Arifin, petani garam Sedayulawas, Kecamatan Brondong, mengatakan, harga garam menyesuaikan cuaca. Ketika masuk kemarau, biasanya harga cenderung turun. Alasannya, produksi meningkat karena banyak petani yang panen.
Saat musim penghujan, harganya cenderung tinggi. Sebab, hanya petani modern atau garam prisma yang bisa produksi. “Sekarang harga sudah ada penurunan, tapi belum signifikan. Masih Rp 100 per kilo, kalau ada hujan biasanya langsung turun drastis,” ujarnya.
Menurut dia, ketika musim penghujan, petani garam manual mengumpulkan bahan baku air. Saat kemarau, garam bisa dipanen. Saat ini, kondisi cuaca sering berubah. Produksi garam baru banyak yang mengalami penyusutan karena masih basah. “Cuacanya tidak hujan kadang mendung jadi berpengaruh pada kualitas garam petani lokal,” terangnya.
Terkait produktivitas, Arifin mengaku lebih baik dibandingkan sebelumnya. Maret lalu, karena intensitas hujan tinggi, produksi tidak sampai 10 ton per bulan. Sejak Mei, produksi sudah menyentuh 10 ton per bulan. Produktivitasnya bisa lebih tinggi bagi petani modern.
Arifin menuturkan, harga garam cenderung tinggi dalam beberapa bulan ini karena menembus Rp 5 ribu per kg.
''Kita sedang berusaha masuk pasar industri, khususnya garam local. Kalau prisma, bisa produksi setiap bulan,” tuturnya. (rka/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto