Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Kabut Di Haramain

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 25 Mei 2025 | 00:30 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Nono Warnono
Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)

 

Dari menara Makkah Royal Clock Tower yang menyatu dengan komplek tujuh hotel Abraj Al Bait. Di depan pintu masuk Masjidil Haram. Mohammad Syamsudin mencoba melihat lewat cendela lantai 33 hotel Zamzam untuk menyaksikan suasana di sekitar masjid yang sakral. Tempat berziarah nan fenomenal. Dia melongok atas bangunan Ka'bah, kiblat umat Islam sedunia. Bangunan historis yang dikonstruksi oleh nabi Ibrahim bersama anaknya Ismail.


DARI bangunan pencakar langit hotel Zamzam. Di menara dengan ketinggian 601 meter tersebut, pandangannya menerawang jauh. Melintasi pikiran. Atas peristiwa sepuluh tahun silam yang menoreh trauma. Almarhumah istri pertamanya, Lailatul Nikmah meninggal sewaktu perjalanan Armina, Arofah Muzdalifah Mina. Pascatawaf mengitari Ka'bah, dan rangkaian ibadah haji lainnya. Seolah peristiwa nan menjelaga jiwa tersebut baru terjadi di hari kemarin.

Lewat Zamzam Tower atau menara jam tersebut, dia mencoba sekali lagi untuk menghapus kenangan gulita. Dengan menghela napas panjang berkali-kali. Namun acap tetap tak kuasa melempar bayangan itu hingga jauh. Bayangan yang setiap kali datang menjadikan hidupnya tak tenang. Bayangan menyedihkan nan tak kuasa dikubur dalam-dalam. Bahkan kata-kata almarhumah masih sering terngiang.

"Pak, alhamdulillah kita sudah sampai di kota suci yang kita impikan. Kalau melihat parahnya penyakit yang aku derita selama ini, bisa sampai di kota suci ini adalah keajaiban". curahan rasa istrinya tabah.

Sesaat setelah merampungkan shalat arbain di masjid Nabawi Madinah, berikut melanjutkan  umrah  bermiqat dari lokasi Bir Ali setelah sembilan hari. Memang sedaru dulu, rombongan kloter pertama selalu memulai dengan berziarah dan arbain dulu di Madinah.

"Iya Bu, rasanya Allah telah mengabulkan do'a-do'a kita. Di sini, kebahagiann itu tereguk tanpa dapat kita bayangkan indahnya. Anugerah yang tidak dapat kita ungkapkan dengan sekedar kata-kata." kalimat Syamsudin sembari memegangi kursi roda yang diduduki istri tercinta. Selepas mendorongnya tawaf tujuh kali putaran mengelilingi ka'bah.

Mengitari Kakbah bagi orang dengan fisik normal betapa butuh kekuatan lebih, karena harus berdesakan dengan ribuan jamaah. Bahkan puluhan ribu umat Islam yang datang dari berbagai penjuru dunia. Betapa beratnya bertawaf bagi orang yang sedang menderita sakit. Orang yang sedang mengalami kelumpuhan kaki, juga berbagai keluhan penyakit lain yang terus menggerogoti tubuhnya.

Pascatawaf dan shalat dua rakaat di sebelah Makam Ibrahim, meneruskan prosesi seanjutnya. Sejurus loksi sa’i di sebelah timur Kakbah.  Menunaikan lari sa’i dengan berbagai cara yang bisa dilakukan secara darurat.

"Pak?!" tiba-tiba suara istrinya memanggil dengan lirih. Sambil mendongak memandang wajah penuh makna.

"Ada apa, Bu?!" respon Syamsudin ketika kursi roda yang didorong, sudah mendekat area Shafa. Posisi demi memulai prosesi sa’i setiap jamaah. Berhenti sejenak sambil mengamati suasana yang begitu padat. Saling bedesakan baik arah menuju Shafa atau yang berbalik menuju Marwa.

"Semoga Allah memanggilku di kota suci ini," Syamsudin kaget seketika. Namun dia berusaha mengabaikan kalimat aneh tersebut. Tidak merespon dengan kata-kata maupun gerakan tubuh. Memilih lekas mendorong kursi roda yang erat dipegangnya sejak semula. Memulai niat sa'i berlari kecil dari tujuh putaran bolak-balik Shafa-Marwa. Meski istrinya dengan memakai kursi roda, akhirnya selesai juga menunaikan ritual yang pernah dilakukan keluarga Nabi Ibrahim.

Memang sangat berat bagi Syamsudin menjalani ritual ibadah haji di tanah suci kali ini. Tersebab harus terus mendorong kursi roda istri yang sakitnya terhitungt parah. Bahkan tiga tahun sebelum berangkat, sudah harus merawat istri diatas kursi roda karena strok. Itupun masih ditambah penyakit kanker payudara yang sudah diderita sebelum lumpuh. Kanker yang sangat kronis, dan terus menggerogoti tubuh wanita yang sangat disayanginya. Wanita yang diajak hidup laralapa, dan suka duka.

Oleh karenanya betapa pasangan suami-istri tersebut merasa banyak ujian, namun berikhtiar untuk tetap terus bersyukur. Meski dengan kondisi fisik yang sarat keterbatasan, masih bisa menjalankan rangkaian ibadah haji yang begitu berat. Wajar jika anak-anaknya di tanah air, sejak awal menyarankan, bapak-ibunya menangguhkan rencana ke Haramain. Dua tanah suci yang telah lama diidam-idamkan oleh kedunya. Sebuah tekat yang terus teguh untuk menyusuri jalan rohani, mengharap ampunan dan ridha Ilahi meski dalam kondisi ringkih.

"Rasanya aku tak bisa mengikuti kegiatan menjelang wukuf di Armina,Pak." suara Lailatul Nikmah yang terdengar pelan sambil menahan rasa sakit. Badannya lemah. Semakin sedikit sekali gerakannya.

"Semoga dengan pertolongan Allah, kita bisa menjalankan wukuf di Arafah dan lempar jumrah di Jamarat, Bu" hibur Syamsudin sambil mengelus tubuh istrinya.  Kalimat yang selalu dia ucapkan untuk menguatkan wanita di sampingnya. Meski dia sendiri,  berliput jiwa sarat jerit-tangis nan terus ditahan. Air mata yang berusaha dibendung, kadang menetes juga tanpa diketahui istrinya. Namun demikian Samsudin ikhlas menjalani semuanya dengan penuh ketaqwa.

"Pak?!" lagi-lagi panggilan itu didengar Syamsudin. Panggilan manja yang tak mampu dijawab dengan kata-kata. Namun dia sudah sangat mengerti maknanya.

"Iya,Bu. Kita sudah berada diujung prosesi haji. Semoga kita diberi kekuatan untuk menyelesaikannya," istrinya tidak merespon. Hanya menjawab dengan tangisan. Tangis sedih sekaligus bahagia. Sedih karena menjalankan ibadah haji dengan kondisi tidak sempurna, bahagia karena apapun yang terjadi masih diberi kesempatan oleh Allah mengunjungi dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Itu adalah tangis yang terakhir di maktab. Karena setelahnya Syamsudin harus mengikuti istrinya di safari wukuf karena sudah tak mampu berkata-kata lagi. Wukuf di Arafah, mabid di Muzdalihaf, hingga lempar jumrah di Jamarot Mina yang semuanya dilakukan melalui tim kesehatan yang sudah disediakan.

Luar biasa ketegaran Syamsudin yang menjalani prosesi ibadah haji,  sekaligus harus menyertai istrinya yang sakit parah. Menjalani setiap tahapan rukun dan sunah haji sebagai sebuah keniscayaan. Karena setelah kegiatan Armina, istrinya sudah tak tertolong lagi nyawanya.

Glodak!, ada salah satu cendela menutup tertiup angin. Syamsudin terjaga dari lamunannya. Bayangan yang muncul kembali tiba-tiba. Bayangan dengan almarhumah Lailatul Nikmah. Ketika istrinyanya yang sekarang, Dzurriyatina Qurrota Ayyun sedang tertidur hingga terbangun dari peraduannya.

Ditinggalkannya pemandangan di luar cendela kamar. Hamparan di atas kota Mekah. Sekeliling Masjidil Haram yang serasa penuh kabut. Sekaligus mencoba menepis bayangan masa lalu ketika berhaji. Hingga almarhumah istrinya terdahulu melaksanakan ibadah haji pula.Samsudin tetiba mendekati istrinya yang sudah sempurna terbangun dari peraduan. Merapatkan duduknya agar enak berbincang.

"Pak, kenapa selama menjalani umrah ini panjenengan tidak begitu gembira?!" tanya istrinya Ayyun yang tak segera dijawab. Karena kalau perasaan dalam dadanya diungkap, pasti akan menyakiti hati istri keduanya. Karena yang tertera dalam hati dan bayangannya adalah tentang almarhumah Lailatul Nikmah. Bayangan sosok sosok wanita yang sudah lebih dahulu menghiasi perjuangan hidup. Perjalanan rumah tangga sarat suka duka. Wanita nan telah memberinya tiga anak yang luar biasa. Telah mengukir kebahagiaan hidup dan kehidupan tiada tara.

"Iya, ya, Bu!?" jawabnya terbata. Sambil memandangi wanita di depannya dengan salah tingkah.

"Tenangkan hatimu, Pak. Ini di tanah suci. Mari jalani ibadah ini dengan hati yang khusuk. Karena tidak setiap tahun kita bisa berkunjung ke kota suci ini," ujar istrinya dijawab dengan anggukan. Tiba-tiba mulutnya seperti terkunci tak kuasa berolah kata. Dikelopak matanya bayangan wajah almarhumah Lailatul Nikmah bak bertriwikrama. Menjadi bayangan yang begitu banyak mengepung pikirannya. Cerita lama yang seolah diputar kembali.

"Ayo, segera berangkat ke masjid, Pak. Ini sudah menjelang subuh. Sebaiknya kita berdzikir atau melanjutkan sholat malam," ajak istrinya penuh harap.

Wanita yang ketika lama dipandangnya seperti almarhumah istrinya terdahulu. Cara bicaranya yang santun. Sentuhan kasih sayangnya, hingga perhatiannya tidak jauh berbeda. Meski jikalau dilihat dari segi usia, keduanya sangat jauh berbeda. Keruan saja, istri keduanya seperti seusia anak-anaknya.

Dini hari itu dia berdua begitu khusuk menghamba di depan Ka'bah. Seolah besuk tidak berjumpa lagi dengan Baitullah. Shalat malam dan berbagai dzikir diucapkannya dengan tetesan airmata. Memilih tempat bermunajat dari arah Babul Fath yang searah dengan Talang Emas, sejurus area Hijir Ismail.

Terdengar keduanya menangis sesenggukan diantara ribuan orang, yang bergemuruh dalam tawaf dan gema doa-doa. Totalitas mempasrahkan jiwa raganya, hanya semata mengharap ridha Allah SWT. Sebuah perjalanan spiritual yang sangat khusuk. Penghambaan transenden dalam kerangka mengejawantahkan hablum minallah.

Lima belas hari dari tujuhbelas hari perjalanan umrah telah dijalani. Kini Syamsudin sekalian sudah berada di Madinah. Karena sesuai randown jadwal dari biro perjalanan naungannya. Sepuluh hari di Masjidil Haram. Lima hari di Madinah. Selebihnya untuk perjalanan pergi pulang hingga sampai tanah air kembali.

Ziarah Masjid Nabawi lebih banyak dihabiskan untuk ibadah. Lokasi hotel tempat menginap berdekatan dengan masjid. Tidak lebih dari duaratus meter jaraknya. Sehingga bisa melakukan ritual ibadah sepuasnya, tanpa terkendala perjalanan dari maktab hingga masjid nabi.

Tiba-tiba dini hari itu, menyentak. Hari terakhir jadwal umrahnya, Syamsuddin dikejutkan dengan keluhan Dzurriyatina Qurrota Ayyun, istrinya. Tiba-tiba suhu badannya tinggi. Menggigil tak henti-henti hingga harus dipanggilkan petugas kesehatan hotel tempatnya menginap. Mendapat perawatan secukupnya. Setelah ditangani tim kesehatan. Didapati kondisi yang mengharuskan dibawa ke rumah sakit.

Syamsudin dalam sedih menghunjam. Untuk yang kedua kalinya dia harus merawat istri-istrinya yang sedang sakit. Di tempat yang sama. Tentu yang pertama dulu ketika ibadah haji bersama almarhumah Lailatul Nikmah. Kini yang kedua ketika menjalani ibadah umrah bersama istri keduanya, Dzurriyatina Qurrota Ayyun.

Tertunduk tanpa kata, tersebab nyawa istrinya tidak tertolong. Meninggal dunia di hari terakhir dari jadwal umrah. Tak usai hingga jadwal  seharusnya, selama tujuhbelas hari. Istri meninggal di Madinah, jiwa nyaris goyah. Tegar kembali, mengingat meninggal di tempat rasulullah dimakamkan, adalah sebuah kemuliaan..

Syamsudin tak hendak sesambat. Meski ada pergolakan batin. Tidak terbersit untuk mengeluh kepada Tuhannya. Mengapa ujian itu begitu berat?. Namun sebagai hamba yang beriman sentausa, segera menggiring kembali perasaannya berbaik sangka. Karena hidup, rizki dan jodoh adalah purbawasesa Gusti Allah nan Maha Kuasa.

Lebih dari itu, rasa tabahnya tetap kokoh menjulang karena dua orang wanita yang dicintainya. Dua wanita yang menghiasi pengembaraan jiwa. Keduanya dimakamkan di dua kota suci. Almarhumah Lailatul Nikmah di Makkah dan almarhumah Qurrota Ayyun di Madinah. Dua kota yang mulia dan sarat sejarah peradaban Islam atas kemuliaan.

Air matanya terus menetes. Lalu deras mengalir. Kematian istri keduanya yang begitu mendadak. Tanpa adanya tanda-tanda sakit sebelumnya, menjadikan Syamsudin begitu kaget. Tanpa terlintas sebelumnya. Karena selama ini kesehatan istri keduanya baik-baik saja.

Teman satu rombongan jamaah tour and travel  Nurul Jannah turut berduka. Semua memberikan ucapan bela sungkawa. Teriring usaha saling menguatkan. Hidup sesumgguhnya adalah kerelaan menerima purba-wasesa dari sang Maha Dalang.

Pemakaman usai kebetulan di hari terakhir jadwal umrah. Maka tidak lama semua harus sudah packing koper dan barang bawaan. Termasuk Syamsudin yang harus mengemasi barangnya sendiri dan barang bawaan serta koper istrinya.

Air matanya kembali mengalir ketika mengemasi barang istrinya. Sangat jelas wajah almarhumah wanita salihah itu. Lalu teringat kata-kata istrinya ketika hendak berangkat dari tanah air.

"Zakky, Nurul dan kau Aliya. Jaga diri baik-baik. Bapak ibu mau berangkat ke tanah suci. Jangan terlalu berharap ibu segera pulang." Kata-kata pamit yang diucapkan ketika meninggalkan rumah menuju bandara. Seolah terbersit sebuah firasat.

Tangis Samsudin semakin menyesak dada mengingat percakapan itu. Terlebih ketika satu demi satu barang-barang bawaan istrinya masuk kedalam koper. Dipandangi cukup lama, sambil merenung dan menyeka air mata. Dua koper yang harus dibawa serta. Tanpa istri yang selama ini membersamainya.

Dari salah satu kamar lantai tiga belas hotel Pullman Zamzam Madina, Syamsudin kembali menyibak kelambu jendela. Dipandanginya arah Masjid Nabawi. Lama dilihatnya kubah hijau yang dibawahnya ada makam Rasulullah di Roudhah. Sejauh mata memandang belantara hotel. Kota Madinah yang indah. Di jauh sana tiba-tiba nampak kabut tebal berarak. Seperti sedang meliputi hatinya yang sedang berduka. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kakbah #makkah #bir ali #masjid nabawi #Tanah Suci #cerpen #ibadah haji #madinah #kisah #umat islam #masjidil haram #Ka'bah #islam #SAI #wukuf #haji #Cerita #haramain #kursi roda #umrah #zamzam