RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam keseharian, banyak orang mengira bahwa makanan adalah penyebab utama alergi kulit. Namun, menurut dr. Sri Awalia Febriana, M.Kes., Sp.DVE., SubSp DAI PhD, pemicu yang lebih dominan justru berasal dari lingkungan, terutama udara yang tercemar.
"Iya, jadi memang semua penyakit alergi itu kan memang utamanya dipicu oleh paparan bahan alergen. Nah, alergen itu memang paling banyak sebenarnya alergen yang ada di udara, di lingkungan," jelasnya dilansir dari Youtube FKKMK UGM Official.
Baca Juga: Baru tahu? Ternyata Bukan dari Makanan, Ini Pemicu Alergi Kulit yang Sebenarnya
Polusi udara dari asap kendaraan, debu industri, dan partikel kimia disebut sebagai aero alergen. Menurut beliau, paparan ini menjadi pemicu utama alergi kulit, bahkan lebih besar dibandingkan makanan yang selama ini kerap disalahkan. “Sebenarnya (penyebab alergi dari udara) lebih banyak dibandingkan makanan ternyata,” ungkapnya.
Banyak orang tak menyadari bahwa gaya hidup sehari-hari turut memperburuk kondisi kulit, seperti penggunaan kosmetik yang terlalu keras.
“Kita sering menyalahkan makanan sebagai penyebab alergen. Tapi ternyata (alergen) dipicu lingkungan, atau bahkan dia pakai kosmetik yang terlalu menggerus kulit gitu. Membuat barrier kulit (tipis),” ujar spesialis dermatologi dan venereologi ini.
Baca Juga: Efek Joging Pagi dan Sore Hari Terhadap Kesehatan Kulit Menurut Ahli Dermatologi
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kulit adalah pertahanan utama tubuh dari luar. Karena itu, merawat kulit seharusnya berfokus pada penguatan lapisan pelindung tersebut, bukan justru merusaknya.
“Sabunnya jangan yang terlalu antiseptik, jangan yang terlalu banyak parfum, jangan terlalu pakai pemutih,” tegasnya. Menurutnya, produk-produk seperti itu justru mengikis perlindungan alami kulit.
Penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar, terutama udara yang dihirup setiap hari. Edukasi seperti ini menjadi langkah awal dalam mencegah gangguan kulit yang kerap muncul tanpa disadari sumbernya. (kam)
Editor : Hakam Alghivari