BOJONEGORO, Radar Bojonegoro –Melon seukuran bola basket tampak bergelantungan di tiang penyangga di lahan pertanian Desa Balenrejo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.
Melon berbagai jenis itu menggoda indra perasa, tak betah ingin segera menyantapnya. Buahnya berjajar dari selatan ke utara. Satu per satu pengunjung mulai memasuki dan memenuhi area kebun melon.
Mulai dari pintu masuk timur hingga menyebar ke selatan, utara, bahkan barat. Pengunjung mulai melihat sekitar seraya mempertimbangkan melon mana yang siap dipetik dan dibawa pulang.
‘’Pengunjung tidak hanya warga sekitar. Banyak juga dari luar desa,” ujar petani melon di Desa Balenrejo, Kecamatan Balen Dewi Riana Sabtu (30/9).
Perempuan akrab disapa Ririn itu menceritakan, kebun melon dibuka untuk umum. Tidak ada tiket masuk alias gratis.
Pengunjung hanya diperkenankan membayar jika membeli. Harga dibanderol mulai Rp 11.500 hingga rp 15.000 per kilogram, sesuai jenisnya.
Perempuan kelahiran 1986 itu menanam tiga jenis melon di kebunnya. Dari golden alisha, action, hingga viamanda. Cita rasa setiap jenis pun berbeda.
Melon action dan viamanda cenderung manis dan bertekstur empuk. Warnanya hijau kekuningan. Sedangkan, golden alisha berwarna kuning, manis, dan bertekstur kering kriuk. ‘’Namun, karena masa panen tidak lama. Kami hanya membuka tiga hari dari 30 September sampai 2 Oktober,” jelas ibu dua anak itu.
Mulai tanam hingga panen, kata Ririn, sekitar 67 hingga 70 hari. Penyanggan ketika melon mulai berbuah, umur tanaman sekitar 30 hari. Melon tidak membutuhkan banyak air atau penyiraman. Sehingga cocok ditanam di musim kemarau.
‘’Yang dikhawatirkan hama dari tanaman lain di sekitar,” ungkapnya.
Dia mengatakan, memiliki rencana membangun green house untuk melon golden tahun depan. Agar pertumbuhan buahnya maksimal.
‘’Karena kalau langsung di lahan terbuka seperti ini khusus golden kurang maksimal (pertumbuhannya),” tambahnya. (yna/msu)
Editor : Eka Fitria Mellinia