RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Melaksanakan ibadah haji di usia senja adalah sebuah keistimewaan yang luar biasa. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa cuaca ekstrem di Arab Saudi dan padatnya lautan manusia menuntut kesiapan fisik yang tidak main-main. Bagi jemaah lansia, kunci haji yang mabrur dan khusyuk terletak pada satu kata: Persiapan.
Agar ibadah di tahun 2026 ini berjalan lancar tanpa kendala kesehatan yang berarti, berikut adalah strategi "Haji Ramah Lansia" yang dirangkum dari Buku Tuntunan Manasik Kemenhaj RI.
1. Memburu Status "Istitha'ah" Kesehatan
Sebelum terbang, jemaah lansia wajib melewati pemeriksaan kesehatan ketat di Puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat. Tujuannya bukan untuk menghalangi, melainkan memastikan status istitha'ah (kemampuan). Pastikan Anda rutin berkonsultasi mengenai obat-obatan pribadi yang harus dibawa selama 40 hari di sana.
Baca Juga: 6 Rukun Haji yang Wajib Diketahui Jemaah Haji 2026 agar Sah
2. Manasik: Bekal Ilmu Agar Hati Tenang
Jangan lewatkan sesi manasik haji. Memahami alur perjalanan sejak dari asrama haji hingga kembali ke tanah air akan mengurangi tingkat kecemasan (stres) pada lansia. Hati yang tenang adalah modal utama fisik yang kuat.
3. Cicil Pola Hidup Sehat dari Sekarang
Jangan menunggu sampai di Makkah untuk mulai berjalan kaki. Mulailah membiasakan jalan sehat di pagi hari sekitar rumah Anda di Bojonegoro atau daerah asal Anda. Hal ini penting untuk melatih jantung dan kaki agar tidak "kaget" saat harus berjalan jauh antara maktab dan masjid.
4. Jangan Paksakan Diri: Manfaatkan Teknologi & Fasilitas
Islam adalah agama yang memudahkan. Jika fisik tidak lagi memungkinkan untuk berjalan jauh, jangan ragu menggunakan fasilitas di lantai tiga Mezzanine Masjidil Haram:
Baca Juga: Kemenhaj Pastikan Tak Ada Haji Furoda, Arab Saudi Hanya Terbitkan Visa haji Resmi
-
Kursi Roda & Skuter Matik: Tersedia untuk Tawaf dan Sai.
-
Mobil Golf: Membantu mobilitas jemaah di area tertentu.
-
Dasar Hukum: Rasulullah SAW sendiri pernah melakukan Tawaf dengan menunggangi unta saat Haji Wada' (HR. Bukhari & Muslim) agar tetap terlihat oleh umatnya dan menghemat tenaga.
5. Mewakilkan (Badal) Lempar Jumrah
Melempar jumrah membutuhkan fisik yang sangat kuat karena harus berdesakan. Bagi lansia yang memiliki udzur (halangan sakit/lemah), diperbolehkan untuk mewakilkan (membadalkan) lempar jumrah kepada teman seregu atau petugas. Ini adalah keringanan syariat yang sah agar jemaah tetap aman.
6. Manajemen Istirahat yang Ketat
Godaan untuk terus beribadah di masjid memang besar, namun lansia wajib disiplin waktu istirahat. Gunakan waktu di maktab untuk tidur yang cukup dan pastikan asupan nutrisi dari katering haji dikonsumsi dengan baik.
7. Menjaga Hidrasi di Cuaca Ekstrem
Lansia sering kali kehilangan rasa haus meskipun tubuhnya kekurangan cairan. Mengutip jurnal kesehatan dari The Lancet, dehidrasi pada lansia dapat memicu kebingungan (delirium) dan kelelahan ekstrem. Sangat disarankan bagi jemaah lansia untuk minum air putih sedikit demi sedikit namun sering (minimal 2-3 liter per hari) tanpa menunggu haus, terutama saat berada di bawah terik matahari.
Haji ramah lansia adalah komitmen bersama. Dengan persiapan kesehatan yang matang dan pemahaman bahwa ada keringanan (rukhsah) dalam ibadah, jemaah lansia bisa pulang membawa predikat Haji Mabrur dalam kondisi sehat walafiat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko