‘’Semakin warna daun itu bagus dan langka, makin mahal tanaman hias ini. Seperti yang impor, warnanya bagus. Hanya saja pertumbuhannya lambat dibanding yang lokal,’’ tutur salah satu pembudidaya episcia asal Desa Made, Kecamatan/ Kabupaten Lamongan Ahmad Syaiful Bachrie.
Dia mengaku episcia impor usia tiga hingga empat bulan masih kecil dan berdaun empat. Syaiful, sapaan akrabnya membutuhkan waktu sekitar satu tahun dalam merawat episcia impor.
Syaiful menjelaskan, media tanam episcia harus poros. Yakni media yang jika disiram, airnya langsung tuntas dan habis. Selain itu, medianya harus lembab. Sehingga, membudidayakan tanaman ini susah-susah gampang.
‘’Kalau kebanyakan air nanti busuk, dari akar hingga induk,’’ tukasnya.
Syaiful memperagakan cara membuat media tanam poros dengan menggunakan sekam bakar, kokopit, dan sedikit pupuk kandang. ‘’ Penyiraman tidak ada takaran. Selagi kondisi tanah lembab, maka tidak perlu disiram,’’ tuturnya.
Hal lain yang harus diperhatikan yakni mencegah penyakit pada episcia. Sehingga, Syaiful intens menyemprot untuk mencegah penyakit kutu putih. ‘’Menggunakan pestisida biasa,’’ terangnya sambil menunjukkan beragam jenis episcia dalam pot.
Syaiful biasanya memperbanyak tanaman episcia dengan memotong sulur yang sudah ada akarnya. Jadi dengan cara ketika sulur anakan keluar, selanjutnya ditempelkan dengan kawat ke media tanah.
‘’Setelah muncul akar, maka selanjutnya dipotong dan dipindah ke media lain,’’ katanya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto