RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Keberhasilan dalam mengembangkan perkebunan anggur tidak datang dengan instan. Dan, hal ini terbukti dalam perjalanan Jajang, seorang petani anggur yang awalnya menekuni dunia pertanian sebagai hobi.
Berdiri sejak akhir 2021, perkebunan anggur yang dikelolanya kini telah tumbuh menjadi usaha yang menarik perhatian banyak pihak. Dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial, Jajang memperkenalkan anggurnya ke khalayak luas dan berhasil mengembangkan perkebunannya di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota.
Jajang memulai perkebunan anggurnya dengan menanam beberapa varian anggur seperti Everest, Trans, Moon Drop, dan Ninel. ’’Sekarang sudah 2024, tetapi awalnya menanam anggur di akhir 2021. Varian yang saya tanam waktu itu ada Everest, Trans, Moon Drop, dan Ninel,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada pertengahan 2022, Jajang memutuskan untuk mencoba varian baru seperti Tamaki, Ilaria, Taldun, Sinkat, Gusv, dan Jupiter. Awalnya, ia hanya menjadikan perkebunan ini sebagai sarana untuk menyalurkan hobinya menanam berbagai tanaman.
Namun, melihat hasil yang baik dan minat masyarakat yang besar, ia akhirnya beralih menjadi seorang petani anggur yang serius. Untuk pemasaran, Jajang memanfaatkan teknologi dengan melakukan promosi melalui WhatsApp dan Facebook.
’’Dulu, pemasarannya lewat online, saya juga jual bibit dan buah. Saya unggah buah yang siap panen di status WhatsApp dan Facebook. Orang-orang jadi tahu dan mulai datang ke sini,” katanya.
Selain itu, pemasaran secara lisan dari mulut ke mulut juga menjadi cara efektif dalam memperkenalkan perkebunannya kepada masyarakat sekitar. Namun, dalam menjalankan usaha perkebunan anggur, Jajang menyadari pentingnya perawatan yang disiplin.
’’Perawatannya itu pakai pupuk organik dan kimia, harus bergantian. Saat musim penghujan, biasanya kita tidak memanen buah karena resiko penyakit tinggi,” jelasnya. Untuk mengatasi tantangan musim hujan, ia membangun greenhouse sederhana yang dapat melindungi tanaman dari air hujan.
Meski demikian, ia mengakui, bahwa karena lokasinya yang berada di pinggir jalan, greenhouse-nya belum bisa tertutup sepenuhnya. Musim kemarau menjadi waktu panen terbaik bagi Jajang. Ia menghitung waktu tanam dengan cermat agar buah matang di pertengahan musim kemarau.
’’Buah anggur dari kuning sampai matang butuh waktu tiga bulan. Jadi, kami harus punya perhitungan sendiri agar panennya di bulan yang tepat,” ujar Jajang. Dengan harga jual mencapai Rp 100.000 per kilogram, Jajang mengaku sering kali buahnya cepat habis terjual dalam kurun waktu satu hingga dua hari setelah dipanen.
Buah anggur yang besar dan segar menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. ’’Orang-orang sering kali selfie dulu sebelum memetik. Dari situlah, saat mereka unggah di status, teman-temannya tertarik dan bertanya dari mana asal buah tersebut,” cerita Jajang.
Strategi pemasaran tidak langsung ini terbukti efektif dalam menarik minat pembeli yang lebih luas. Ke depannya, Jajang memiliki harapan besar untuk mengembangkan perkebunannya lebih jauh. Ia berencana memiliki lahan dan greenhouse pribadi yang lebih luas dan tertata, sehingga perkebunan anggurnya dapat tumbuh lebih optimal.
’’Saya ingin usaha ini semakin besar, punya lahan dan greenhouse sendiri yang lebih layak,” ungkapnya dengan penuh optimisme. Perjalanan Jajang dari hobi menanam hingga usaha perkebunan anggur yang sukses menjadi bukti. Bahwa, ketekunan, kreativitas, dan adaptasi terhadap teknologi dapat membuka peluang usaha baru yang menjanjikan.
Dengan visi yang jelas dan semangat yang kuat, Jajang siap mengembangkan perkebunannya menjadi salah satu kebun anggur terkemuka di Bojonegoro. (fra/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana