Tarian yang berasal dari Turki ini mulai berkembang di Indonesia dan mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan. Wartawan koran ini mengobrol secara langsung dengan dua penari sufi.
Salah satu penari sufi Mahfud mengaku mempelajari tari sufi di Semarang. Sebelum belajar tari sufi, dia lebih dulu mempelajari tentang teknik dan gerakannya. Tarian ini identik dengan berputar ke kiri mengikuti alunan gambus hingga lagu selesai.
Pertama belajar sufi, Mahfud mengaku sempat pusing hingga satu hari tidak bisa sembuh. Bahkan, dia merasa dunia seperti terbalik. Namun, dengan terus berlatih dan belajar, akhirnya Mahfud bisa menjadi penari sufi profesional. Bahkan, dia bisa menari sesuai dengan keinginan dari pemilik hajat.
‘’Saya pernah menari 1 jam ketika ada hajatan di Maduran,” terangnya ketika ditemui usai latihan.
Selama menari, Mahfud mengaku tatapannya memang seperti kosong. Namun, penari sufi ini sebenarnya sudah dibekali dengan keyakinan, jika selama berputar itu harus terus berdzikir. Sehingga, penari bisa menikmati selama berputar, karena merasa dekat dengan Allah. Selain itu, untuk sufi ini sebenarnya ada tiga jenis. Yakni tari untuk diri sendiri, pertunjukan, dan tasawuf.
Sedangkan, penari sufi lainnya Kodir menuturkan, pertama mengenal sufi karena ajakan pamannya yang mengajaknya berlatih. Dia membutuhkan waktu dua minggu untuk bisa bisa menguasai tarian tersebut.
Bahkan, dia harus berpuasa agar hilang rasa pusingnya. Alhasil, pemuda 23 tahun ini bisa menjadi penari sufi yang cukup terkenal. Dia sudah pernah tampil di beberapa kabupaten/kota di Indonesia. Bahkan mengikuti perform 1.000 penari sufi di Jakarta beberapa waktu lalu.
‘’Memang tidak pernah menyangka karena pengen belajar sufi ini, karena penasaran dan sekarang ketagihan dan menjadi kebiasaan,” terangnya. (rka/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto