempurna bisa sangat membebani.

Perfectionism, atau dorongan untuk menjadi sempurna, adalah sumber utama dari self-criticism. Ketika seseorang menetapkan standar yang terlalu tinggi dan tidak mencapainya, kritik internal pun muncul. Perempuan lebih rentan terhadap hal ini karena mereka diajarkan bahwa menjadi “cukup baik” tidaklah cukup—mereka harus luar biasa dalam segalanya.

3. Self-Worth yang Terikat pada Validasi Eksternal

Banyak perempuan merasa nilai diri mereka tergantung pada bagaimana orang lain memandang mereka—baik dari segi penampilan, pencapaian, maupun kepribadian. Ini membuat mereka sangat sensitif terhadap kritik dari luar dan cenderung menginternalisasikannya secara mendalam.

Saat validasi dari luar menjadi satu-satunya sumber nilai diri, perempuan menjadi sangat keras terhadap kesalahan pribadi. Setiap kegagalan kecil terasa seperti ancaman terhadap harga diri mereka. Ketika tidak mendapat pujian atau pengakuan, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri, bukan melihatnya sebagai bagian normal dari kehidupan.

4. Kurangnya Pendidikan Emosional Mengenai Self-Compassion

Konsep self-compassion tidak banyak diajarkan dalam budaya kita, dan lebih sering dikira sebagai bentuk kelemahan. Perempuan, yang sudah dibesarkan dengan tuntutan untuk memikirkan orang lain lebih dulu, justru sering merasa bersalah ketika ingin menyayangi diri sendiri.

Padahal, menurut Dr. Kristin Neff, self-compassion terbukti membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Ia juga meningkatkan motivasi secara sehat. Sayangnya, banyak perempuan justru berpikir bahwa bersikap lembut pada diri sendiri akan membuat mereka malas atau tidak berkembang—padahal kebalikannya yang benar.

5. Hormonal dan Biologis

Beberapa studi menunjukkan bahwa fluktuasi hormonal pada perempuan bisa mempengaruhi cara mereka merespons stres dan tekanan sosial. Hormon seperti estrogen, yang berperan dalam membangun empati dan emosi sosial, juga membuat perempuan lebih mudah merasa bersalah atau bertanggung jawab atas kesalahan kecil.

Meski tidak bisa disimpulkan secara mutlak bahwa hormon adalah penyebab utama, perbedaan biologis ini bisa menjadi salah satu faktor pendukung mengapa perempuan cenderung lebih reflektif dan lebih mudah memutar ulang kesalahan dalam pikirannya, yang berujung pada kritik terhadap diri sendiri.

6. Budaya Media dan Sosial

Media, khususnya media sosial, menciptakan standar kehidupan dan kecantikan yang nyaris tidak mungkin dicapai. Perempuan terus-menerus dibombardir dengan citra ideal tentang tubuh, gaya hidup, bahkan pola parenting yang sempurna. Ini menimbulkan ilusi bahwa semua orang bisa hidup “sempurna”—kecuali dirinya sendiri.

Akibatnya, perempuan lebih rentan membandingkan diri secara negatif. Mereka merasa selalu kurang, tidak cukup cantik, tidak cukup sukses, tidak cukup menjadi ibu yang baik. Semua ini adalah bahan bakar utama dari kritik internal yang menyakitkan dan sulit dihentikan.

Self-compassion adalah keterampilan psikologis yang sangat penting bagi perempuan di tengah tuntutan hidup modern. Dengan mengenali sumber tekanan dan belajar menyikapi kegagalan dengan kelembutan, perempuan bisa mulai membangun relasi yang lebih sehat dengan dirinya sendiri. Kelembutan pada diri bukan tanda lemah, melainkan bentuk kekuatan emosional yang sesungguhnya. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #psikologis #Ideal #self compassion