Radar History: Badai Puyuh Robohkan 13 Rumah dan Gedung SD

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 07:40 WIB
BENCANA: Arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 30 Oktober 2002, mencatat 13 rumah dan sebuah gedung SD roboh karena diterjang angin. (DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)
BENCANA: Arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 30 Oktober 2002, mencatat 13 rumah dan sebuah gedung SD roboh karena diterjang angin. (DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Badai angin puyuh menghantam dua kecamatan di Bojonegoro 24 tahun silam. Berdasar koran Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 30 Oktober 2002, ada 13 rumah dan sebuah gedung sekolah dasar (SD) roboh karena kejadian tersebut.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, tapi kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Badai angin puyuh itu terjadi di Desa Bobol, Kecamatan Sekar, dan Desa Sumberrejo, Kecamatan Margomulyo. Data di lokasi kejadian menyebutkan, badai angin puyuh yang terjadi di Desa Bobol memporak-porandakan enam rumah warga dan 1 bangunan SD. Rumah-rumah tersebut milik Bari, 50; Basirun, 40; Kasimah, 45; Kairan, 46; Jono, 30; dan Miran, 48.

Baca Juga: Radar History: Hujan Angin Terjang 62 Bangunan Bojonegoro

Sedangkan bangunan SD yang rusak berat adalah SDN 1 Bobol. Di Desa Sumberrejo, musibah tersebut meluluhlantakan tujuh rumah warga. Yakni, milik Nyaimin, 54; Radimun, 35; Sabar, 52; Maidi, 52; Juwarmi, 42; Parmi, 48; dan Lamijan. ‘’Itu data sementara rumah dan bangunan sekolah yang roboh,’’ kata Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial Pemkab Bojonegoro Mashuri.

Hingga berita ini ditayangkan saat itu, petugas masih kesulitan menjangkau rumah-rumah korban. Sehingga, pendataan korban dan kerugian yang diderita belum maksimal. ‘’Sampai saat ini (29 Oktober 2002, red) petugas kami masih mendata di lokasi kejadian,’’ ujar Mashuri.

Badai angin puyuh kali ini merupakan yang kedua di Bojonegoro selama setahun terakhir. Beberapa hari lalu, kejadian serupa memorak-porandakan puluhan rumah dan bangunan SD di Desa Tanggungan, Kalirejo, Nganti, Blimbinggede, Kecamatan Ngraho dan Desa/Kecamatan Dander.

Menurut Mashuri, musibah tersebut terjadi tak lepas dari gundulnya hutan akibat penebangan liar oleh warga sekitar beberapa waktu lalu. Meski demikian, dia mengimbau korban menerima musibah itu dengan lapang dada. ‘’Saya berharap warga introspeksi agar kejadian ini tidak terulang. Insyaallah, dalam waktu dekat, pemkab akan membantu para korban. Jumlahnya masih dibahas,’’ katanya. (yna/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro Badai angin puyuh bojonegoro Radar History