Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Tabah Sampai Akhir

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 25 Januari 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
KHAIRUL A. EL MALIKY

KRIUT-KRIUT bunyi sepeda keranjang Sabari sama sekali tidak membuatnya risih. Lelaki sederhana itu tetap mengayuh sepedanya di atas jalan kampung yang berlubang karena sama sekali tidak dihiraukan oleh pemerintah. Pakaiannya yang gagah, batik dipadu dengan celana panjang hitam membuat aura wibawanya menguar dari dalam dirinya. Setiap orang kampung yang dilaluinya disapanya dengan mengulum senyum. Mereka pun menyapanya dengan mengulum senyum sambil mengangguk penuh hormat.

“Pak Guru,” sapa seorang bapak-bapak petani yang tampak memanggul pacul di pundaknya dengan wajah ramah. “Berangkat, Pak?” “Iya, Pak.” Sabari balas menegur dengan mengulum senyum. “Mau berangkat ke sawah, Pak?” “Iya. Mau menanam jagung, Pak.”

Begitulah sikap lelaki sederhana itu setiap berangkat mengajar. Dengan setia ia menunggang sepeda kumbangnya dan mengayuhnya dengan penuh semangat pejuang 45 sambil bernyanyi. Ia sama sekali tidak merasa minder apalagi tidak percaya diri meskipun setiap hari mengajar dengan sepeda kumbang. Baginya, mampu mencukupi nafkah keluarganya dan tidak mengutang pada tetangga adalah nikmat dari Allah yang patut untuk disyukuri. Sebenarnya ia mampu untuk membeli sepeda motor maupun mobil. Tetapi untuk apa? Toh istrinya mau dinikahinya bukan karena duniawi.

Selama ini Sabari hidup dalam kesederhanaan. Tidak sedikit orang yang mengatakannya miskin. Sebab mereka tidak memahami perbedaan miskin dan fakir.

Bagi Sabari, fakir dan miskin dua-duanya telah bersekongkol untuk bersama-sama membebani pemerintah. Setiap kali ada Bantuan Sosial (Bansos), orang-orang fakir dan miskin sangat senang menerimanya, baik bantuan dalam bentuk sembako maupun uang. Tetapi bagi Sabari, bantuan dari pemerintah hanya membuat rakyat malas untuk merubah nasib.

Jadi, meskipun presiden diganti sebanyak 10 kali, rakyat akan tetap begini. Sebab mereka sudah menggantungkan hidupnya pada pemerintah. Makan tidak makan apa kata pemerintah. “Pak Sabari tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah?” tanya salah seorang temannya, Pak Har, ketika mereka sudah duduk di ruangan yang sama.

“Buat apa, Pak?” Sabari balik bertanya dengan mengulum senyum. “Lha kan biasanya warga seperti Pak Sabari dapat jatah dari pemerintah?” ujar Pak Har tenang.

“Mau sampai kapan kita akan terus-terusan menjadi beban pemerintah, Pak? Mau sampai kapan kita mau diumpani sama pemerintah?”

“Sampai hidup kita sejahtera dan tidak lagi bergantung pada pemerintah.”

“Lalu, apakah selamanya kita akan tetap bergantung pada pemerintah dan tidak mau meningkatkan taraf hidup kita dengan usaha kita sendiri?”

Pak Har diam. Mereka boleh saja mengatakan Sabari lelaki bersahaja dalam penampilan, namun mereka tidak boleh meremehkan ketajaman berpikirnya.

“Di luar sana tidak sedikit pasangan muda yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Tapi mereka sama sekali tidak mau membantu program pemerintah. Setiap tahun anak mereka bertambah, sementara pendapatan mereka tidak tercukupi. Lalu, apa yang terjadi? Beban pemerintah semakin bertambah. Setiap anak mendapatkan PKH. Anehnya, mereka makin bertambah senang dan ayahnya malas bekerja,” kata Sabari dengan panjang lebar.

Ia tahu bahwa selama ini guru-guru itu meskipun sudah mendapatkan gaji dari pemerintah, namun mereka juga masih berharap mendapat bantuan dari pemerintah. Apalagi ketika datang musim kampanye, di mana para calon anggota legislatif berlomba-lomba memberikan sogokan pada orang-orang miskin dan tamak. Sabari, ah, lelaki itu sangat bodoh. Sudah hidupnya ‘miskin’, eh malah ia sok-sokan tidak mau disogok oleh pemerintah. Padahal tidak sedikit lho tetangganya yang mau menerimanya.

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri.”

“Tapi kan itu rezeki, Pak.”

“Rezeki adalah pemberian dari Allah yang tidak ditukar dengan apa pun. Pernahkah Allah meminta sesuatu dari Anda atas rezeki yang telah diberikan-Nya?” ujar Sabari tegas. “Berbeda dengan sogokan, Anda menerima beras dan uang, namun Anda harus menukarnya dengan suara Anda.”

Tidak sedikit memang orang yang jengkel pada Sabari.

*

“Mau sampai kapan suamimu itu hidup miskin seperti ini terus, Mel,” kata seorang perempuan paro baya yang saat itu sedang mencuci kentang yang telah dikupas. “Sudah hampir enam tahun kalian menikah, tapi lihat, sampai detik ini dia masih saja mengayuh sepeda ontel. Apa dia ndak malu mengajar dengan naik sepeda?”

Malikatun, bibi mertua Sabari yang selama ini merupakan orang yang paling tidak suka kepada Sabari. Ia selalu mengipas-ngipasi keponakannya, Amel yang tidak lain adalah istrinya Sabari agar menyuruh suaminya itu membeli sepeda motor. “Dengan naik sepeda motor wibawa suamimu itu akan naik,” ujar perempuan berlidah ular itu.

“Apakah seorang guru dilihat dari kendaraannya, Bi? Memang harus ya?”

“Ya harus, Mel. Masak membeli sepeda motor saja tidak mampu? Kan malu dilihat sama orangorang, guru kok tidak pakai sepeda motor?” “Apakah orang-orang menilai seorang guru dari kendaraannya? Bukan dari bagaimana cara dia mendidik dan mengajar murid-muridnya. Atau, bukan dari kecerdasan otaknya?” tanya gadis itu dengan tegas.

“Zaman sekarang kan memang begitu, Mel?” “Lalu, bagaimana dengan guru zaman dulu yang berangkat mengajar ke sekolah dengan mengayuh sepeda kumbang, bahkan ada yang berjalan kaki? Sejak dulu bibi selalu menyinggung soal Mas Sabari. Memangnya kenapa sih dengan Mas Sabari sih, Bi? Apakah karena dia miskin lantas bibi tidak suka?”

Bibinya diam. “Aku menikah dengan Mas Sabari bukan lantaran dia seorang guru maupun karena otaknya cerdas. Coba mata bibi buka lebar-lebar dan lihat sikapnya. Pernahkah dia melakukan satu kesalahan seperti yang pernah dilakukan secara berulang kali oleh saudara-saudara bibi? Pernahkah dia melakukan satu keburukan seperti yang dilakukan oleh adik-adik bibi? Kalau ada katakan!”

Tentu saja untuk membuktikan satu kesalahan atau satu keburukan yang pernah dilakukan oleh Sabari tidak mudah ditunjukkan. Sebab memang tidak ada. Ucapan, “Tidak ada manusia yang sempurna.” hanya akan muncul dari mulut manusia yang tidak mau mengenali kesempurnaannya.

Bukankah Allah sudah menjelaskan di dalam Al Quran bahwa manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Manusia lebih sempurna dan lebih mulia daripada malaikat dan iblis. Kalau ada yang mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk sempurna, maka manusia itu tolol. Sebab malaikat adalah makhluk yang tidak memiliki nafsu dan akal. Malaikat bukan makhluk yang suci. Mereka tunduk patuh lantaran tidak dianugerahi nafsu dan akal, makanya mau-mau saja.

Beda dengan manusia. Manusia bisa lebih sempurna dari pada keduanya asalkan manusia menggunakan akal dan mengendalikan nafsunya. “Kenapa kamu dulu tidak menerima lamarannya si Erfan saja? Selain kaya dia juga ganteng. Memang sih Sabari ganteng, tapi kan dia jauh lebih tua dari kamu. Usianya saja sepantaran dengan bibi,” ujar Malikatun mengompori keponakannya agar sumbunya meledak.

“Orang Islam mana yang menikah hanya karena mau terhadap hartanya, Bi? Apakah para nabi dan rasul ada yang hidupnya kaya raya? Tidak ada bukan?”

Selama ini ia menganggap perempuan itu sebagai ibunya. Sebab, sejak usia 4 bulan ia sudah ditinggal oleh ibu kandungnya sendiri. Ibunya meninggalkan dirinya dan lebih memilih menikah dengan lelaki lain setelah ayahnya meninggal dunia. Kini, ibunya telah memiliki anak dari pernikahan keduanya itu dan tidak pernah menjenguk dirinya. Sejak itu, pengasuhan atas dirinya jatuh ke tangan kakeknya yang sudah tua. Setelah kakeknya meninggal, pengasuhan itu diambil alih oleh bibinya. Akan tetapi, bibi yang sudah dianggapnya sebagai orangtua itu tidak pernah menyukai suaminya, Sabari. Dan ia selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.

“Hidup kaya maupun miskin, aku akan tetap bersama Mas Sabari, Bi. Yang penting, selama ini suamiku tidak pernah meminjam apa pun dari keluarga kita,” ucap gadis itu dengan tegas.

Lalu, Amel meninggalkan perempuan itu dan pergi ke rumahnya yang bersebelahan dengan rumah bibinya itu. Menyadari nasihat buruknya tidak dibeli oleh keponakannya sendiri membuat kebencian dan kedengkian Malikatun terhadap Sabari semakin memuncak.

*

Atas kesabarannya menabung selama dua tahun, akhirnya Sabari bisa merenovasi rumah peninggalan neneknya yang sudah lama tidak ditempati. Rumah tersebut rencananya akan ia tempati berdua dengan istrinya itu. Selain itu, di rumah itu ia juga akan membangun sebuah toko buku dan penerbitan buku online sehingga istrinya mempunyai kesibukan baru.

“Biar kamu tidak suntuk, di lantai dua nanti akan kubangun sebuah toko buku dan penerbitan online,” kata Sabari kepada istrinya.

Lalu, lelaki bersahaja itu mengajak istrinya ke halaman rumah untuk memperlihatkan sebuah kejutan.

“Kamu harus menutup mata dulu.” Sabari menggenggam lengan istrinya.

“Apaan sih, Mas?” Amel tak sabar untuk melihat kejutan yang ingin ditunjukkan oleh suaminya itu. “Sekarang bukalah!”.

Di depan sana. Di halaman rumah itu. Tampak sebuah mobil warna putih yang diikat dengan pita warna merah. Catnya masih kinclong. Fresh! Baru dikeluarkan dari showroom!

Air mata gadis itu hampir mau runtuh. Ia tak kuasa menahan rasa haru. Ia pandangi wajah lelaki yang amat mencintai dirinya itu. “Ini hadiah untukmu, Sayang. Kubeli dari royalti bukuku,” kata Sabari kalem.

Amel memeluk suaminya.

“Apakah kamu telah lupa ini hari apa?”

Gadis itu menggeleng. “12 Desember.”

Istrinya semakin terharu. Ternyata suaminya tidak lupa dengan tanggal ulang tahun kelahirannya.

“Lalu sepeda kumbang itu?”

“Itu!” Sabari menunjuk ke arah sepeda kumbang yang berdiri dengan gagah di samping pohon jambu keling. Itu adalah sepeda warisan kakeknya Sabari.

“Ayo kita ke pantai dengan naik sepeda!”

Keduanya pun berangkat ke pantai dengan naik sepeda kumbang.

Bagi mereka, dalam keadaan apa pun, baik dalam keadaan suka maupun duka, hidup kaya maupun tak berharta, cinta mereka takkan tergoyah sampai akhir. Cinta mereka tetap kokoh meskipun angin kencang menerpa dengan keras. “Aku tak menginginkan apa pun selain dirimu, Mas. Kamulah harta paling berharga bagiku,” ucap Amel sambil menyandarkan kepalanya di punggung suaminya. Tangannya memeluk pinggang Sabari.

Ah, kata siapa cinta tak bisa ditanak? (*)

 

2024

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Nafkah #Guru #pkh #rezeki #cerpen #toko buku #sepeda #Nasib #usaha #pemerintah #islam #mertua #Al Quran #Cerita #Bansos #cinta #garis kemiskinan