Oleh:
Choirul Anam
Perangkat Desa Margomulyo-Balen
AKU pulang ke kampung tiga hari sebelum Ramadan. Bus tua yang kutumpangi menurunkanku di pertigaan pasar, tepat di bawah papan kayu bertuliskan Sugeng Rawuh ing Desa Tlogo. Catnya sudah pudar, tapi huruf-hurufnya masih setia berdiri, seperti orang-orang tua yang menolak tumbang meski digerus musim. Di sanalah dulu aku sering menunggu bapak menjemput dengan sepeda ontelnya. Ia selalu datang dari arah sawah, bajunya bau keringat dan matahari.
Sekarang, bapak tidak pernah datang lagi.
Aku menuruni bus dengan ransel di punggung dan kepala penuh kenangan. Udara kampung langsung menyergap: bau tanah basah, asap kayu bakar, aroma gula merah yang direbus, dan wangi daun pisang yang dipanasi. Di kota, wangi-wangi itu tidak ada. Yang ada hanya bensin, kopi sachet, dan AC yang dinginnya buatan.
“Iki wis ruwahan, Le!” seru Bu Marni dari depan rumahnya.
Ia berdiri sambil mengaduk adonan apem di baskom besar.
“Kok saiki anyar mulih?”
“Kerjaan, Bu,” jawabku singkat.
Bu Marni tertawa kecil. “Kerjaan kowe kok podo wae, mesthi nyita wektu nganti lali dalan bali.”
Aku tersenyum kecut. Ia tidak salah. Kota mengajarkanku banyak hal, kecuali cara pulang tanpa merasa asing.
Langkahku melambat ketika melewati sawah di belakang pasar. Di situ dulu aku sering membantu bapak mencabut gulma. Tanganku perih, kakiku belepotan lumpur. Tapi bapak selalu berkata, “Lemah iku guru sing jujur. Kowe nandur opo, yo ngundhuh kuwi.”
Waktu itu aku tak mengerti. Sekarang, aku mulai paham: aku menanam pergi dengan amarah, dan memanen pulang dengan penyesalan.
Di rumah, ibu sedang menata tampah. Rambutnya sudah sepenuhnya putih, tapi tangannya tetap cekatan. Apem putih dan cokelat disusunnya rapi, di sebelah kolak pisang, ketan, dan bubur sumsum. Semua tampak sederhana, tapi penuh makna.
“Kamu ingat apem ini?” tanyanya.
“Ingatan pertamaku soal apem itu: panas dan selalu bikin lidah terbakar,” kataku.
Ibu terkekeh. “Dulu kamu rakus.”
“Aku masih rakus, Bu. Tapi sekarang rakus waktu dan uang.”
Ibu berhenti sejenak, lalu berkata pelan, “Ruwahan itu bukan soal banyaknya makanan. Tapi soal ingat.”
Aku menatapnya. Kalimat itu seperti mengetuk-ngetuk dadaku.
Sore menjelang, aku masuk ke kamar lama. Dindingnya masih penuh tempelan jadwal sekolah, foto wisuda SMA, dan satu poster universitas di kota—poster yang dulu memicu pertengkaran besar antara aku dan bapak.
Hari itu bapak berkata, “Kowe pengin lunga, silakan. Tapi ojo lunga karo nesu.”
Aku menjawab keras, “Bapak nggak pernah ngerti aku!”
Dan aku pergi. Tanpa pamit baik-baik. Tanpa menoleh.
Malam harinya, kampung mengadakan megengan di langgar kecil dekat sawah. Aku ikut ibu. Lampu bohlam menggantung rendah. Tikar pandan digelar. Orang-orang datang membawa rantang dan doa yang diam-diam disimpan di dada. Tak ada pengeras suara besar. Yang ada hanya suara manusia, dan keheningan yang bersahabat.
Pak Modin memimpin tahlil. Suaranya bergetar, tapi mantap. Aku membaca lirih, mencoba menyusul irama. Di sela-sela bacaan, wajah bapak muncul. Bapak yang selalu duduk di barisan depan. Sarungnya cokelat, pecinya agak miring, dan ia selalu menepuk bahuku setiap selesai doa.
“Le, doa itu bukan cuma ke langit. Tapi juga ke dalam diri,” katanya dulu.
Tiba-tiba dadaku sesak. Aku merasa seperti orang yang datang terlambat ke sebuah pertemuan penting—pertemuan dengan masa lalu yang belum selesai.
Setelah doa, makanan dibagikan. Aku menerima besek dari Pak Lurah.
“Apem iki saka tembung afwun,” katanya. “Ngapurani sadurunge ngapura.”
Aku mengangguk. Kata maaf di kampung jarang diucap keras-keras. Ia hadir lewat apem, lewat jabat tangan, lewat senyum yang tidak banyak bicara.
Di rumah, ibu menyeduh teh panas. Uapnya naik perlahan, seperti kenangan.
“Kamu ingat bapakmu?” tanyanya.
Aku terdiam.
“Dulu bapakmu selalu bilang: sebelum puasa, kita harus menahan ego dulu. Bukan cuma menahan lapar.”
Aku menatap cangkir. Uap itu menghilang.
“Bu,” kataku pelan, “aku menyesal.”
“Kenapa?”
“Karena dulu aku pergi ke kota dengan marah pada bapak.”
Ibu menoleh. Matanya berkaca.
“Waktu itu aku merasa bapak tidak mendukung mimpiku. Aku ingin kuliah di kota, kerja di kantor besar. Tapi bapak bilang: pulanglah jadi manusia dulu.”
Ibu menghela napas panjang. “Bapakmu bukan melarangmu pergi, Le. Ia cuma takut kamu lupa pulang.”
Aku menunduk. Kalimat itu menampar halus, tapi tepat.
Esoknya, kami ke makam bapak. Kuburannya di pinggir, dekat pohon sawo. Aku membersihkan rumput. Ibu menabur bunga.
“Pak,” gumamku, “aku pulang.”
Angin menggerakkan daun sawo.
Dalam diam itu, aku seperti mendengar suara bapak:
“Pergilah sejauh apa pun, Le. Tapi jangan kehilangan arah.”
Aku menutup mata. Air mata jatuh tanpa suara.
Siang itu, kampung makin ramai. Anak-anak membantu mengantar besek. Motor mondar-mandir. Tapi yang paling terasa bukan keramaiannya—melainkan kedekatannya. Di kota, aku punya banyak teman, tapi jarang bertemu. Di kampung, aku jarang tinggal, tapi semua orang menyapaku seolah aku tidak pernah pergi.
Sore hari, aku duduk di teras rumah.
“Bu,” kataku, “kenapa ruwahan ini rasanya beda?”
Ibu tersenyum. “Karena ini bukan soal tradisi. Ini soal pulang.”
Malam terakhir sebelum aku kembali ke kota, kami mengadakan megengan kecil di rumah. Beberapa tetangga datang. Kami doa bersama. Ibu memimpin bacaan.
Di tengah doa, dadaku terasa penuh. Bukan sedih, tapi seperti ruang yang akhirnya diisi kembali.
Setelah selesai, aku menghampiri ibu.
“Bu… aku minta maaf.”
“Kenapa tiba-tiba?”
“Karena selama ini aku jarang pulang. Jarang menelepon. Jarang bertanya kabar.”
Ibu menepuk pundakku. “Megengan itu memang soal menahan diri. Tapi juga soal membuka hati.”
Keesokan paginya, aku kembali ke kota. Tapi aku membawa sesuatu yang tidak bisa dimasukkan koper: rasa tenang.
Di bus, aku membuka besek terakhir dari ibu. Ada apem dan secarik kertas kecil.
Isinya tulisan tangan ibu:
“Sebelum puasa, menahan diri.
Sebelum jauh, ingat pulang.
Sebelum lupa, belajar memaafkan.”
Aku menutup mata.
Di luar jendela, sawah-sawah kampung menghilang satu per satu. Tapi ruwahan tinggal di dadaku. Bukan sebagai tradisi. Melainkan sebagai napas.
Napas yang mengajarkanku:
Sebelum menahan lapar, tahanlah ego.
Sebelum mencari Tuhan, temui manusia.
Dan sebelum menjadi siapa pun, jadilah anak yang tahu jalan pulang. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana