RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah ditemukan pertama kali pada Juli lalu, komet 3I/ATLAS kembali menjadi perhatian pada akhir bulan Oktober. Pasalnya, pada Kamis (30/10) komet tersebut mencapai titik perihelion, atau titik terdekat dengan matahari.
Badan antariksa Amerika Serikat, NASA menjamin bahwa komet tersebut tidak akan membahayakan bumi. Sebab orbit asteroid tersebut lebih lebar ketimbang lingkar orbit matahari, dan saat pertama ditemukan komet sudah menjauhi bumi.
“Komet 3I/ATLAS akan berada pada titik perihelion dengan jarak 210 juta kilometer dari bumi. Kira-kira terletak di dalam orbit planet Mars,” bunyi pernyataan resmi dari NASA pada Juli lalu.
Mungkin bagi maysarakat awam muncul pertanyaan, kenapa komet tersebut dinamai 3I/ATLAS? Ternyata penamaan komet ini memiliki dasar yang menarik dan bersejarah, namun cukup mudah dipahami.
Menurut catatan NASA, komet ini merupakan komet ketiga yang dikelompokkan sebagai objek antarbintang, atau interstellar.
“Peneliti astronomi mengelompokkan kelompok ini sebagai objek antarbintang berdasarkan jalur orbitnya. Karena tidak mengikuti orbit matahari, ketika jalur orbit komet ditarik mundur, komet ini diperkirakan berasal dari luar tata surya,” bunyi penjelasan dalam arsip NASA.
Benda atau objek antarbintang yang telah ditemukan sebelumnya juga berupa komet, yakni 1I/ ʻOumuamua dan 2I/Borisov. Komet 1I/ ʻOumuamua ditemukan di Hawai’i pada 2017, sementara komet 2I/Borisov ditemukan pada 2019. Komet 3I/ATLAS sendiri ditemukan di Rio Hurtado, Chile.
Saat komet 1I/ ʻOumuamua ditemukan, awalnya komet ini diklasifikasikan sebagai asteroid atau batuan angkasa biasa, karena tidak memiliki inti seperti komet. Namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak hanya batu tersebut memiliki sifat dan wujud lebih mirip komet, orbit komet tersebut juga ternyata jauh lebih lebar dan tidak termasuk dalam orbit tatat surya, sehingga dikonfirmasi sebagai objek antarbintang pertama yang diketahui oleh manusia.
Karena temuan luar biasa tersebut, Persatuan Astronomi Dunia (IAU) membuat klasifikasi baru untuk menamai objek antarbintang. Formatnya berupa urutan angka urutan temuan, diikuti huruf ‘I’ untuk menandakan objek interstellar atau antarbintang, dan diikuti garis miring serta tahun ditemukannya objek tersebut.
Sehingga awalnya temuan komet tersebut dinamai 1I/2017 U1, namun IAU juga membolehkan pemberian nama sebutan atau panggilan untuk memudahkan identifikasi. Setelah berdiskusi sebentar, NASA dan Universitas Hawai’i sebagai pihak penemu sepakay untuk menamai komet tersebut ‘Oumuamua, yang dalam bahasa Hawai’i berarti pendahulu atau pengantar.
Dua tahun kemudian pada 2019, komet 2I/Borisov ditemukan di Ukraina. Kala itu, komet ditemukan pertama kali soerang diri oleh peneliti setempat, Gennadiy Borisov, sehingga disepakati bahwa komet tersebut diberi panggilan 2I/Borisov, atau cukup komet Borisov sebagai dilaporkan oleh media massa setempat. Sebagai catatan, IAU memberi nama resmi komet tersebut sebagai 2I/2019 Q4.
Akhirnya pada Juli lalu, komet 3I/ATLAS ditemukan oleh para peneliti yang tergabung dalam proyek ATLAS, sebuah proyek pembangunan alat peringatan masuknya asteroid ke bumi. Sehingga disepakati bahwa selain diklasifikasikan sebagai C/2025 N1 dalam klasifikasi komet umum IAU, komet tersebut juga dinamai 3I/ATLAS, untuk mewakili seluruh anggota proyek yang menemukan komet tersebut. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana