Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kerupuk Ubi Kuah Sate

Hakam Alghivari • Minggu, 15 Oktober 2023 | 23:05 WIB
ilustrasi ( AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
ilustrasi ( AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

Setelah melihat langit, yang nampak kembali cerah setelah tertutup mendung, Randi kembali ke dalam rumah. Istrinya yang duduk dekat tv heran memandangnya, karena Randi belum juga mengenakani baju. Randi masih mengenakan celana pendek selutut dengan singlet. Padahal ini sudah jam 3, seharusnya Randi sudah mengenakan baju dan celana panjang. Bukankah sudah saatnya ia berangkat berjualan.

Randi lantas duduk di kursi dekat jendela. Diraihnya sebatang rokok dari bungkusnya. Menyelipkannya sebatang di bibir, gegas memantik korek gas. Istrinya tambah heran. Randi terlihat menghela napas dalam sembari menghembuskan asap rokok pelan ke udara.

’’Mengapa Uda belum juga pergi berjualan. Padahal kerupuk ubi, kuah sate, dan anyang sudah aku siapkan di dapur,” kata istrinya yang bernama Zubaidah.

’’Uda tidak berjualan hari ini, Baidah. Mungkin juga untuk besok-besoknya.”

’’Mengapa Uda. Mengapa Uda ti­dak berjualan.”

’’Sudah tidak boleh oleh Farhan berjualan di sana.”

’’Nah, apa salahnya tidak boleh. Tiap bulan kan kita bayar sewa tempat ke dia.”

’’Kemarin dia bilang padaku. Tanah di sudut depan tokonya itu tidak lagi disewakan,” kata Randi sembari menghembuskan asap rokok kencang, menjentik batang rokok sedikit di jendela agar abunya jatuh keluar.

’’Masyaallah, Farhan. Padahal dia sudah umrah. Mengapa begitu pelit dia sekedar untuk menumpangkan satu meja dan kursi di tanah sudut depan tokonya itu,” Zubaidah mengurut dada, ia seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Di Air Haji memang sedang jadi perbincangan. Apabila kita menyewa toko, dagangan kita laku, seacara otomatis si pemilik menaikkan kontrak toko.

Terjadi setahun yang lalu terhadap kedai sate Sius. Satenya laris, entah sebab apa, tiba-tiba pemilik kedai mengusir Sius. Katanya kedainya tidak dikontrakkan lagi. Seiring waktu berjalan, kedai sate bekas Sius itu ber­jualan, dibiarkan saja, me­lapuk dan atapnya bo­long-bolong karena diterpa badai. Semak di sana tum­buh subur. Cerita Sius si Tukang Sate mengalir dari mu­lut ke mulut di Air Haji. ’’Iri melihat jualan orang laris,” begitu orang-orang mengambil kesimpulan.

Keadaan Randi sekarang, bagi Zubaidah, sama halnya dengan keadaan Sius setahun yang lalu itu. Sama saja dengan terusir.

Dari berjualan kerupuk ubi kuah sate itulah Randi dan Zubaidah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menghidupi kedua putranya. Juga biaya sekolah anak. Lokasi Randi berjualan dekat masjid. Bila selesai waktu Ashar, ramai anak-anak yang pulang me­ngaji membeli kerupuk kuah sate di sana. Bagi mereka kerupuk ubi kuah sate Randi lezat. Kuah satenya terasa bumbunya. Berpadu dengan kerupuk yang tebal ukurannya. Tambah dua ribu sudah bisa pakai anyang.


’’Nanti habis Ashar, coba aku turut Farhan. Aku akan berbicara lagi padanya. Coba aku bujuk dia,” kata Randi sembari mencampakkan puntung rokoknya keluar jendela.

’’Uda yakin bisa membujuk Farhan. Dia itu orang berada Uda. Kalau uang sewa tempat bukan masalah baginya. Jangan-jangan karena toko dia sepi, sedangkan jualan Uda ramai, dia jadi rusuh sendiri,” kata Zubaidah, berdiri dari duduknya di kursi. Ia mengambil remote dan menyalakan tv. Ia coba hibur gundah hatinya.

’’Kita tidak tahu apa katanya nanti. Tapi aku akan coba berbicara baik-baik dengannya.”

’’Mengapa tidak Uda pikirkan untuk mencari tempat lain. Kerupuk ubi kuah sate kita kan sudah terkenal. Di mana pun kita berjualan, pasti orang mencari.”

’’Masalahnya tidak ada nantinya anak-anak yang pulang mengaji membeli kerupuk kuah sate uda. Kalau orang sekitar, me­­reka tidak rutin membeli kerupuk kuah sate.”

’’Maksudnya tempatnya masih di dekat-dekat sana juga, Da. Di tempat Eman, mungkin bisa.”

’’Ah, tempat Eman. Sebelum aku menyewa tempat Farhan, aku sudah bertanya ke Eman itu dulu. Tidak bisa, katanya. Menganggu jalan masuk ke toko dia katanya.”

’’Ya sudah,” kata Zubaidah, mukanya menatap tv, tapi pikirannya tidak ke sana.”Turut Farhan itu. Uda bicara baik-baik. Tapi Uda jangan sampai bicara masalah uang sewa.”

*
Setibanya di rumah Farhan, Randi mencurahkan semua keluh kesahnya. Randi tahu, kalau ia bicara masalah uang sewa yang naik, asalkan Farhan mau menyewakan tempat itu kepadanya, pastinya Farhan tersinggung. Sebagai orang berada, uang bukanlah hal yang utama baginya. Orangtuanya punya banyak kebun kelapa sawit dan Farhanlah yang mengurusnya. Toko bukanlah usaha utama Farhan sebenarnya, walau di tokolah hari-harinya banyak dihabiskan.

’’Aku minta toleransi Farhan. Tempat berjualan itu sangat berarti bagiku. Jualan sedang laku-lakunya di sana. Aku takut kalau nanti pindah, jualan tak selaku sebelumnya,” kata Randi yang duduk di kursi ruang tamu.

Sementara Farhan duduk di kursi seberang.

’’Tidak bisa Randi. Aku mau mengosongkan tanah yang di sudut itu. Lagi pula terhambat pandangan orang melihat tokoku kalau kau terus-menerus berjualan di sana,” kata Farhan. Ia berbicara tidak melihat muka Randi.

Terus-menerus Randi mengeluarkan semua bujuk-rayunya. Namun, jawaban Farhan tetap sama. Ia tidak menyewakan tempat itu lagi kepada Randi.

Randi pun pulang dengan rasa kecewa dan pikiran yang berat. Ia pulang dengan dada hampa.

*
Seminggu Randi tidak berjualan kerupuk ubi kuah sate. Kerjanya di rumah membantu Zubaidah berladang terong, tomat, dan mentimun di tanah mereka belakang rumah. Kegiatan Zubaidah memang berladang. Selain membuat kerupuk ubi kuah sate dan menggorengnya, memasak kuah sate, dan membuat anyang. Uang rumah tangga semakin menipis karena pemasukan sedikit sekali--dari orang yang kadang datang membeli hasil ladang mereka.

Sore itu, Zubaidah pulang dari ladang menyusul Randi yang pulang duluan. Ia melihat suaminya sedang duduk termenung di kursi depan tv. Sedangkan tv sama sekali tidak menyala. Randi didapatinya tidak merokok. Biasanya kalau sedang termenung, Randi sembari merokok.

Zubaidah berharap, dengan adanya kabar ini, hati suaminya terobati.

’’Da, aku sudah berbicara dengan Yanuar. Katanya ia mau menyewakan kedai papan yang dekat pertamini itu. Sudah aku tanya kontraknya, tidak mahal Da. Tapi dia minta per tahun,” kata Zubaidah.

’’Sudah kau hitung uang kita. Apakah cukup?” kata Randi.

'’Uang kita tinggal sedikit, Da. Tapi coba nanti aku pinjam ke ayahku.”

Besoknya, sore, Randi menyalakan sepeda motor bututnya menuju kedai Yanuar. Ia ingin memberikan uang sewa kedai. Sekaligus ingin bersih-bersih kedai itu sebelum ia tempati untuk berjualan.

Menuju kedai Yanuar, sepeda motor Randi melewati toko Farhan. Tampak olehnya di tanah sudut depan toko Farhan tempat ia biasa berjualan di sore hari, seorang perempuan berjualan kerupuk ubi kuah sate. Perempuan itu terlihat bersemangat dengan sekali-kali mengusap muka karena diterpa matahari sore. Tentu saja Randi kenal perempuan itu. Ia adalah sepupu Farhan yang baru saja pulang merantau dari Jakarta bersama suaminya--karena bangkrut berjualan nasi padang.
Berair mata Randi dalam jenak itu, karena memandang tempat itu. Di hatinya pun pelan-pelan perih menjalar. (*)

 

 

 

*Yulputra Noprizal

Penyuka dan penikmat sastra.

Editor : Hakam Alghivari
#cerpen #Budaya #kerupuk ubi #kuah #bojonegoro #sate