BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Deretan jenis bonsai berjejer rapi di lapak Mukidi. Beragam jenis bonsai berbagai ukuran dapat dijumpai pada lapak di Gang Sawahan, Kelurahan Sumbang.
Mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga besar. Bonsai-bonsai tersebut terlihat subur dengan nilai keindahan melekat dalam setiap pohonnya. Totok Sujatmiko atau kerap disapa Mukidi tersebut antusias menunjukkan koleksi bonsainya.
Menyusuri deret demi deret lapak bonsai dengan membawa gunting di tangannya. Ia tampak ahli mengunting setiap daun yang dirasa perlu dipangkas. Sembari menjelaskan perjuangannya berkecimpung di dunia bonsai dari awal hingga sekarang.
Pria bertopi tersebut menceritakan, mulai berkecimpung di dunia bonsai sejak 2005 silam. Tepatnya, ketika masih tinggal bersama mertua. Saat itu, rumah mertua dekat dengan hutan, sehingga membuatnya sering blusukan.
Kemudian, menemukan potensi dari hutan, yakni tanaman gulma yang dapat dijadikan sebagai usaha. Berbekal lima buku tentang bonsai, ia mulai belajar. Mengingat, saat itu internet masih susah.
’’Bahkan, saya bawa buku ke hutan, melihat ciri-ciri dan mencocokan tanaman yang bisa dijadikan bonsai. Mengingat, saat itu belum memiliki teman bonsai,” ujar pria 46 tahun tersebut.
Belajar secara otodidak berbekal buku tidak menyurutkan semangat Mukidi. Semangat tersebut semakin membesar setelah mengikuti kontes bonsai Nasional pada 2017 lalu. Terlebih, saat itu ia memiliki kenalan dan berteman dengan banyak pembonsai lain.
Guru SMKN 2 Bojonegoro tersebut mengatakan, menanam dan merawat bonsai tergolong mudah dan hemat. Tidak membutuhkan banyak biaya, hanya perlu dua hal penting dan harus dilakukan. Yakni, ilmu dan waktu. Pembonsai harus tahu ilmunya dan sabar.
Mengingat, membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 5 tahun untuk menjadikan bonsai menjadi indah dilihat. Dia berharap, masyarakat Bojonegoro bisa tergerak untuk memanfaatkan gulma yang sering dibuang menjadi bernilai rupiah. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana