Oleh
Sri Suko Pujilestari
Guru SMA Negeri 1 Padangan
RAMADAN kali ini pukul 7.30 pagi, Puput melangkahkan kakinya dengan penuh semangat di depan gerbang KB TK At Taqwa. Hari ini adalah hari pertamanya sebagai shadow teacher di sana.
Suasana pagi hari di KB TK At Taqwa begitu ceria. Suara anak-anak yang riang dan tawa mereka yang menggelegar terdengar dari dalam kelas. Puput menghirup napas dalam-dalam, berusaha menenangkan rasa gugupnya.
Puput memasuki ruangan utama KB TK At Taqwa. Ruangan itu dihiasi dengan berbagai dekorasi berwarna-warni dan gambar-gambar lucu. Di sana, beberapa guru dan staf menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang, Puput," sapa Bu Rini, kepala sekolah KB TK At Taqwa, dengan senyuman hangat. "Senang sekali akhirnya kamu bisa bergabung dengan kami."
Puput mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bu Rini. "Terima kasih, Bu. Saya senang sekali bisa berada di sini," jawab Puput dengan sedikit gugup.
Bu Rini mengajak Puput untuk berkeliling melihat-lihat ruangan kelas dan taman bermain. Puput takjub melihat bagaimana KB TK At Taqwa dirancang dengan begitu cermat untuk menunjang tumbuh kembang anak-anak.
Di taman bermain, Puput melihat beberapa anak bermain dengan riang. Ada yang bermain ayunan, perosotan, dan ada pula yang bermain pasir. Puput merasa senang melihat keceriaan anak-anak itu.
Setelah berkeliling, Bu Rini mengajak Puput untuk bertemu dengan anak-anak di kelasnya. Puput akan menjadi shadow teacher untuk Nisa, seorang anak berusia 5 tahun yang memiliki autisme.
Puput memasuki kelas dan melihat Nisa yang sedang duduk di mejanya. Nisa tampak fokus dengan mainannya dan tidak memperhatikan Puput yang masuk.
"Nisa, ini kak Puput," kata Bu Rini sambil menunjuk Puput. "Kak Puput akan menjadi pendamping Nisa di sini."
Nisa hanya menoleh lalu memalingkan muka, diajak bersalaman pun menolak. Puput menghela napas dan menguatkan batinnya, Puput merasakan penolakan dari Nisa.
Ketika waktu belajar mengaji Puput mengajak Nisa untuk turun ke lantai bawah ruang mengaji. Maklum sekolah KB TK At Taqwa menerapkan moving class. Puput mengajak Nisa dengan tutur katanya selembut mungkin namun Gadis kecil autis ini langsung tantrum saat melihat Puput. Nisa berlari sambil teriak, menarik jilbab Puput, dan guling-guling di lantai sambil mengatakan "Jangan nanti luntur!" berulang-ulang.
Puput mencoba mendekati Nisa yang meringkuk di sudut ruangan. Suara tangisannya yang pilu memecah keheningan kelas. Puput berusaha memeluk Nisa, tapi Nisa menepisnya dengan kasar.
"Jangan nanti luntur!" teriak Nisa histeris.
Puput berusaha menenangkan Nisa dengan suara lembut. Dia berbicara dengan nada yang menenangkan dan penuh kasih sayang. Namun, Nisa tak bergeming. Dia terus menangis dan menjerit-jerit.
Puput mulai panik. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa gagal sebagai shadow teacher. Pikirannya berkecamuk.
"Apakah aku tak berguna?" gumam Puput dalam hati.
Bayangan masa lalunya menghantui. Diselingkuhi pacar, ditinggal menikah, dan diancam dibunuh. Puput merasa hidupnya sia-sia. Dia melarikan diri ke kota lain dan diterima bekerja sebagai shadow teacher. Namun, semuanya terasa sia-sia. Nisa seakan-akan menolak kehadirannya.
Puput mencoba menjauh dari Nisa, tapi tetap memastikan Nisa dalam kondisi aman. Dia duduk di kursi di sudut ruangan, matanya tak lepas dari Nisa.
Puput merasa sedih dan frustrasi. Dia ingin membantu Nisa, tapi dia tak tahu caranya. Dia merasa tak berdaya dengan kata-kata Nisa yang sering mengatakan “Jangan nanti luntur’’. Apa maksudnya kata-katanya padahal bajunya tidak ada yang luntur.
Nisa baru berhenti menangis setelah Bu Rini mendekati Nisa dan menyuruhnya berhenti menangis. Nisa pun berhenti menangis, lalu Bu Rini memberitahukan puput untuk bersabar, maklum Nisa sedang beradaptasi dengan orang baru. Nanti lama-lama Nisa akan dapat diatur.
Setelah istirahat jam 9 pagi, Puput membawa Nisa ke ruang terapi di lantai atas KB TK At Taqwa. Rasa gugup menyelimuti Puput. Dia tak memiliki background pendidikan bimbingan konseling, jurusannya adalah matematika.
Di ruang terapi, sudah ada 6 orang pengasuh beserta 6 ABK. Puput memberanikan diri untuk memperkenalkan diri.
"Assalammualaikum, saya Puput dari UINSA jurusan Pendidikan Matematika," kata Puput.
Keenam pengasuh lain pun memperkenalkan diri. Ada Danang, Ika, Sulis, Lia, Ririn, dan Sonya. Mereka semua berasal dari Unesa, kecuali Sonya yang berasal dari Universitas Jember. Ririn berasal dari kampus yang sama dengan Puput namun berbeda jurusan sehingga ini pertemuan mereka yang pertama kali karena saat kuliah tidak pernah bertemu. Ririn jurusan bimbingan konseling sedangkan Puput jurusan pendidikan matematika. Danang, Ika, Sulis, dan Lia memiliki jurusan yang sama, yaitu Bimbingan Konseling. Sonya memiliki jurusan Biologi, namun pernah belajar setahun di jurusan Bimbingan Konseling di Unesa.
Puput dan keenam pengasuh lain mulai bertukar cerita tentang anak asuh mereka. Danang mengasuh Nathan yang autis. Ika mengasuh Raihan yang asperger dan jenius. Sulis mengasuh Brian yang down syndrome. Lia mengasuh Dilla yang retardasi mental. Ririn mengasuh Adit yang speech delay sedangkan Sonya mengasuh Alvian yang ADHD.
Hari itu Puput membiarkan Nisa bermain di ruang terapi, karena puput baru tahu jika ruang terapi ada banyak sekali permainan seperti trampoline, jungkat-jungkit, bola aneka ukuran, papan titian, dan lain-lain. Puput pikir ruang terapi itu menyeramkan ternyata menyenangkan sekali bahkan Nisa mengajak Puput bermain trampolin, tapi Puput menolak.
Esok harinya Nisa tantrum lagi, seperti biasanya setelah Bu Rini datang meminta Nisa berhenti menangis, Nisa berhenti. Puput heran dengan caranya Bu Rini yang menurut Puput biasa saja namun kenapa didengar Nisa, padahal sebelumnya Puput juga menggunakan cara yang sama namun gagal. Kata-katanya pun masih sama ketika Puput atau Bu Rini mendekat yakni “Jangan nanti luntur”.
Saat di ruang terapi, Puput menjelaskan tentang tantrum Nisa dan kebingungannya dalam mencari terapi yang tepat.
Keenam seniornya mendengarkan dengan seksama. Mereka kemudian memberikan saran dan masukan kepada Puput.
"Berdasarkan observasi dan cerita Puput, Nisa menunjukkan beberapa ciri autis. Saya sarankan untuk mencoba terapi ABA (Applied Behavior Analysis). Terapi ini terbukti efektif dalam meningkatkan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku anak autis." Kata Danang yang merupakan pakar autis
"Selain ABA, Nisa juga bisa dibantu dengan terapi social skills training. Terapi ini akan membantu Nisa belajar cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dengan lebih baik." Tambah Ika yang merupakan pakar asperger
Lalu Ririn melanjutkan "Nisa juga menunjukkan keterlambatan berbicara. Untuk itu, terapi speech therapy sangatlah penting. Terapi ini akan membantu Nisa meningkatkan kemampuannya dalam berbicara dan memahami bahasa.
Sonya pun menambahkan, "Melihat energi Nisa yang tinggi dan mudah teralihkan, ada kemungkinan Nisa memiliki ADHD. Kombinasi terapi medication dan behavioral therapy dapat membantu Nisa fokus dan mengendalikan perilakunya."
Sulis pun mengatakan, " Setuju selain itu Nisa memiliki fisik yang lemah dan motorik kasar yang kurang berkembang. Fisioterapi dan terapi okupasi dapat membantu Nisa meningkatkan kekuatan fisik dan kemampuan motoriknya."
"Terapi early intervention program sangatlah penting untuk Nisa. Program ini dirancang untuk membantu Nisa mencapai potensi maksimalnya dalam berbagai aspek perkembangan." Tambah Lia.
Puput mendengarkan dengan penuh perhatian. Pikirannya dipenuhi dengan informasi dan harapan baru. Dia yakin dengan kombinasi terapi yang tepat dan kasih sayang, Nisa akan berkembang dan mencapai potensinya.
Puput berterimakasih kepada keenam seniornya atas bantuan mereka. Dia merasa beruntung memiliki tim yang suportif dan penuh kepedulian.
Puput akan mempelajari lebih lanjut tentang terapi yang direkomendasikan. Dia akan berkonsultasi dengan psikolog yang akan datang minggu depan untuk mendapatkan arahan yang lebih jelas dan merancang program terapi yang tepat untuk Nisa.
Esok harinya, saat Puput dan Nisa sedang terapi, Nathan tantrum. Danang berusaha menenangkan Nathan, namun tidak berhasil. Puput memberanikan diri untuk membantu Danang. Dia menggunakan teknik yang dia pelajari dari internet.
Ternyata, teknik itu berhasil menenangkan Nathan. Danang berterimakasih kepada Puput. Sejak saat itu, mereka mulai saling membantu dalam menangani anak-anak asuh mereka.
Persahabatan mereka semakin erat. Mereka sering bertukar cerita dan pengalaman. Mereka saling menguatkan dan menyemangati.
Nisa pun semakin dekat dengan Puput namun saat tantrum Puput masih belum bisa menenangkan Nisa hingga saat hari minggu Puput menyalakan TV di kamar kosnya, Puput melihat iklan sabun cuci Vanish di TV. Iklan itu menampilkan dua orang yang sedang berdialog.
"Jangan nanti luntur!" kata orang pertama.
"Tenang, kan ada Vanish," jawab orang kedua.
Puput teringat dengan kata-kata Nisa. "Jangan nanti luntur!" Apakah kata-kata Nisa saat tantrum dari meniru kata-kata iklan Vanish?
Puput ingat jika anak kecil fasenya imitasi meniru, lalu Puput bertekad untuk mencoba sesuatu besok.
Keesokan harinya, saat tes kelulusan mengaji jilid 2 Nisa tantrum lagi. Kali ini, Puput tak panik. Ia ingat dengan iklan Vanish.
"Jangan nanti luntur!" teriak Nisa.
"Tenang, Nisa. Kan ada Vanish," jawab Puput dengan tenang.
Puput tak menyangka jawabannya akan berhasil. Nisa langsung berhenti tantrum dan menatap Puput dengan matanya yang besar.
"Peluk," kata Nisa.
Puput memeluk Nisa dengan erat. Ia merasa bahagia dan lega. Puput finally merasa berarti.
Sejak saat itu, Puput selalu menggunakan kalimat "Tenang, kan ada Vanish" saat Nisa tantrum. Kalimat itu selalu berhasil menenangkan Nisa.
Puput dan Nisa menjadi semakin dekat. Puput tak hanya menjadi shadow teacher Nisa, tapi juga menjadi sahabatnya.
Puput bersyukur karena bertemu dengan Nisa. Nisa telah memberikan makna baru dalam hidupnya. Puput merasa hidupnya berarti apalagi Nisa akan menangis jika di sekolah tidak bertemu dengan Puput.
Ramadhan tahun ini terasa berbeda bagi mereka. Mereka tidak hanya bekerja bersama, tapi juga beribadah dan berencana berlebaran bersama. Mereka saling berbagi makanan dan cerita.
Di malam takbiran, mereka bersama-sama mengumandangkan takbir di halaman KB TK At Taqwa. Mereka merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang luar biasa. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana