RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah melancarkan aksi pada Kamis (10/9) dan kabur dari kejaran polisi, Kepolisian Negara Bagian Utah, Amerika Serikat akhirnya dapat menangkap pelaku penembakan aktivis politik muda setempat, Charlie Kirk. Penangkapan tersebut diumumkan pada Jumat malam waktu setempat (12/9), atau kurang lebih Sabtu pagi WIB.
Penangkapan tersangka pertama kali diumumkan oleh Gubernur Negara Bagian Utah, Spencer Cox, melalui konferensi pers pemerintahan. Tersangka diketahui sebagai salah satu pemuda setempat bernama Tyler Robinson, dengan dugaan motif perselisihan pandangan politik.
Sebelumnya, Charlie Kirk, aktivis dan politisi muda sayap kanan AS ditembak di leher dengan senjata api hingga meninggal dunia saat melaksanakan diskusi dan debat terbuka bersama ribuan mahasiswa. Pria 31 tahun yang terkenal dekat dengan Donald Trump tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong karena kehabisan darah.
“Ini adalah serangan kepada kita semua. Ini adalah serangan terhadap eksperimen Amerika. Ini adalah serangan terhadap gagasan kita semua,” ujar Cox menanggapi penangkapan Robinson.
Mengutip dari CNN dan BBC, dari hasil penyelidikan, keluarga Robinson berhasil mendorong pemuda berusia 22 tahun tersebut menyerahkan diri ke kepolisian setempat. Robinson sempat berencana kabur dan bunuh diri, namun ayahnya memanggilkan seorang pemuka agama yang juga merupakan satpam pengadilan setempat untuk membantunya menenangkan diri.
Keluarga Robinson sendiri, yakni sang ayah memastikan bahwa anaknya merupakan tersangka penembakan Kirk melalui foto-foto yang tersebar luas di media sosial. Selain itu dalam beberapa foto juga terdapat mobil pribadi Kirk di wilayah TKP.
“Sehari setelah penembakan, seorang anggota keluarga Robinson memanggil teman mereka dan bersama-sama menyerahkan Robinson ke pihak berwajib. Kemudian salah satu anggota keluarga lain mengingat bahwa beberapa hari sebelum penembakan, saat makan malam bersama, Robinson bercerita tentang rencananya ke UVU (Utah Valley University, TKP penembakan),” jelas Cox membacakan hasil investigasi.
Diketahui, Robinson juga secara gamblang menyatakan mengapa dirinya memutuskan melakukan tindak keji terhadap Krik saat makan malam. Selain itu pihak keluarga mengatakan jelang aksi penembakan, Robinson yang dikenal sebagai anak baik-baik tiba-tiba rajin membahas dunia politik, sehingga membentuk dugaan politik sebagai motif pembunuhan.
“Menurut keluarga tersangka, akhir-akhir ini dia sering membahas politik nasional dengan menggebu-gebu. Saat makan malam, tersangka berbicara tentang ketidaksukaannya terhadap Kirk dan pandangan politiknya, dengan nada penuh kebencian,” ujar Gubernur Cox.
Menurut UVU sendiri, Robinson pernah berkuliah di kampus milik mereka, namun hanya untuk satu semester pada 2021 silam. Pria asal distrik Washington, negara bagian Utah tersebut sebelumnya berkuliah di Utah Tech University, dan saat penembakan berlangsung merupakan mahasiswa Dixie Tech College.
Di samping keluarga, teman-teman online Robinson di media sosial Discord juga diperiksa kepolisian, namun diketahui tidak terlibat dalam aksi tersebut. Aktivitas Robinson di Discord diketahui oleh teman sekamarnya saat menjalani pemeriksaan kepolisian.
“Pesan-pesan yang dikirim oleh Tyler berisi tentang mengambil senjata api dari suatu tempat dan memindahkannya ke dekat TKP, kegiatan mengawasi tempat disembunyikannya senjata, dan menyembunyikan senjata dengan handuk,” lanjut Gubernur Cox membacakan hasil penyelidikan.
Hingga saat ini penyelidikan terhadap Robinson masih berlanjut untuk menggali secara pasti motif penembakan di samping urusan politik. Sementara itu, pengadilan kasus pembunuhan dijadwalkan pada 16 September mendatang. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana