Oleh:
SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan
Langit fajar merekah lembut, seakan mencuci gelap malam dengan cahaya yang suci. Udara pagi masih sejuk, menyelusup di antara dedaunan yang bergetar pelan diterpa angin. Di kejauhan, gema takbir menggema, mengalun syahdu seperti panggilan kasih untuk hati-hati yang ingin kembali bersih. Hari itu, dunia seolah diingatkan tentang makna sejati dari Fitri—kesucian yang kembali, hati yang terbuka tanpa beban, dan jiwa yang bersih dari luka.
Seperti embun yang membasuh dedaunan setiap pagi, Fitri hadir sebagai kesempatan untuk membersihkan diri dari segala kekhilafan. Bukan hanya sekadar mengganti pakaian dengan yang baru atau menyajikan hidangan terbaik di meja makan, tetapi lebih dari itu—Fitri adalah tentang bagaimana manusia memulihkan hatinya, menghapus dendam, dan memaafkan dengan tulus. Ia adalah titik di mana manusia menyadari bahwa perjalanan hidup adalah tentang belajar, memperbaiki, dan kembali kepada kebaikan.
Namun, kesucian bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ia harus diraih dengan usaha, dengan keikhlasan untuk mengakui kesalahan dan kerendahan hati untuk meminta maaf. Kesucian hati lahir dari keinginan untuk berbagi kebahagiaan, dari ketulusan dalam setiap jabat tangan, dan dari air mata yang jatuh dalam doa-doa penuh harap. Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang membawa seseorang kembali pada jati diri yang lebih baik.
Pagi itu, pak Mo terlihat tergesa-gesa sekali untuk melaksanakan sholat Idul Fitri di tanah lapang yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Maklumlah semalam suntuk ia mengumandangkan takbir untuk menyambut bulan kemenangan hingga menjelang Subuh, bersama orang-orang kampung. Dengan mata kantuknya, ia berjalan menuju panggilan yang membesarkan dan mensucikan nama Tuhanya itu. Saat beberapa langkah berjalan ia mendengar orang meminta tolong dari celah jendela kayu yang sudah mulai rapuh. Lamat-lamat ia mengikuti sumber suara tersebut hingga menemukan sahabatnya yang terbaring lemas di ranjang kamarnya sendirian. Lalu ia segera duduk di samping ranjang Darmaji, menggenggam tangan sahabat lamanya yang terkulai lemah. Matanya menatap iba, tetapi senyumnya tetap menghangatkan suasana. "Ji, kamu yang sabar ya.., semua ini hanya ujian? Ji, Idul Fitri itu bukan soal baju baru atau hidangan lezat di meja. Fitri itu artinya kembali suci, kembali ke hati yang bersih," ucapnya lembut.
Darmaji menarik napas pelan, matanya berkaca-kaca. "Tapi, Mo…aku ini sudah lama sakit, tak bisa berbuat banyak. Aku bahkan tak sempat berkunjung ke rumah orang-orang untuk meminta maaf. Rasanya, Lebaran kali ini tak ada artinya bagiku," katanya dengan suara lirih. Pak Mo menggeleng pelan. "Ah, Ji… memaafkan dan meminta maaf itu tak harus lewat langkah kaki. Yang terpenting adalah keikhlasan hati. Kalau hatimu sudah tulus memaafkan dan meminta maaf kepada orang-orang yang kau sakiti, itulah Fitri yang sesungguhnya," katanya, menepuk punggung tangan sahabatnya dengan lembut. Darmaji terdiam, meresapi kata-kata Pak Mo. Perlahan, bibirnya melengkungkan senyum tipis. "Kau benar, Mo. Fitri bukan tentang apa yang tampak di luar, tapi tentang hati yang bersih. Semoga di sisa waktuku, aku bisa benar-benar mencapai Fitri yang sesungguhnya," ucapnya lirih, sementara Pak Mo menggenggam tangannya semakin erat.
*
Pak Mo berdiri dengan hati yang gelisah. Ia memandangi tubuh sahabatnya itu dengan keprihatinan yang mendalam. Matanya berkaca memandangi langit-langit kamarnya yang dipenuhi sarang laba-laba. Kata-kata Darmaji tentang penyesalan dan rasa bersalah masih terngiang di kepalanya. Dalam lamunanya itu, ia mendapati dirinya berdiri di tengah ladang luas yang dipenuhi cahaya lembut.
Di hadapannya, seorang gadis berbaju putih bersih berdiri dengan senyum teduh. Wajahnya bercahaya, matanya bening seperti embun pagi. "Pak Mo?", sapa gadis itu dengan suara lembut yang menenangkan. "Aku adalah Fitri, makna suci yang sejati. Kau memanggilku dalam kegelisahan hatimu."Pak Mo menatap gadis itu dengan penuh keheranan. "Fitri? Apa kau benar-benar wujud dari kesucian itu sendiri?" tanyanya. Gadis itu mengangguk perlahan. "Kesucian sejati bukan hanya tentang merayakan hari kemenangan, tetapi tentang bagaimana manusia kembali pada dirinya yang paling murni—bebas dari dendam, kesombongan, dan penyesalan yang menyesakkan hati." Ia melangkah mendekat, menatap Pak Mo dengan kelembutan yang menusuk sanubari. Pak Mo terdiam, merenungkan kata-kata itu. "Tapi bagaimana jika seseorang merasa terlambat untuk memperbaiki semuanya? Bagaimana jika ada penyesalan yang tak sempat ditebus?" suaranya lirih, hampir seperti bisikan.
Fitri tersenyum, lalu berkata, "Tak ada kata terlambat untuk kembali. Kesucian bukan hanya soal meminta dan memberi maaf kepada orang lain, tetapi juga tentang berdamai dengan diri sendiri. Sebab, ketika hati telah bersih dari beban, di situlah Fitri yang sejati berada." Cahaya di sekelilingnya semakin terang, hingga Pak Mo tersentak dari lamunanya itu ketika mendengar suara batuk Darmaji yang tak mau berhenti. Dengan perasaan yang lebih ringan—seolah baru saja membersihkan hatinya dari segala beban yang menyesakkan. “Mo, kamu tidak jadi sholat ke tanah lapang bersama mereka?”, tanya Darmaji dengan tubuhnya yang melemah. “Sholat Idul Fitri itu hukumnya sunah, Ji. Sedangkan menolong orang yang membutuhkan pertolongan itu wajib. Kalau terjadi apa-apa dengan kamu, apa saya tidak berdosa?”, Jawabnya dengan memberikan pengertian kepada sahabat lamanya itu.”Ya sudah lah kalau begitu” dengan suara merendah,
Pagi Idul Fitri itu, Pak Mo berdiri di teras rumah Darmaji, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan pakaian terbaik mereka setelah melaksanakan sholat Id di tanah lapang. Senyum dan tawa terdengar di mana-mana, sementara tangan-tangan saling menjabat dalam tradisi maaf-memaafkan. Namun, entah mengapa, ada kegelisahan yang mengendap di hatinya. Apakah benar makna Fitri hanya sebatas ini? Hanya tentang bersalaman dan mengucapkan kata maaf, lalu kembali pada kebiasaan lama?
Saat para tetangga berdatangan, Pak Mo ikut menjabat tangan mereka. Namun, ia menyadari sesuatu—banyak dari mereka yang meminta maaf dengan kata-kata ringan, tanpa benar-benar menatap satu sama lain dengan ketulusan. Hanya gerakan tangan dan bibir yang berbicara, tetapi mata mereka kosong, seolah ritual ini hanyalah kebiasaan tahunan yang harus dijalani. Pak Mo teringat percakapannya dengan Darmaji sebelum sahabatnya jatuh sakit. "Mo, apa gunanya maaf yang diucapkan jika hati tak benar-benar bersih? Kita berjabat tangan, tapi masih menyimpan prasangka. Kita tersenyum, tapi di dalam hati masih ada dendam yang tak selesai," ucap Darmaji kala itu. Kata-kata itu kini menggema di benaknya, menambah gelisah di hatinya.
Ia melihat seorang pemuda yang dulu pernah bertengkar hebat dengan tetangganya. Hari ini, mereka saling bersalaman, namun setelahnya, wajah mereka tetap kaku. Tidak ada percakapan yang tulus, tidak ada perubahan yang nyata. Apakah ini yang disebut kembali suci? Jika Fitri benar-benar tentang penyucian diri, mengapa hanya terlihat di permukaan? Pak Mo menarik napas panjang. Ia sadar, meminta dan memberi maaf seharusnya lebih dari sekadar gestur. Itu seharusnya datang dari hati, dari keberanian untuk mengakui kesalahan, dari keinginan untuk memperbaiki hubungan, bukan hanya menggugurkan kewajiban sosial. Jika tidak, maka Idul Fitri hanya menjadi perayaan seremonial tanpa makna sejati.
Di dalam lubuk hatinya, Pak Mo berjanji. Tahun ini, ia ingin lebih dari sekadar berjabat tangan. Ia ingin berbicara dari hati ke hati, meminta maaf dengan sungguh-sungguh, dan yang terpenting—belajar untuk memaafkan dengan tulus. Karena hanya dengan itu, ia bisa benar-benar kembali ke fitrah, kembali menjadi manusia yang lebih baik. Sejak pagi itu, Pak Mo merasa ada yang berubah dalam dirinya. Kata-kata Fitri di dalam lamunan panjangnya terus terngiang, menuntunnya untuk melakukan sesuatu. Ia mulai lebih sering tersenyum kepada orang-orang di sekitarnya, menolong siapa saja yang membutuhkan, dan menebarkan kebaikan tanpa mengharap balasan. Ia menyadari bahwa Fitri bukan sekadar nama atau perayaan, tetapi wujud dari setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Senja hampir memerah ketika Pak Mo menjenguk kembali ke rumah sahabat lamanya, Darmaji. Langit di ufuk barat bagaikan kanvas raksasa yang dicat dengan guratan jingga keemasan, perlahan beralih menjadi merah saga. Cahaya temaramnya jatuh di atas atap-atap rumah, menorehkan bayangan panjang di jalanan berdebu yang mulai lengang. Sesampainya di sana, Pak Mo mendapati pintu rumah Darmaji terbuka sedikit. Cahaya sore yang redup membentuk siluet tubuh yang terbaring di atas dipan tua. Udara di dalam rumah terasa lebih sunyi dibandingkan hiruk-pikuk di luar. Pak Mo menarik napas panjang, merasakan kehangatan senja terakhir sebelum malam mengambil alih.
Kali ini, ia datang bukan hanya untuk menjenguk, tetapi juga membawa semangat baru. Dengan penuh kasih, ia membantu sahabatnya itu duduk, menyuapinya bubur, dan bercerita tentang kebahagiaan yang bisa ditemukan dalam hal-hal kecil. Darmaji yang awalnya murung, perlahan ikut tersenyum. "Terima kasih, Mo. Aku merasa lebih ringan," ucapnya dengan suara bergetar. Tak berhenti di situ, Pak Mo juga mulai mengajak anak-anak di kampung untuk berbagi cerita dan belajar bersama. Ia membimbing mereka dengan sabar, mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi tentang memberi dengan keikhlasan. Setiap tawa anak-anak itu, setiap wajah yang berbinar karena kebaikan kecil, adalah bentuk Fitri yang terus menjelma dalam kehidupannya.
Di hari Lebaran, Pak Mo berdiri memandangi orang-orang yang saling bersalaman dan berpelukan dengan wajah berseri. Ia menghela napas lega, merasa damai dalam dirinya. Fitri yang ia temui dalam lamunannya itu kini hadir dalam tiap langkahnya, dalam setiap perbuatan baik yang mengisi hari-harinya. Ia tersenyum, menatap langit biru yang begitu luas. "Fitri tak hanya datang setahun sekali," gumamnya pelan. "Ia hadir di setiap hati yang tulus, dalam setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Dan selama kita terus berbagi kebaikan, Fitri akan selalu ada bersama kita."
**
Bumi Utara, 13.03.25, 08.40
Editor : Yuan Edo Ramadhana