RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidak hanya masyarakat Palestina yang tinggal di wilayah Jalur Gaza, banyak jurnalis dari berbagai belahan dunia yang turut menjadi korban kekejaman peperangan di wilayah tersebut. Bahkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut jumlah jurnalis yang gugur dalam tugas lebih dari dua ratus personel per Agustus 2025.
Terbaru, empat jurnalis dari kantor berita Al-Jazeera serta tiga jurnalis independen tewas setelah terkena serangan pasukan militer Israel (IDF) pada 10 Agustus lalu. Sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera dan BBC, serangan tersebut dilancarkan Israel dengan dalih sebagian dari mereka merupakan anggota jaringan Hamas, namun IDF tidak memiliki bukti atas tuduhan tersebut.
“Hukum internasional sudah jelas bahwa peperangan hanya boleh menyasar ke sesama tentara sebagai target sah. Tidak ada bukti dari Israel yang mengindikasikan mereka merupakan anggota Hamas,” papar CEO Komite Perlindungan Jurnalis Internasional (CPJ), Jodie Ginsberg kepada BBC pertengahan Agustus lalu.
Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric juga berpendapat serupa. “Para jurnalis dan pekerja bidang media harus dihormati, dilindungi dan memiliki kebebasan untuk bekerja tanpa rasa takut dan terganggu,” ujarnya dalam pernyataan resmi organisasi.
Menurut PBB sebagaimana disampaikan Dujarric, dalam peperangan tiga tahun di Jalur Gaza hingga 2025, sudah ada 242 jurnalis yang gugur dalam tugas mereka di wilayah tersebut. “Dewan Sekjen PBB mendorong penyelidikan independen dan berimbang terhadap pembunuhan mereka,” ungkap Dujarric.
Menurut laporan Nick Turse dalam jurnalnya untuk Type Media Center dan Brown University, jumlah tersebut jauh lebih banyak dari jumlah jurnalis yang gugur saat meilput Perang Dunia II. Namun jumlah tersebut hanya meliputi jurnalis dari negara-negara sekutu, sebanyak 69 jiwa.
Sekjen Federasi Jurnalis Internasional (IFJ), Anthony Bellanger punya perkiraan serupa, juga untuk jurnalis dari negara sekutu. “Sekitar 60 hingga 80 jurnalis gugur dalam tugas antara tahun 1939 hingga 1945,” jelas Bellanger kepada Newsweek.
Bahkan menurut data IFJ, jumlah jurnalis yang gugur di Jalur Gaza juga lebih banyak ketimbang jurnalis yang gugur dalam peperangan antara Rusia dan Ukraina yang juga berlangsung saat ini, yakni 29 jiwa.
Sementara itu, perang antara Irak dan Amerika Serikat sejak 2003 hingga 2011 memiliki jumlah jurnalis yang menjadi korban jiwa terbanyak kedua. Diketahui sebanyak 228 jurnalis gugur saat bertugas meliput perang yang menjadi salah satu respon AS atas peristiwa serangan 11 September tersebut.
Selain jurnalis, PBB juga menyoroti rencana Israel untuk mengambil paksa Jalur Gaza, serta menyoroti bencana kelaparan yang melanda anak-anak di Gaza akibat peperangan tersebut. Sehingga tidak hanya mendorong gencatan senjata, PBB juga meminta Israel mematuhi hukum internasional untuk membolehkan penyaluran bantuan kemanusiaan.
“Kelaparan merupakan bencana buatan manusia, hukuman moral, dan bukti kegagalan umat manusia. Sebagai pihak yang menduduki paksa wilayah tersebut, Israel punya kewajiban tidak terbantahkan untuk membuka saluran bantuan kemanusiaan, baik makanan maupun medis,” jelas Sekjen PBB Antonio Guterres pada Jumat (22/8). (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana