LAMONGAN, Radar Lamongan - Desa Balun, Kecamatan Turi melekat dengan desa pancasila, karena toleransi antar umat beragama yang sangat kuat di sini. Terdapat tiga tempat ibadah yang berdampingan yakni Masjid, Pura, dan Gereja. Meski begitu, tidak banyak yang mengetahui keberadaan Makam Mbah Alun, yang konon dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya nama Desa Balun dan sikap toleransi di sini.
Berdasarkan keterangan juru kunci Makam Mbah Alun, Nursalim beberapa pengunjung juga datang dari luar Lamongan. Makam ramai dikunjungi saat pasaran Jumat Kliwon. Ramai dikunjungi saat pagi dan sore hari, tutur Nursalim kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (28/7).
Dia menjelaskan, Desa Balun berasal dari nama Mbah Alun yakni bernama lengkap Sunan Tawang Alun, yang konon merupakan Raja Blambangan. Berdasarkan cerita turun temurun, Mbah Alun belajar mengaji di bawah asuhan Sunan Giri. Setelah itu, Mbah Alun kembali ke tempat asalnya di Blambangan untuk menyiarkan agama.
Dari situlah, akhirnya Mbah Alun mendapatkan serangan dari Mataram dan Belanda, ucapnya.
Serangan tersebut, lanjut dia, membuat Kedaton Blambangan hancur. Sehingga Sunan Tawang Alun melarikan diri menggunakan perahu. Akhirnya Sunan Tawang Alun tiba di tempat yang saat ini dinamai Desa Balun. Dulunya sebelah utara makam merupakan aliran sungai Bengawan Jero.
Mbah Alun akhirnya menetap, bercocok tanam, dan menyiarkan agama di sini. Mbah Alun dikenal alim, arif, cerdas, dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain. Sosok itu juga konon turun-temurun hingga menjadikan Desa Balun menjadi kampung yang sangat toleran.
Sehingga tak pernah melakukan paksaan kepada masyarakat sekitar untuk masuk Islam, terang Nursalim.
Makam Mbah Alun juga ramai dikunjungi saat sebelum musim tanam dan setelah panen antara Bulan September dan Oktober. Menurut Nursalim, warga Gresik cukup banyak yang berkunjung ke sini. (mal/ind)