RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menunaikan salat di Masjidil Haram menjadi impian setiap jemaah haji. Namun, bagi sebagian jemaah asal Bojonegoro, tidak semua waktu salat dijalani di masjid suci tersebut. Jarak hotel yang cukup jauh membuat mereka memilih mengatur tenaga demi menghadapi rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Jemaah haji asal Desa/Kecamatan Purwosari, Umi Zumrothin, mengaku dirinya dan rombongan tidak selalu melaksanakan salat lima waktu di Masjidil Haram. Selain faktor jarak, kondisi fisik menjadi pertimbangan utama.
“Paling sehari ada waktu salat yang dilakukan di Masjidil Haram,” ujarnya.
Perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Purwosari itu menjelaskan, langkah tersebut sengaja dilakukan agar stamina tetap terjaga menjelang fase puncak ibadah haji yang membutuhkan tenaga lebih besar.
“Harus hemat tenaga dan energi untuk persiapan Armuzna,” terangnya saat dihubungi Radar Bojonegoro kemarin.
Baca Juga: Cuaca Panas Menjelang Puncak Ibadah Haji, CJH Diminta Jaga Kesehatan Fisik
Menurut Umi, persiapan menuju puncak haji bukan hanya soal fisik. Ia juga berupaya mempersiapkan diri secara batin dan spiritual dengan memperbanyak introspeksi serta mendekatkan diri kepada Allah.
Selain menjaga kesehatan, ia mengaku berusaha merenungkan dan memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, baik disengaja maupun tidak.
“Pokoknya benar-benar mengosongkan diri di hadapan Allah,” lanjutnya.
Sementara itu, Amirul Hajj Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani, Sholikin Jamik, mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik selama musim haji. Menurutnya, jemaah perlu bijak mengatur aktivitas ibadah agar tidak mengalami kelelahan sebelum memasuki puncak pelaksanaan haji.
“Jemaah harus menjaga kondisi fisik agar tetap prima menghadapi rangkaian ibadah pada puncak haji mendatang,” pungkasnya. (ewi/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana