Saat ini, kenaikan harga beli tebu kemungkinan karena ketersediaan stok dan biaya produksi tinggi. Imbasnya harga gula juga mulai naik di pasar. ‘’Kemungkinan untuk kebutuhan tebu tahun ini bertambah untuk ketersediaan stok di pabrikan, tapi masalah harga memang pabrik yang menentukan,” tutur Kasi Perkebunan Dinas KPP Lamongan Suryo Putro.
Dia menjelaskan, harga beli tebu dirilis dan pertimbangan kenaikannya dari pabrik. Sedangkan, pihaknya hanya menerima laporan mengenai harga secara keseluruhan.
Suryo mengatakan, secara luasan tanam tidak ada kenaikan dibandingkan sebelumnya yakni 3,6 ribu hektare (ha). Suryo mengatakan, banyak petani tebu yang beralih tanam palawija. Hal itu yang membuat jumlah produksi juga menyesuaikan dengan luasan, dengan provitas antara 50 ton per hektare untuk kualitas terbaik.
Dia memperkirakan, kenaikan ini kemungkinan dipengaruhi harga gula yang tinggi di pasaran. Selain itu, pengaruh lainnya yakni produksi di sejumlah kabupaten mengalami penurunan .
‘’Kalau jumlah produksi biasanya akhir musim giling baru diketahui, tapi secara luasan memang stagnan tidak ada kenaikan,” imbuhnya.
Menurut dia, sejumlah faktor mempengaruhi petani tebu beralih menanam palawija. Diantaranya upah buruh tinggi dan minimnya keuntungan yang diterima dari petani tebu.
Sebab, untuk tebu dibeli sesuai dengan kualitas rendemennya. Semakin tinggi rendemen harga juga menyesuaikan. Sebaliknya, jika kualitasnya buruk harga belinya juga turun.
Meski begitu, Suryo mengaku tetap melakukan pendekatan ke petani untuk tetap melakukan tanam tebu. Sebab, produksi tebu di Lamongan cukup membantu ketersediaan gula bagi masyarakat di Jawa Timur khususnya.
‘’Karena itu banyak yang beralih, ditambah petani tebu hanya panen sekali dalam satu tahun,’’ terangnya. (rka/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto