RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Nyala obor mengiringi arak-arakan Kirab Cemani di Pendapa Pengayoman Samin Surosentiko. Rabu petang lalu (2/7). Sedulur sikep dari berbagai daerah itu melampah (berjalan) menyusuri jalan Desa Plosokediren, Kecamatan Randublatung.
Kirab yang dipandu cucuk lampah, pangombyong itu berjalan beriringan. Tanpa alas kaki, mereka berjalan ritmis dengan mengumandangkan alunan tembang-tembang khas sedulur sikep, dari jalan berpaving, pematang sawah, hingga tujuan akhir di punden Mbah Samin.
Legam hitam ayam cemani yang digotong berpadu dengan pakaian serba hitam yang dikenakan para sedulur sikep. Obor yang terus menyala itu sebagai pemandu jalan di tengah malam. Ayam cemani menurut masyarakat sedulur sikep melambangkan pakaian Mbah Samin dan anak cucunya yang serba hitam.
’’Hitam itu adalah kelanggengan (keabadian), dalam konsistensi mempertahankan tatanan sedulur sikep dan ajaran-ajaran Mbah Samin bisa diteruskan,” ujar salah satu tokoh Sedulur Sikep, Gunretno.
Gunretno mengatakan, agenda tersebut dilakukan untuk meneruskan apa yang sudah pernah dilakukan Mbah Samin Surosentiko. Sebab, pada setiap malam Suro selalu melakukan tirakat (puasa). Berjalan dari titik-titik tempat yang dituju untuk menyatu dengan bumi.
’’Memilih warna hitam itu jadi kebanggaan, ada banyak makna yang medalam,” katanya. Setelah kirab cemani sampai di punden, selain membedah filosofi ayam cemani, Gunretno juga menyampaikan ‘Cikal Bakal e Bocah’ proses tentang kehidupan.
Bagainana awal manusia, ketika ingin mencapai kelanggenagan harus kembali keasal atau titik awal. Sebab, muasal manusia itu bersih, tidak ada noda. Hawa nafsulah yang membuat manusia ternoda.
’’Orang bermula dari mana akhirnya kemana, intinya adalah harus menghormati bumi yang dipijak ini,” ungkapnya. Kirab cemani yang dilaksanakan para sedulur sikep itu dikahiri dengan pelepasan ayam cemani yang sudah dikirab hingga punden.
Para sedulur sikep kemudian kembali ke pendapa pengayoman untuk proses selanjutnya yakni brokohan dan menonoton pagelaran wayang semalam suntuk. (luk/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko