Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

10 November, Oleh: Mukarromatun Nisa

Hakam Alghivari • Minggu, 26 November 2023 | 18:54 WIB

 

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

Mataku sulit terpejam, Bapak. Ada film yang diputar dengan sangat epik. Aku melihat kopi-kopi tumbuh tinggi di dataran rendah belakang rumah kita. Embun-embun terjun dari daunnya yang basah. Tanah menjadi lebih wangi sebab hujan semalam. Angin juga lebih sejuk menusuk tulang-tulang. Pagi hari di layar lebar itu teramat damai, Bapak.

Aku memasukkan selembar foto 3x4 ke dalam saku. Air sungai di bawah semakin cantik melukis purnama. Gunung Arjuna tiba-tiba menyinggahi mata, di puncak itu, aku selalu bermimpi mendirikan tenda bersama Bapak. Menikmati udara pagi di antara tanaman kopi yang tumbuh rindang.

Sudah setengah buku kulahap, kelopak mataku masih enggan mengatup. Ia memilih terbuka lebar seperti daun teratai. Pandanganku justru menziarahi langit tanpa jeda. Mengagumi air sungai tanpa henti. Memimpikan hadir Bapak di sini.

Aku mengambil pulpen dan buku, duduk kembali di dekat jendela. Melihat bulan setengah tertutup awan. Aku menulis mimpi-mimpi bersama Bapak, dengan harap mereka akan lahir menjadi anak-anak kalimat yang menggemaskan.

Aku ambil cuti seperti memetik pagi agar bisa menikmati suasana musim hujan di rumah ini, rumah impianku dan Bapak. Bangunan minimalis serba kayu jati dengan banyak jendela. Di bawahnya air mengalir persis puisi Bapak yang tak pernah kering. Di halaman belakang, aneka sayur tumbuh subur yang dikelilingi syair-syair Bunga dan Tembok yang merekah dari bibir Wiji Tukul.

"Kau harus tetap menulis, Ra."

"Anak-anak kalimat itu akan abadi, yang terlahir dari rahim fonem yang sepi."

"Anak yang mampu menembus ribuan kepala dari ruang yang berbeda dalam satu waktu."

Aku yakin Bapak sangat bahagia melihat tulisan-tulisanku menembus banyak jantung media. Kasus terbunuhnya pelacur SMA di kost bebas menjadi yang paling panas. Aku berhasil menemukan data pelanggan terakhir yang dilayaninya, seorang bupati beristri dua.

Aku tidak akan menceritakan bagaimana jungkir-balikku mengungkap kebangsatan itu. Karena cerita ini bukan tentang bajingan-bajingan yang kuhadapi. Cerita ini tentang rinduku pada Bapak.

Dingin yang menusuk-nusuk tidak mempan menidurkan mataku yang ngeyel ingin terus begadang. Maka jemariku terus berlari meninggalkan jejak-jejak hitam seperti semut berbaris panjang. Jejak-jejak itu sedikit terhapus oleh gerimis yang turun dari mata. Sialan.

Aku mengusap kasar pipi yang terlanjur basah. Bapak selalu menciumiku ketika menangis. Memelukku erat seperti tak ada hari esok untuk berpisah.

"Bapak, Ra kangen."

Setiap hari, setiap pagi, bahkan usai bekerja, aku selalu mengucapkan kalimat itu. Berharap Bapak tiba-tiba datang dan memelukku. Menciumiku sampai aku tenggelam di dadanya yang laut.

Keparat memang, Bapak tidak kunjung datang. Orang-orang hilir-mudik bertamu, dan aku harus pura-pura menjamu.

Aku mengembuskan napas panjang. Bulan sudah tidak lagi tertutup awan. Perempuan-perempuan telanjang kaki menari-nari di langit malam. Para pemburu melesatkan peluru masing-masing dan perempuan-perempuan itu tergeletak menampakkan dadanya yang menjulang tinggi.

Para lelaki itu, menyutubuhi mayat-mayat perempuan yang dibunuhnya dan menikmati setiap inci ruang-ruang yang memompa birahi.

Aku terbahak-bahak menyaksikan adegan konyol itu. Lelaki bodoh. Bangsat, keparat, anjing!

"Cuih!"

Malam itu, untuk pertama kalinya Bapak membawaku pada tempat di mana lampu warna-warni berkedip-kedip dengan sound yang begitu keras. Bau parfum bercampur dengan bir menyeruak seketika. Orang-orang tumpah-ruah di dalamnya. Banyak teriakan saling mengumpat takdir. Sementara perempuan-perempuan itu mengadu nasib.

Aku duduk di samping Bapak pada kursi yang agak jauh dari kerumunan. Di meja kami ada dua botol bir, potongan semangka, jeruk, melon dan anggur.

"Ada jalan seperti ini, Nak. Dengan resiko-resiko seperti itu. Bapak hanya memberi tahu, dan Bapak membebaskan Ra akan memilih jalan yang mana," kata Bapak mengelus kepalaku.

Disuapinya aku sepotong semangka merah merona seperti bibir perempuan yang menawarkan anaknya.

"Bapak tahu apa yang paling Ra suka?" tanyaku menyuapi Bapak sepotong melon.

"Hemmm?"

"Ra sangat suka cara Bapak mengajak melihat dunia. Membuat Ra belajar dan berani mengambil jalan secara mandiri. Ra sayang banget sama Bapak." Aku mengecup pipi kiri Bapak, parfum kopi tak pernah pergi dari tubuhnya yang hampir pagi.

Dikecupnya keningku lama, lalu Bapak berkata, "Bapak lebih sayang Ra."

"Perempuan-perempuan itu hanya pura-pura menikmati, Ra. Sebisa mungkin mereka menjamu tamunya dengan baik. Hatinya, Ra, hancur." Bapak menatap kosong lautan manusia yang makin riuh.

Inilah cara Bapak. Bapak tidak pernah melarangku. Bapak memberikan kebebasan untukku memilih. Bapak selalu mengajakku ke banyak tempat. Memberitahuku banyak jalan dengan masing-masing resikonya. Bapak membiarkanku memilih jalan sendiri.

Di pagi harinya, Bapak membawaku ke terminal kota. Cekungan-cekungan paving penuh kubangan air. Kami melihat kehidupan berjalan dari sudut pandang lain.

Aku selalu benci menangis tiap kali mengenang Bapak. Air mata itu seenaknya luruh tanpa permisi. Kampret.

"Ra kangen, Bapak."

Hari hampir pagi, pukul tiga. Kalenderku sudah berubah menjadi 10 November. Aku ingat di tanggal ini, cerpenku tentang pahlawan ditolak mentah oleh guru Bahasa Indonesia dengan alasan, anak sekolah tidak boleh menulis SARA. Padahal aku menulis sesuai fakta dan riset yang telah kulakukan bersama Bapak. Di ceritaku, juga tidak ada adegan yang menjurus ke ranjang. Mungkin sebab menggunakan tokoh pelacur, ceritaku dilarang.

"Ndak papa, Nak. Ra hebat sudah bisa menulis. Kita kirimkan ke media ya. Pasti diterima," kata Bapak menenangkanku.

Aku iya-iya saja. Rasanya cukup ganjil menerima penolakan hanya karena tokoh pahlawanku seorang pelacur. Aneh bukan? Padahal Tante Re, perempuan berbibir tebal yang kerap dipanggil mami memiliki hati semurni embun pagi.

Ia selalu mengecup pipiku ketika bertemu. Bahkan aku sering diberi buku-buku yang ia bawa dari rumah. Sesekali, ia bercerita tentang buku yang sudah dibaca.

Bapak dan aku sering mengunjungi rumah Tante Re yang penuh dengan buku-buku. Ketika itu, hujan turun di sore hari. Tante Re mengelus kepalaku yang bersandar di pahanya. Ia bersedia menceritakan kisah dan mimpinya untuk bahan menulis cerpenku tentang pahlawan yang ditolak itu.

Namanya Rembulan. Orang-orang memanggilnya Re. Ia tumbuh dari kasih sayang alam yang tidak berhenti memberi kehidupan.

Re sepuluh tahun sering mengintip toko buku dekat alun-alun tempatnya memulung. Kepalanya penuh mimpi ia tidur bersama banyak buku. Saat bangun, ia bebas membaca buku apapun yang dimau.

Rambutnya yang ombak laut dengan kulit cukup bersih sebagai anak jalanan, bibir tebal dan merah ranum, serta mata bulan dengan hidung minimalis, membuat ia terlihat lebih manis.

Hujan memang sering menumpahkan kenangan. Ketika itu kota basah oleh hujan. Ia berteduh di halte bus bersama seorang perempuan. Perempuan itu berbusana serba hitam. Seperti seseorang yang baru saja berkabung.

