Luqman hanya memiliki satu ekor kura-kura darat. Kura-kura laut dan darat memiliki banyak perbedaan. Paling menonjol bentuk fisiknya berbeda. Kaki kura-kura darat sisiknya keras dan tidak ada selaputnya. Sedangkan, kurakura air ini sisiknya lunak seperti ikan, ada selaputnya dibagian jari-jari untuk berenang.
‘’Perawatannya santai dan tidak ribet, kemudian bisa ditinggal,’’ jelas pria berusia 27 tahun tersebut,’’ terang Luqman kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (8/10).
Dia memelihara kura-kura sejak masih duduk di bangku SMP sekitar Tahun 2009 silam. Kura-kura impor koleksinya meliputi podocnemis unifilis dari Sungai Amazon dan pelusios castaneus dari Afrika Barat. Namun, Luqman lebih menggemari podocnemis unifilis yang tampak lucu dan menggemaskan, dengan corak bintik-bintik di kepala berwarna kuning menyerupai badut. Itulah mengapa hewan tersebut juga lebih akrab disapa kura-kura badut atau sideneck turtle.
‘’Saya ada tiga kura-kura (podocnemis unifilis, Red) ini, satu jantan dua betina. Kemudian Ukuran maksimal dewasa panjangnya 40 cm tempurungnya. Jantan maksimal 30 cm. Saya ini penggemar sideneck turtel,’’ ujarnya kepada wartawan ini.
Sedangkan, kura-kura air yang lokal bernama pipit putih atau biasa disebut piput. Habitat aslinya di wilayah Sumatra, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Lokal lainnya yakni bernama orlita borneensis atau biasa yang disebut kura-kura semangka.
‘’Jadi pas ditempurungnya ada corak seperti semangka. Habitat aslinya di wilayah Kalimantan, Serawak, dan juga di Brunei,’’ katanya. Harga kura-kura impor lebih mahal. Misalnya jenis podocnemis unifilis yang masih bayi di kisaran Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per ekor. Sedangkan, pelusios castaneus bisa mencapai Rp 1 juta per ekor.
‘’Kalau lokal piput itu usia bayi sekitar Rp 150 ribu per ekor. Sedangkan Orlita Borneensis kecil kisaran Rp 300 ribu per ekor,’’ ucapnya.
Cara membedakan jantan dan betina cukup mudah. Kura- kura jantan corak kuning di kepala lebih cerah daripada betina. Itu bertujuan untuk memikat betina ketika musim kawin.
‘’Tebal dan panjang ekor juga berbeda. Jantan lebih panjang dan tebal. Betina itu lebih pendek dan tidak tebal. Karena jantan ada kelaminnya untuk repro duksi,’’ imbuhnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto