Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Permainan Tradisional Makin Tenggelam di Tengah Gempuran Teknologi

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 16 September 2025 | 18:09 WIB

Gobak Sodor.
Gobak Sodor.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perkembangan teknologi yang semakin pesat membawa dampak besar terhadap pola bermain anak-anak di Indonesia.

Salah satu fenomena yang kian terasa adalah semakin terpinggirkannya permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian penting dari masa kecil generasi sebelumnya.

Jika dahulu sore hari identik dengan riuh tawa anak-anak yang berlarian di lapangan atau halaman rumah sambil memainkan gobak sodor, engklek, congklak, petak umpet, hingga bentengan, kini pemandangan itu semakin jarang ditemui.

Baca Juga: Mengenal Kembali Temu Ireng: Rempah Tradisional Dengan Segudang Khasiat yang Mulai Terlupakan 

Sebagai gantinya, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, baik untuk bermain game digital, menonton video, maupun berselancar di media sosial.

Fenomena ini tampak jelas di berbagai wilayah, baik di lingkungan perkotaan maupun perdesaan.

Hampir setiap sudut perumahan kini lebih didominasi suasana sepi, berbeda dengan masa lalu ketika anak-anak memenuhi jalanan untuk bermain bersama.

Pilihan bermain menggunakan gawai dinilai lebih praktis, menarik, dan tidak membutuhkan teman bermain secara langsung.

Baca Juga: Anang Ma'ruf, Barista Asal Desa/Kecamatan Purwosari: Sajikan Kopi Ledre, Usung Konsep Jajanan Tradisional

Hal ini membuat interaksi tatap muka dan kebersamaan dalam permainan kelompok semakin menurun.

Permainan Tradisional Bukan Sekadar Hiburan, tapi Pembelajaran

Padahal, permainan tradisional bukan hanya sekadar sarana hiburan, tetapi juga media pembelajaran yang menyimpan banyak nilai positif.

Melalui permainan seperti gobak sodor, anak-anak dapat belajar kerja sama dan strategi. Sementara, congklak melatih ketelitian serta berhitung, dan engklek mengasah keseimbangan serta ketangkasan fisik.

Lebih dari itu, permainan tradisional turut memperkuat hubungan sosial karena menuntut interaksi langsung antarsesama.

Baca Juga: Manfaat Cincau untuk Kesehatan: Minuman Tradisional yang Kaya Khasiat

Berkurangnya minat anak-anak terhadap permainan tradisional bisa berakibat pada hilangnya salah satu warisan budaya bangsa.

Permainan tersebut tidak hanya bernilai rekreatif, tetapi juga mencerminkan identitas budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Butuh Pelestarian Permainan Tradisional

Jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya upaya pelestarian, dikhawatirkan permainan tradisional hanya akan dikenang sebagai bagian dari sejarah yang tidak lagi hidup dalam keseharian masyarakat.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan dan keluarga. Upaya pengenalan kembali permainan tradisional sejak dini dinilai sangat penting agar anak-anak tidak terputus dari akar budayanya.

Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Bandrek, Minuman Hangat Tradisional Teman Malam Tanah Sunda

Selain itu, diperlukan juga peran komunitas dan pemerintah daerah untuk mengadakan kegiatan atau festival permainan tradisional agar generasi muda dapat kembali merasakan keseruannya secara langsung.

Tanpa kesadaran kolektif, permainan tradisional terancam hilang ditelan zaman. Generasi mendatang mungkin hanya akan mengetahui nama-nama seperti gobak sodor, congklak, atau petak umpet lewat buku dan cerita, tanpa pernah merasakan pengalaman nyata memainkannya. (lul)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#kemajuan #teknologi #petak umpet #congklak #gobak sodor #bentengan #engklek