Selanjutnya, Sutikno menunjukkan kandang berukuran 2 meter dengan tinggi 80 centimeter (cm) dan lebar 1 meter di belakang rumahnya. Saat menghitung, kandang tersebut memiliki 50 pintu. Satu pintu terdapat sepasang perkutut Bangkok. Artinya, Sutikno memiliki sekitar 50 pasang.
‘’Untuk harga satu jodoh kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta,’’ tutur Sutikno kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (16/12).
Pemilihan perkutut Bangkok, karena itu menjadi burung kegemarannya yang dirawat sejak Sutikno masih kecil. Menurut dia, suara merdu burung Bangkok cukup menenangkan hati. ‘’Saya ternak ini selain hobi, juga mengingatkan masa kecil, karena orang tua juga suka burung perkutut,’’ ucap Sutikno.
Sutikno mengatakan, perawatan perkutut Bangkok sangat mudah jika dibandingkan burung jenis lainnya. Sama seperti burung lainnya, yang perlu diperhatikan yakni pakan dan pembersihan kandang yang rutin. Sutikno selalu tertantang untuk bisa menghasilkan bibit perkutut Bangkok unggul. ‘’Jadi sangat simpel saja untuk perawatannya. Namun yang susah itu memunculkan bibit unggul,’’ ujar Sutikno.
Sutikno mampu membedakan jantan dan betina perkutut Bangkok hanya melihat dari bentuk fisiknya. Yakni perkutut Bangkok jantan terlihat dari kepala, dada, dan kaki yang lebih besar.
Perkutut Bangkok mulai berkembangbiak saat menginjak usia 6 bulan. Masa bertelur hingga menetas sekitar 14 hari. Anakan baru bisa keluar dari kandang saat usianya 21 hari, serta bisa makan sendiri saat berusia 1 bulan. Selain mengembangbiakkan, Sutikno juga kerap mengikuti perlombaan.
‘’Saat menjelang lomba makan direndam dengan jahe, madu, telor lima hari jelang lomba. Itu sebagai stamina saat lomba,’’ terangnya. (mal/ind)