RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dunia kesehatan serta pariwisata saat ini sedang bersiap diri menghadapi potensi persebaran virus Nipah, yang saat ini melanda India sejak pertengahan Februari. Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) juga mewanti-wanti masyarakat Indonesia sejak Selasa (27/1).
“Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia. Namun penyakit zoonosis (menyebar melalui hewan) ini perlu diwaspadai,” jelas Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam keterangan resmi kementerian saat itu.
Menurut The Independent, hingga Rabu (28/1) 200 warga Benggala Barat saat ini dikarantina atas dugaan persebaran penyakit tersebut, dan lima warga meninggal akibat virus tersebut. Beruntung, semuanya menunjukkan hasil negatif meskipun diduga berkontak dengan penderita.
Memang benar hingga saat ini, persebaran virus Nipah hanya terbatas di wilayah India, namun tentu tidak ada yang ingin mengulangi peristiwa pandemi dunia seperti persebaran virus Covid-19 pada 2020 silam. Terlebih menimbang bahwa Covid dahulu menular melalui masyarakat yang berpergian dari dan ke luar negeri.
Sehingga berbagai negara, termasuk Indonesia saat ini membatasi perjalanan menuju India. Selain itu, masyarkaat juga diwanti-wanti mewaspadai keberadaan kelelawar, dan menghindari buah-buahan dan pohon aren yang sudah digigit kelelawar.
"Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar. Kemudian cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi," papar Juru Bicara Kemenkes, Widyawati dalam keterangan resmi kementerian.
Serupa dengan Covid, menurut catatan Alodokter, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) dan Pusat Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC), infeksi virus Nipah memiliki gejala serupa dengan flu biasa, sehingga perlu hati-hati dalam penanganannya. Virus Nipah memiliki masa inkubasi selama empat hari hingga tiga minggu untuk menjangkiti tubuh manusia.
Gejala ringan yang dapat muncul pada waktu tersebut diantaranya:
- Demam mendadak
- Sakit kepala
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Susah bernafas
- Diare
- Muntah
Jika tidak segera diobati, dapat muncul gejala yang lebih serius, diantaranya:
- Sering mengantuk
- Kesulitan untuk fokus dan bekonsentrasi
- Kejang
- Disorientasi, atau bingung sedang berada di mana dan waktu saat ini
- Hilang kesadaran sebagaian atau sepenuhnya
Jika masih belum tertolong, penderita virus Nipah dapat mengalami kerusakan otak dan menyebabkan penyakit seperti meningitis dan pembengkakan otak, atau encephalitis. Ini pula mengapa virus Nipah memiliki tingkat kematian yang tinggi, yakni antara 40 hingga 75 persen.
Sayangnya, hingga saat ini belum metode pengobatan yang secara langsung dapat menyembuhkan virus Nipah. Saat ini penanganan virus Nipah masih bersifat suportif, menggunakan metode imunoterapi untuk mengenalkan antibodi ke dalam tubuh. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana