RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Belum satu hari ditetapkan sejak Rabu (8/4), gencatan senjata yang disetujui antara Iran dan Amerika Serikat sudah diguncang insiden signifikan. Yang lebih mengherankan lagi, pelakunya bukan berasal dari dua negara tersebut.
Sebelumnya, Israel melalui Perdana Menteri (PM) mereka, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa mereka tidak mengakui Lebanon sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam gencatan senjata tersebut. Benar saja, Kamis pagi WIB (9/4) Israel kembali menghujani Lebanon dengan serangan rudal.
Menurut Al-Jazeera, 254 warga Lebanon meninggal dalam serangan tersebut, dan hingga 1.165 penduduk setempat mengalami luka-luka. Israel sendiri membela diri dengan menyebut target serangan mereka, berupa fasilitas dan instalasi milik pasukan Hezbollah, berada di tengah pemukiman warga.
“Mayoritas infrastruktur yang disasar oleh militer Israel berada di tengah pemukiman warga. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghindari korban jiwa masyarakat sipil,” bunyi pernyataan pihak militer Israel sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera.
Tentu, pemerintahan Lebanon mengecam serangan tersebut. Selain melanggar gencatan sejata, serangan tersebut juga menambah daftar panjang serangan terhadap kemanusiaan serta kejahatan perang yang sudah dilakukan Israel.
Baca Juga: Iran dan Amerika Serikat Akhirnya Sepakat Gencatan Senjata, Israel Isyaratkan Tetap Serang Lebanon
“Israel masih mengabaikan segala upaya dalam dan luar negeri untuk menghentikan peperangan. Terlebih mereka juga masih hobi melanggar hukum internasional dan hukum kemanusiaan internasional yang tak pernah mereka gubris,” ungkap PM Lebanon, Nawaf Salam.
Yang cukup mencolok, Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot nyaris menjadi salah satu korban serangan rudal Israel. Menurut Prevot yang kala itu kembali dari pertemuan dengan pemerintah Lebanon, salah satu rudal mendarat di dekat Kedubes Belgia untuk Lebanon. Beruntung, Prevot dan staf kantor Kedubes tidak mengalami luka serius.
“Saya berada di Kedubes bersama para duta saya, hanya beberapa ratus meter dari tempat mendaratnya rudal. Peperangan ini harus dihentikan, dan gencatan senjata antara AS, Israel dan Iran harus melibatkan Lebanon,” ujar Prevot di media sosial pribadi usai serangan tersebut.
Akibat insiden tersebut, Iran melalui garda revolusi mereka (IRGC) memutuskan untuk menutup kembali Selat Hormuz pada Kamis, setelah sebelumnya dibuka kembali secara terbatas sejak Rabu. Iran sendiri tetap memerintahkan kapal yang masih ingin melintas untuk berkoordinasi dengan militer mereka untuk pengawalan saat gencatan senjata disetujui.
Sebagai gantinya, mereka menawarkan jalur alternatif bagi kapal yang ingin melintasi selat tersebut. Selain itu, IRGC mengisyaratkan memasang ranjau kapal sepanjang Selat Hormuz untuk menghancurkan kapal pihak lawan yang nekat melintas.
“Seluruh kapal yang berniat melintasi Selat Hormuz diperintahkan untuk melintasi jalur alternatif demi keamanan secara umum, serta untuk menghindari ranjau laut,” bunyi rilis IRGC sebagaimana dikutip dari The Straits Times. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana