Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soegiri Lamongan: Ini yang Harus Diperhatikan Saat Melatih Anak Berpuasa

Hakam Alghivari • Selasa, 19 Maret 2024 | 01:30 WIB

dr. Aty Firsiyanti, Sp. A, Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soegiri Lamongan
dr. Aty Firsiyanti, Sp. A, Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soegiri Lamongan
LAMONGAN, Radar Lamongan - Berpuasa di Bulan Ramadan wajib hukumnya bagi muslim yang sudah baligh. Sehingga, anak-anak perlu dilatih berpuasa sejak dini. Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soegiri Lamongan, dr. Aty Firsiyanti, Sp. A memiliki sejumlah fase dalam melatih anak berpuasa.

Fase memperkenalkan puasa sejak usia 3-4 tahun, dengan mengajak anak sahur dan berbuka. Tujuannya agar bisa merasakan bulan puasa. Kemudian anak usia 6-7 tahun sudah bisa belajar berpuasa, yang di awali dengan berpuasa 3-4 jam lebih dulu. Harapannya, anak sudah bisa memulai berpuasa penuh ketika berusia 10 tahun.

Selain memperkenalkan berpuasa, orang tua juga perlu memperhatikan asupan gizi anak. dr. Aty mengatakan, anak masih dalam tahap tumbuh dan berkembang. Makanan berfungsi untuk penghasil energi dalam menjalankan aktivitas, serta mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Kemudian juga menunjang proses tumbuh kembang dan membentuk sistem kekebalan tubuh.

Pada situasi normal, mereka makan besar 3 kali dan 2-3 kali makan selingan setiap harinya. Sedangkan saat berpuasa anak hanya makan dua kali, dan snack ketika berbuka. Sehingga orang tua harus lebih aktif dengan mencukupi kebutuhan nutrisi anak, dan memastikan mereka dalam keadaan sehat untuk berpuasa. Sediakan jumlah dan jenis makanan yang tepat, kemudian ajak anak sahur mendekati imsak, dan berbuka lebih cepat.

Jika anak memiliki penyakit sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter. Selain itu, kebutuhan cairan juga harus terjaga agar tidak sampai dehidrasi. Untuk berbuka sebaiknya anak mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik yang tinggi. Yakni makanan yang bisa meningkatkan kadar gula darah secara cepat tapi singkat, seperti roti manis, donat, atau corn flake (sereal jagung).

Saat berbuka sebaiknya jangan makan berlebihan, karena tubuh akan bekerja lebih berat. Sehingga mengganggu proses tidurnya. dr. Aty mengatakan, orang tua juga harus memperhatikan pola tidur anak. Sebab, proses tidur anak akan mempengaruhi proses tumbuh kembangnya. Dalam prosesnya, pola tidur akan mempengaruhi pertumbuhan tubuh dan otak, memperbaiki sel-sel tubuh, memulihkan tubuh agar berfungsi optimal, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Mengatur pola tidur anak akan membuat mereka lebih fokus, konsentrasinya tinggi, dan daya ingatnya lebih panjang. Sebaiknya membiasakan pola tidur siang dan tidur lebih awal, agar memudahkan ketika bangun sahur. Untuk tidur siang dilakukan di atas jam 14.00 selama 40 menit. Karena pada waktu menjelang sore hormon melatonin yang berfungsi menimbulkan rasa kantuk mulai bekerja. Hal penting lain yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan hipoglikemia (gula darah rendah). (rka)

Editor : Hakam Alghivari
#ramadan #Latihan #dokter #puasa #anak #lamongan