SEORANG wanita cantik berusia awal 40-an terbaring lemah di atas ranjang kamar tidurnya. Namanya Rossa, seorang ibu tunggal yang suaminya meninggal dua tahun lalu. Setelah kepergian cinta sejatinya, Rossa menderita kanker otak stadium 4.
Penyakit itu membuatnya tidak bisa beraktifitas dengan leluasa tanpa dukungan alat kesehatan dan kontrol ketat oleh perawat. Beruntung mendiang suaminya meninggalkan uang asuransi yang cukup untuk menghidupi dia bersama kedua putrinya.
‘’Bundaaaa!,” ujar Ella, putrinya yang masih mengenakan seragam merah putih berlari sambil memanggilnya. Di belakang Ella ada Greychia, yang mengenakan seragam putih biru. Dia tidak seantusias adiknya. Wajahnya yang cantik tampak murung karena mengkhawatirkan kondisi ibunya.
‘’Sudah pulang, sayang?” tanya Rossa sambil bersusah payah berusaha duduk di ranjangnya. Ella lalu duduk di samping ibunya.
‘’Sudah, bunda,” jawab Ella dengan wajah yang memancarkan luapan kegembiraan. ‘’Kata Bu Guru seminggu lagi Ella lulus!,” lanjutnya.
Sementara itu, Greychia berdiri mematung di depan mereka, memandangi ibunya yang kini berpipi cekung dan tubuh yang nyaris tinggal kulit dengan tulang. Rambutnya yang dulu hitam dan panjang kini hanya tinggal beberapa helai pendek efek kemoterapi berkepanjangan.
Dia menahan agar air matanya tidak jatuh setiap kali melihat kondisi ibunya. Wanita itu menahan rasa sakit di depan kedua putrinya. Seolah bisa membaca pikiran Greychia, Rossa pun meraih tubuh putrinya. Tangisan Greychia tak terbendung begitu dia berada dalam pelukan ibunya yang hangat.
‘’Kalian besok harus sukses bareng, ya,” bisik Rossa pada kedua putrinya, yang disambut dengan isakan tangis mereka. Greychia menganggukkan kepalanya sambil menggumamkan “iya”.
‘’Bunda besok datang, ya, ke acara kelulusan Ella,” kata Ella sambil mengayun-ayunkan lengan ibunya pelan.
‘’Iya, El,” jawab Rossa. Lalu, dia melepas pelukannya dan mengecup kepala putri-putrinya secara bergantian.
‘’Greychia janji,” katanya di sela-sela tangisnya.
‘’Kalian tidak perlu berjanji. Lakukan saja semua itu meskipun tanpa bunda,” ucap Rossa sebelum dia mengembuskan nafas terakhirnya.
‘’Grey dan Ella janji, bunda,” ucap mereka bersamaan.
***
10 tahun kemudian.
Terdengar suara ketukan di pintu.
‘’Masuk!,” seru seorang gadis cantik yang mengenakan blazer hitam dengan bros emas terselip di bagian kerah kirinya dari dalam ruangan.
‘’Permisi, Kak Grey. Ini ada beberapa berkas yang harus Kak Grey tanda tangani,” ucap sekretaris itu. Mereka berada di kantor manajemen sebuah butik tas merek terkenal.
Greychia Winola Yasmine adalah pimpinan di butik tersebut. Dia telah menjadi wanita karir yang sukses di usianya yang baru 24 tahun. Dia juga aktif mengkampanyekan gerakan Women Support Women di seluruh Indonesia.
‘’Ya, terima kasih,” jawab Grey sambil menerima berkas-berkas tersebut dari sekretarisnya, Zeya. Dia membacanya dengan teliti sebelum membubuhkan tanda tangannya.
‘’Apakah hari ini saya ada jadwal meeting?,” tanya Grey sambil menandatangani berkas.
‘’Tidak ada, Kak. Saya sudah mengosongkan jadwal Kak Grey untuk hari ini dan besok,” balas Zeya.
Semua karyawan kantor Greychia memanggilnya dengan sebutan “Kak” sesuai permintaannya. Dia merasa terlalu muda untuk dipanggil “Bu”.
Setelah Zeya keluar, Greychia menatap langit-langit ruangan kantornya yang didominasi warna putih dengan desain modern minimalis. Dia mengingat betapa pahitnya masa remaja yang dia lalui tanpa sosok ayah dan bunda.
Dia merintis karir sendirian setelah lulus SMA. Dia terpaksa merelakan diri untuk tidak kuliah karena harus bekerja, menjadi kakak sekaligus orang tua untuk adiknya. Air matanya menetes mengenang semua perjuangan itu.
Dia sangat ingin kedua orangtuanya menyaksikan dirinya yang sekarang telah sukses.
***
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 10 pagi. Greychia sedang berada di aula wisuda Universitas Indonesia dengan membawa buket bunga cantik di tangannya. Tempat itu sangat ramai oleh para wisudawan. Dia megedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan seseorang.
‘’Kak Grey! Kak Grey!,” teriak Ella sambil melambaikan tangannya di tengah kerumunan dan keriuhan suara para wisudawan lainnya. Dia berlari menuju ke arah kakaknya dengan membawa toga di tangannya. Senyumannya lebar dan cerah seperti mentari pagi setengah siang itu.
Gabriella Arvania Helena atau Ella, hari ini telah resmi lulus dari fakultas kedokteran UI. Selanjutnya dia akan melanjutkan studi S-2nya di Inggris dengan beasiswa. Cita-cita Ella kini telah tercapai, begitu juga cita-cita Greychia.
‘’Congratulations, Ell!,” ungkap Greychia sambil memeluk adiknya dengan bangga. Dia sangat berbahagia untuk adiknya.
Usai prosesi, dengan masih mengenakan jubah dan toga wisudanya, Ella bersama Greychia menginjakkan kaki di tanah makam ibunda mereka.
‘’Assalamualaikum, Bunda,” ucap Greychia sambil menekuk lututnya untuk duduk berjongkok di depan tanah makam tersebut. Dia lalu menaburkan bunga-bunga di atas makam sementara Ella menyiram batu nisan dengan percikan air.
‘’Bunda... bunda lihat, deh. Sekarang Ella sedang mengenakan jubah wisuda. Ella sudah menjadi sarjana,” tutur Ella dengan riang di depan makam ibunya. Greychia tersenyum memperhatikan adiknya. Tak terasa air mata membasahi sudut matanya.
‘’Aku selalu merasa bunda berada di sampingku ketika aku diwisuda, karena bunda pernah berjanji akan datang meskipun takdir berkata lain,” beber Ella.
‘’Bunda pernah melarangku untuk berjanji karena takut aku tak bisa menepatinya. Namun, sekarang aku datang ke rumah baru bunda dengan mengenakan jas kantoran,” sahut Grey.
Baik Greychia maupun Ella sudah menepati janji pada ibunda mereka, bahwa mereka akan melalui semua hal meski tanpa ibu mereka, dan meraih kesuskesan bersama. Di depan makam itu, Greychia dan Ella berdiri untuk memberi penghormatan terakhir sebelum meninggalkan tempat itu. Mereka akan kembali lagi dengan kisah-kisah sukses mereka berikutnya.
***
*Aisyah Amirah
Pelajar MTs Muhammadiyah 15 Lamongan. Instagram @aairakhs