Perajin gerabah di Desa Gedangan, Kecamatan Maduran berharap ke depannya produk gerabah lokal Lamongan bisa didaftarkan merek. Sehingga mengantisipasi klaim dari pihak lain di luar daerah.
Salah satu perajin gerabah setempat, Mad Kazin menuturkan, ke depan hasil gerabah dari Lamongan bisa ada merek atau ciri khas. Misalnya di belakang cobek diberi penanda. Sehingga, konsumen mengetahui asal produk tersebut. Namun, diakuinya, selama ini cobek dari desanya bisa diakui dari kota lain.
‘’Cobek ini biasanya dikirim ke Madura dan Kalimantan. Saya juga jualan keliling di sekitar,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (8/1).
Awal bulan ini, kendala perajin gerabah masih pada cuaca yang tak menentu. Yakni cuaca sempat sering hujan, sehingga pengeringan tidak bisa maksimal. Selain itu, perajin harus mengeluarkan tenaga ekstra.
‘’Kalau cuaca normal pengeringan hanya satu minggu mas,’’ imbuhnya.
Perajin gerabah lainnya, Suratno membenarkan jika saat ini juga terkendala cuaca. Bahkan jika hujan, dirinya harus libur kerja. Sebab jika dijemur takutnya justru rusak terkena hujan. ‘’Biasannya menunggu cuaca panas,’’ ucapnya.
Perajin gerabah lainnya Umiati mengakui penjualan dan harga gerabah saat ini cukup bagus. Sebab barang minim karena terkendala cuaca. Untuk harga cobek ukuran pecel lele Rp 3 ribu per biji, ukuran sedang Rp 7 ribu per biji, sedangkan yang paling besar Rp 20 ribu per biji.
‘’Apalagi sejak BBM naik, ada kenaikan Rp 500 rupiah per biji,’’ terangnya. (sip/ind)