Setiap sentuhan dari tangan Sutrisno mengandung ketulusan. Berbekal ilmu dari Suhu Ong Sinshe di Medan, Tris membantu pasiennya meraih kesembuhan.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
PAGI di Desa Klampok, Kecamatan Kapas selalu datang lebih awal bagi Sutrisno. Saat jarum jam belum sepenuhnya terjaga, antrean sudah lebih dulu mengular di depan rumah praktiknya.
Ada yang datang pukul 05.30 WIB, menunggu pintu dibuka tepat pukul 07.00 WIB. Di sanalah Tris, sapaannya, menyambut mereka dengan senyum, guyonan ringan, dan keyakinan yang tak pernah goyah.
Dengan ikhtiar yang selalu diusahakan untuk meraih kesembuhan. Tris bukan tabib dadakan. Ia murid dari Suhu Ong Sinshe asal Medan yang dikenal piawai menangani saraf kejepit, dislokasi, retak tulang, hingga cedera olahraga dengan metode pengobatan tradisional.
Sejak 2021, terapis 47 tahun tersebut membuka praktik. Sejak itu pula, hari-harinya nyaris tak pernah sepi.
Pasien datang silih berganti, rata-rata 20 hingga 27 orang per hari. Dari dalam kota Bojonegoro hingga Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Madura, Situbondo, Malang, Sidoarjo, Bandung, Bogor, Jakarta, hingga Sumatra.
‘’Sejak 2021 mulai buka, sampai sekarang selalu full pasien setiap hari,’’ ujarnya.
Semua bermula dari keprihatinan. Melihat banyak orang divonis operasi akibat saraf kejepit. Padahal, kata Pak Tris, operasi belum tentu menjadi akhir derita. Rasa sakit yang mengunci gerak, keluhan yang menggerogoti hari, itulah yang mendorongnya memilih jalan terapi. Bukan untuk menantang dunia medis, melainkan memberi pilihan lain bagi mereka yang ingin mencoba.
‘’Ingin membantu masyarakat luas yang selama ini terkena saraf kejepit yang sangat menyakitkan. Saya berguru di Medan pada suhu Ong Sinshe setelah Covid-19, 2021 lalu,’’ bebernya.
Keunikan Tris terletak pada caranya merawat rasa. Ia tahu, suara bor dan dentum mesin sering membuat pasien gentar sebelum terapi dimulai.
Bahkan, mengurungkan niat mengambil nomor antrean. Maka guyonan pun ditaburkan, mencairkan tegang, meredam takut.
Sentuhan tangannya bekerja bersamaan dengan ketulusan hati. ‘’Jika pasien ada keluhan yang tidak bisa saya tangani, saya merasa kasian. Karena kami jujur, kalau tidak bisa, bilang tidak bisa. Tapi, terkadang pasien memaksa untuk kami bantu,’’ kisahnya.
Ada duka ketika pasien memaksa ditangani padahal di luar kemampuannya. Ada suka saat melihat wajah yang datang tertunduk pulang dengan senyum.
Terapi di tempat Pak Tris seikhlasnya. Lebih dari 5.000 pasien telah tercatat datang, terlihat dari daftar hadir di tempat praktiknya.
Di luar ruang praktik, kepedulian sosial juga dirawat oleh Tris. Setiap Ramadan, berbagi beras untuk janda tua, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan.
Praktiknya libur setiap Jumat, memberi jeda bagi raga dan batin. Dengan dua orang anggota, ia menjaga ritme, menjaga niat. Untuk membantu mereka yang kesakitan, melalui pengobatan tradisional untuk penyembuhan. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko