Binance Diduga Diretas Hacker Korea Utara, Ancaman Keamanan Kripto Kembali Jadi Sorotan


RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dunia aset kripto kembali dihebohkan dengan dugaan serangan siber yang menyasar Binance, salah satu bursa mata uang kripto terbesar di dunia. Insiden tersebut memunculkan dugaan keterlibatan kelompok peretas yang memiliki hubungan dengan Korea Utara.
Dugaan ini menjadi perhatian karena kelompok peretas asal Korea Utara selama beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan sejumlah pencurian aset digital berskala besar. Jika keterlibatan mereka dalam insiden Binance terbukti, kasus tersebut akan kembali memperlihatkan besarnya ancaman kejahatan siber terhadap industri keuangan digital.
Namun, dugaan keterlibatan pihak Korea Utara perlu dibedakan dari fakta yang telah dikonfirmasi. Atribusi serangan siber membutuhkan bukti teknis, seperti pola malware, infrastruktur digital, metode pencurian, serta hasil investigasi keamanan independen.
Perkembangan terbaru pada Minggu (1/11) memperkuat dugaan tersebut. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) secara resmi menyatakan bahwa Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset kripto senilai lebih dari US$6 miliar dari Binance.
Dalam pernyataan peringatan keamanan sibernya, FBI mengidentifikasi operasi tersebut sebagai TraderTraitor, kelompok operasi siber yang dikaitkan dengan Korea Utara. FBI menyebut pencurian kemungkinan terjadi pada Kamis (29/10).
Baca Juga: IHSG Kembali Melemah, Pasar Saham Indonesia Dibayangi Tekanan Global dan Kekhawatiran Investor
Menurut laporan Yonhap News Agency, para pelaku terpantau mengonversi aset hasil pencurian, terutama ke Ethereum. FBI bersama U.S. Secret Service dan Internal Revenue Service (IRS) juga memantau pergerakan aset tersebut untuk mengidentifikasi proses pencucian uang.
Mengutip laporan TechCrunch pada Kamis (30/10), investigasi awal Binance menunjukkan bahwa serangan diduga bermula dari perangkat laptop milik seorang insinyur Binance yang telah disusupi.
Akses tersebut memungkinkan pelaku masuk ke lingkungan sistem internal dan mengirimkan transaksi penarikan aset tanpa izin.
Penyerang diduga berhasil memindahkan aset kripto senilai sekitar US$6,3 miliar. Pergerakan dana berlangsung melalui sejumlah jaringan blockchain, dengan sebagian besar transaksi terjadi dalam waktu relatif singkat.
Binance menyatakan belum menemukan bukti bahwa private key dompet digital mereka mengalami kebocoran. Perusahaan juga menyebut sedang bekerja sama dengan mitra industri untuk melacak dan membekukan aset yang dicuri.
Nama TraderTraitor bukan pertama kali muncul dalam kasus pencurian aset digital. Kelompok ini dikaitkan dengan operasi siber Korea Utara dan memiliki hubungan dengan jaringan peretasan Lazarus Group.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

