RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Stres merupakan respons alami tubuh ketika seseorang menghadapi tekanan, tantangan, atau perubahan dalam kehidupan. Meski dapat dialami oleh siapa saja, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Lantas, apa penyebabnya?
Menurut para ahli psikologi, kerentanan perempuan terhadap stres bukan berarti mereka lebih lemah secara mental. Sebaliknya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, hingga sosial yang saling berkaitan.
Pengaruh Hormon terhadap Respons Stres
Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan tingkat stres pada perempuan adalah perubahan hormon. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi, kehamilan, hingga menopause dapat memengaruhi suasana hati dan cara otak merespons tekanan.
Perubahan hormon tersebut dapat meningkatkan sensitivitas emosional pada sebagian perempuan, sehingga mereka lebih mudah merasa cemas atau tertekan ketika menghadapi masalah tertentu.
Baca Juga: 7 Tanda Sedang Mengalami Stres, Jangan Abaikan Gejala yang Muncul
Beban Peran yang Lebih Kompleks
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan menjalani berbagai peran sekaligus, seperti pekerja, ibu, istri, anak, maupun pengurus rumah tangga. Tuntutan untuk menjalankan semua peran tersebut secara bersamaan dapat meningkatkan tekanan psikologis.
Psikolog menjelaskan bahwa beban mental atau mental load sering kali tidak terlihat, tetapi sangat menguras energi. Perempuan kerap menjadi pihak yang mengingat berbagai kebutuhan keluarga, mengatur jadwal, hingga memastikan berbagai urusan rumah tangga berjalan lancar.
Lebih Peka terhadap Emosi
Dari sisi psikologi, perempuan umumnya memiliki kemampuan empati dan kepekaan emosional yang tinggi. Kemampuan ini menjadi kelebihan dalam membangun hubungan sosial, tetapi di sisi lain juga dapat membuat mereka lebih mudah menyerap tekanan emosional dari lingkungan sekitar.
Ketika anggota keluarga, pasangan, atau teman mengalami masalah, perempuan cenderung ikut merasakan beban emosional tersebut sehingga tingkat stres dapat meningkat.
Lebih Terbuka Mengungkapkan Perasaan
Menariknya, tingginya angka stres pada perempuan juga dipengaruhi oleh kebiasaan mereka yang lebih terbuka dalam mengakui dan menceritakan kondisi emosionalnya.
Sebaliknya, sebagian laki-laki cenderung menekan atau menyembunyikan perasaan karena faktor budaya maupun norma sosial. Akibatnya, perempuan lebih sering tercatat mengalami stres dalam berbagai survei psikologis, meskipun bukan berarti laki-laki lebih jarang mengalaminya.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Kecil Ini Ampuh Atasi Stres dan Bikin Pikiran Adem Seketika
Faktor Sosial dan Lingkungan
Tekanan sosial juga menjadi penyebab penting. Perempuan sering menghadapi ekspektasi tinggi terkait penampilan, karier, keluarga, hingga kehidupan pribadi. Paparan media sosial yang menampilkan standar hidup ideal juga dapat memicu rasa tidak percaya diri, kecemasan, dan stres berkepanjangan.
Selain itu, pengalaman diskriminasi, pelecehan, maupun ketidaksetaraan di lingkungan kerja dapat menjadi sumber tekanan tambahan bagi sebagian perempuan.
Cara Mengelola Stres
Psikolog menekankan bahwa stres dapat dikelola apabila dikenali sejak dini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjaga pola tidur yang cukup dan berkualitas.
- Rutin berolahraga untuk membantu tubuh melepaskan hormon endorfin.
- Melakukan relaksasi, meditasi, atau latihan pernapasan.
- Membatasi penggunaan media sosial apabila mulai memicu kecemasan.
- Berbagi cerita dengan keluarga, teman, atau tenaga profesional seperti psikolog.
- Menyisihkan waktu untuk melakukan hobi dan aktivitas yang menyenangkan.
Kesimpulan
Perempuan memang dinilai lebih rentan mengalami stres berdasarkan berbagai penelitian psikologi. Namun, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelemahan mental, melainkan karena adanya kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial yang memengaruhi cara mereka menghadapi tekanan.
Dengan mengenali penyebab stres serta menerapkan strategi pengelolaan yang tepat, perempuan dapat menjaga kesehatan mentalnya dengan lebih baik. Apabila stres berlangsung dalam waktu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental merupakan langkah yang bijak untuk mendapatkan penanganan yang sesuai. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko