Amerika Serikat (AS) benar-benar keterlaluan.
Negara berdaulat seperti Venezuela kembali menjadi sasaran. Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dikabarkan ditangkap dan diterbangkan ke New York untuk dijebloskan ke penjara.
Kabar ini sungguh di luar nalar.
Namun, siapa yang berani melawan Amerika Serikat? Negeri adidaya dengan status super power itu memiliki kekuatan militer yang nyaris tak tertandingi. Ekonominya adalah yang terbesar di dunia. Mata uangnya, dolar AS, menjadi alat transaksi global. Hampir seluruh perdagangan internasional—termasuk minyak bumi—menggunakan dolar, bukan rupiah atau bahkan riyal Arab Saudi.
Kombinasi kekuatan militer, ekonomi, dan dominasi dolar menjadikan AS negara paling berpengaruh di planet ini. Tak heran jika negara itu kerap mencampuri urusan negara lain, melakukan intervensi politik, bahkan menggulingkan pemerintahan yang sah.
Sejarah mencatat, pada 2003 AS menyerang Irak, negara berdaulat di bawah kepemimpinan Saddam Hussein. Dalihnya: Irak dituduh mengembangkan senjata pemusnah massal.
Menurut versi Washington, invasi adalah satu-satunya cara menghentikan ancaman tersebut. Namun setelah Irak hancur porak-poranda, senjata pemusnah massal yang dimaksud tak pernah ditemukan.
Hingga 2026, bukti itu tetap nihil.
Kini, Venezuela menjadi sasaran berikutnya. Presiden AS Donald Trump menuduh Nicolás Maduro menjalankan bisnis narkoba skala besar yang merusak warga Amerika karena narkoba tersebut diekspor ke AS. Lagi-lagi, invasi disebut sebagai solusi.
Belakangan, alasan itu berubah. Dunia internasional mengecam karena tudingan tersebut dianggap tak masuk akal. Trump pun akhirnya berterus terang: alasan sesungguhnya adalah minyak bumi.
Menurut Trump, Venezuela merugikan perusahaan-perusahaan minyak AS dengan memutus kontrak kerja secara sepihak sejak era Presiden Hugo Chávez. Padahal, Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia—sekitar 333 miliar barel—jauh melampaui Arab Saudi yang memiliki sekitar 267 miliar barel.
Selama ini, sebagian besar minyak Venezuela diekspor ke Tiongkok, rival utama AS dalam persaingan ekonomi global. Dengan menguasai Venezuela, AS berharap dapat menekan Tiongkok agar tidak melampaui dominasinya.
Dengan demikian, penyerangan AS ke Venezuela sejatinya bukan semata urusan Maduro, melainkan bagian dari perang geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tak heran, ketika AS memblokade kapal-kapal minyak Venezuela, pihak pertama yang bereaksi keras adalah Tiongkok—pembeli utama minyak negara tersebut.
Ironisnya, meski kaya minyak, Venezuela justru terjerembap dalam kekacauan. Ekonominya runtuh, inflasi meroket hingga ratusan persen per tahun, mata uangnya anjlok, dan kemiskinan merajalela. Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah embargo ekonomi AS.
Venezuela tidak leluasa menjual minyaknya karena banyak negara takut terkena sanksi AS. Hanya segelintir negara, seperti Tiongkok dan Iran, yang berani membeli minyak Venezuela secara rutin.
Kemiskinan dan kehancuran ekonomi Venezuela pada akhirnya bukan semata kesalahan internal. Ada peran besar Amerika Serikat di baliknya—negara super power yang kerap berbicara tentang demokrasi, namun tak segan menindas negara lain demi kepentingannya sendiri. (NURKOZIM)
Editor : M. Nurkhozim