Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sanggar Mustika Sari, Melestarikan Seni Ketoprak di Bojonegoro: Khawatir Kesenian Ketoprak Tinggal Cerita

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 4 Februari 2025 | 18:33 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Sanggar Mustika saat tampil di salah satu acara di Kecamatan Temayang. (IST/RADAR BOJONEGORO)
LESTARIKAN BUDAYA: Sanggar Mustika saat tampil di salah satu acara di Kecamatan Temayang. (IST/RADAR BOJONEGORO)

 

Seniman ketoprak, tari, hingga karawitan di Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang yang tergabung dalam Sanggar Mustika ini berkomitmen melestarikan budaya nusantara.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


GERAKAN lentik para penari membuka pertunjukan kesenian ketroprak di Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang pada Minggu (2/2). Berpadu dengan seni drama yang tersaji apik diiringi dengan musik gamelan.

Sekitar 35 anggota dari Sanggar Mustika Sari berbagi peran masing-masing. Mulai dari pemain teater Lakon Sukmaswasti, Penari Gugur Gunung, hingga Karawitan Sekarsari Kencana Laras. Menyuguhkan pertunjukan berkesan yang disaksikan langsung Penjabat (Pj) Bupati Bojonegoro.

‘’Tanpa diundang, pertunjukan semalam juga dihadiri langsung oleh Mbah Kirun sebagai tamu istimewa,’’ ujar Ketua Sanggar Mustika Sari Seto Utoro.

Pertunjukan kesenian ketoprak ini merupakan wujud dari uri-uri budaya yang dilakukan warga setempat dari berbagai usia. Tepatnya, bermula dari anak-anak karawitan di Desa Kedungsari yang mengerjakan sebuah gending. Kemudian, dipadukan sebuah tarian. Hingga, dikembangkan lagi menjadi sebuah seni teater.

‘’Setiap RT di Desa Kedungsari sebenarnya memiliki bakat teater. Kemudian, diwadahi menjadi satu dalam sanggar Mustika Sari dan dipilih yang terbaik untuk menjadi pemain,’’ bebernya.

Menurut Seto, kesenia nketoprak saat ini hanya tinggal cerita. Apalagi di era sekarang, banyak yang tidak paham dengan bahasa ketoprak. Namun, para pemain ketoprak memodifikasi bahasa yang digunakan sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga, bisa diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat.

Meski tidak mudah melestarikan budaya di tengah modernisasi zaman. Namun, para pemain dengan semangat terus berlatih dan menampilkan yang terbaik. Dengan satu tekad dan semangat sama. Yakni, mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa.

‘’Jangan sampai kebudayaan kita diambil dan diakui oleh bangsa atau negara lain,’’ katanya.

Baca Juga: Mengenal Tim SAR Muhammadiyah Bojonegoro, Temui Kesulitan ketika Kurang Koordinasi dan Cuaca Buruk

Alumni S-1 Seni Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tersebut mengatakan, semangat nguri-nguri budaya, salah satunya karena gelar sarjana seni yang disandangnya.

Menurutnya, sebagai ksatria harus memiliki sumpah untuk menjunjung tinggi kebudayaan di daerahnya. Tekad kuat tersebut mendapat dukungan hebat dari para muda-mudi dan pemerintah desa kelahiran.

Dengan semangat yang sama untuk menghidupkan kembali budaya lokal tersebut. Ia beserta pemain lainnya rutin latihan seminggu sekali. Bahkan, ketika akan mengadakan pertunjukan, intensitas latihan ditambah menjadi dua kali dalam seminggu. Tidak peduli panas dan hujan. Tekad kuat dan semangat hebat menjadi pegangan untuk tetap jalan dan mempertahankan kesenian lokal.

‘’Tetap bangga dengan kebudayaan asli kita, karena kalau tidak, kita yang menguri-nguri, siapa lagi,’’ pungkasnya. (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#teater #Budaya #Sanggar #temayang #ISI #surakarta #gamelan #bojonegoro #budaya nusantara #gending #karawitan #tari #TA #ketoprak