"Kau mau hidup seperti apa?"

Itu adalah pertanyaan pertama yang membawa banyak jawaban di hidup Re lima tahun kemudian. Bagi Re, perempuan yang suka warna hitam itu adalah pahlawan. Pahlawan yang senantiasa berkabung, menangisi hidupnya sendiri yang kata banyak orang lebih dari hancur. Padahal mata Re melihat orang yang dipanggil mami itu seperti malaikat. Ia tidak pernah menikmati hasil kerjanya. Justru Re yang berbahagia dibelikan banyak buku, diberikan pendidikan yang lebih dari layak dan kehidupan yang jauh menentramkan.

Sayang, perempuan itu terus menyesali pilihan Re yang ingin mengikuti jejaknya. Padahal Re sangat siap menerima segala resiko sebagai perempuan malam. Sampailah Re pada gundukan tanah merah milik maminya. Sejak saat itu, ia selalu memakai baju hitam persis busana yang dikenakan maminya.

Re di usia kepala tiga, tetap terlihat ayu dan menenangkan. Satu kali pun ia tidak pernah mengambil laba dari anak-anaknya. Justru ia merancang mimpi besar bersama mereka. Seminggu sekali, mereka akan bertemu dan menyisakan beberapa lembar hasil kerja untuk dijadikan modal usaha. Mereka sama-sama membangun mimpi untuk melepas gelar wanita panggilan.

"Tes."

Kurasakan sesuatu membasahi keningku. Air mata Tante Re terjun bebas dan membuat suaranya menjadi serak.

"Oh, maaf, aku selalu menangis jika mengingat kisah itu."

Aku memeluk Tante Re lama. Berharap, ia mampu tenang seperti aku yang langsung merasa damai ketika Bapak memelukku.

"Dan kami berhasil mewujudkan mimpi-mimpi itu. Membangun sekolah Bulan untuk anak-anak jalanan, mendirikan perpustakaan gratis, dan membuat Rumah Pintar untuk disabilitas."Aku masih terus memeluk Tante Re.

Bukankah Tante Re pahlawan? Atau mungkin lebih dari pahlawan? Aneh bukan jika cerita Tante Re ditolak guru Bahasa Indonesiaku hanya karena ia seorang pelacur?

Banyak sekali adegan yang diputar kepalaku. Padahal ukurannya hanya sebatok kelapa. Kisah sebanyak itu diputar dalam kurun waktu tidak ada semalam.

Aku memaksa agar mataku terpejam. Bagaimanapun nanti malam aku harus kembali bekerja.

Hujan kembali deras meninabobokkan rembulan. Aku berjalan pelan berlindung payung menuju Hotel Bintang. Menurut pesan yang dikirim jam lima sore tadi, seseorang sudah memesankan kamar di lantai 3 nomor 305.

Aku melipat payung dan segera menuju lift menekan angka tiga. Sampai di pintu paling pojok, aku mengembuskan napas kasar. Suara Bapak memenuhi telinga.

"Kau harus tetap menulis, Ra."

Tiap kali aku akan bekerja, suara Bapak selalu menggema. Tanpa absen satu kali pun. Dengan spontan, aku pasti menjawab, "Ra akan terus menulis, Bapak. Ra kangen." Kubuka gagang pintu dan kulepas dress army yang menyisakan bra dan celana dalam.

Lelaki itu menyambutku. Wajahnya bersih putih dengan hidung tinggi dan rambut yang memenuhi rahang serta dagu.

"Bajingan! Suaminya Marta," umpatku dalam hati.

Ke mana jubah dan peci putih yang selalu ia kenakan? Bahkan Marta tidak boleh lagi mengupload fotonya di sosial media. Sedangkan dia? Memesan pelacur? Keparat!

Aku tetap mencoba seprofesional mungkin meski sebenarnya ingin menusuk lelaki ini dengan pisau dari Bapak yang selalu kubawa ke mana saja. Benar-benar anjing. Bajingan ini terus merem-melek dengan pujian yang tak pernah diam.

“Sedikit lagi, Sayang, ayo terus.”

Desahannya mengundang wajah Marta di kepala. Bayangan aktivis perempuan yang lahir dari dua manusia asal Malang dan Yogyakarta itu berhasil merusak kenikmatan suaminya saat bersamaku. Aku spontan melepaskan penis bajingan itu lalu dengan cepat memakai baju.

“Maksudnya apa? Kita belum selesai, Sayang.” Alisnya hampir menyatu dan dahinya mengkerut.

“Maaf, aku tidak bisa meneruskan ini. Permisi.”

Aku langsung keluar tanpa mengindahkan panggilannya.

“Hei, maksudnya apa? Woi! Pelacur bajingan!”

Aku mengembuskan napas kasar dan merasa sangat bersalah pada Marta. Ia aktivis perempuan yang bekerja pada lembaga sosial yang fokus pada trafficking dan pembelaan hak-hak perempuan khususnya pekerja seks komersial di bawah umur. Bahkan ketika artikelku tentang intelelektual palsu yang hanya menjadikan data pelacuran di bawah umur sebagai obyek penelitian skripsi tanpa ada pembelaan dimuat di koran, ia tidak berhenti mengucap terima kasih dan terus mengumpat oknum-oknum yang bersangkutan.

Antonio Gramsci menampar isi kepalaku tentang gagasan intelektual organik yang selalu berdiri sebagai garda depan untuk sebuah keadilan tatanan sosial, kesejahteraan secara ekonomi, partisipatip secara budaya yang berbasis kebudayaan ekologis, selebihnya adalah intelektual tradisional yang berjibaku pada teori-teori belaka dan pelacur intelektual.

Aku berjalan gamang keluar hotel. Di depan sudah ada grab yang menunggu. Tidak biasanya aku menerima job dua kali dalam semalam. Kali ini, seperti membuka perban di luka yang masih belum kering, aku menuju Hotel Nirwana dengan hati tidak karuan.

Lima tahun lalu di hotel ini, aku melihat Bapak untuk terakhir kalinya. Bapak yang tidak pernah menangis, malam itu tumbang di dadaku. Ia sesenggukan dan berkali-kali meminta maaf. Aku tidak bertanya apapun sampai Bapak menceritakannya sendiri.

Bapakku, lelaki yang selalu kusebut pahlawan, jatuh pada dekapan perempuan bernama Cahyaning Wengi. Aku tidak tahu cahaya malam apa yang membuatnya gelap dalam sunyi. Bapak harus pergi, dan ia menitipkan aku pada seorang yang kupanggil mami. Aku pun harus tinggal di malam yang teramat dingin dan mencekam.

Aku tidak pernah marah kepada Bapak, sekalipun. Aku selalu bermimpi Bapak kembali. Akan kutumpahkan air mata yang selama ini kutabung di celengan malam pada dadanya yang samudra. Aku tetap merindukan Bapak dengan sangat dalam, tidak peduli seberapa sakit luka yang kurasakan.

Aku menunggu tamuku agak lama di dekat jendela. Dari lantai lima, kerlap-kerlip lampu kota terlihat cukup cantik. Langit kosong bekas hujan. Seseorang membuka pintu kamar.

Aku berbalik. Tubuhku kaku. Mataku nanar, bulir bening mengalir perlahan. Aku tidak sanggup melangkah barang selangkah.

Laki-laki usia setengah abad itu bersimpuh mendekap kakiku. Aku akhirnya luruh, dipeluknya aku dengan air mata yang terus mengalir. Diciuminya aku tanpa henti. Berkali-kali bibirnya mengucap maaf.

"Maafkan Bapak, Ra. Maafkan Bapak."

Aku memeluknya lebih erat.

"Ra kangen banget sama Bapak. Maafkan Ra, Bapak."

"Bapak janji akan selalu menemani Ra. Kita pulang, Nak. Malam bukan rumah Ra. Malam terlalu dingin. Rumah Ra adalah pagi yang mengiringi pohon-pohon kopi tumbuh dan berkembang."

Dan, rinduku selama bertahun-tahun akhirnya berbuah. Seperti bibit kopi di lereng Gunung Arjuna, berbuah dengan megah.

Pagi itu, kami berangkat menuju Gunung Arjuna untuk mendirikan tenda dan menikmati pagi bersama pohon-pohon kopi.

 

 

Tuban, 3 November 2023

*Mukarromatun Nisa

Mahasiswi semester 3 Prodi PAI UNUGIRI yang menjadi anggota Sematta Community, Komunitas Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro, LPM Spektrum, UKM Penalaran dan Penulisan Griya Cendekia. Juga merupakan alumni Sekolah Menulis Online (SMO) Mitra Karya Kelas Cerpen periode 11.

Editor : Hakam Alghivari
#10 November #cerpen #penulis