Kerugian Kebakaran Pasar Randublatung Rp 1,3 Miliar

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:00 WIB
TAK ADA KORBAN JIWA: Arsip Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 27 Oktober 2002 memberitakan kebakaran Pasar Induk Randublatung Jalan Raya Randublatung Cepu sekitar pukul 01.00 pada 26 Oktober 2002. (ARSIP RADAR BOJONEGORO)
TAK ADA KORBAN JIWA: Arsip Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 27 Oktober 2002 memberitakan kebakaran Pasar Induk Randublatung Jalan Raya Randublatung Cepu sekitar pukul 01.00 pada 26 Oktober 2002. (ARSIP RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kejadian pahit menimpa Blora 24 tahun silam. Berdasar arsip Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro edisi 27 Oktober 2002, terjadi kebakaran Pasar Induk Randublatung Jalan Raya Randublatung Cepu sekitar pukul 01.00 pada 26 Oktober 2002. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian dari bangunan fisik saja ditaksir mencapai Rp 1,3 miliar. Itu belum termasuk barang-barang milik pedagang.

Menurut keterangan para saksi mata dan hasil penyelidikan, kemarahan si jago merah tersebut akibat korsleting di sebuah kios milik Siti Mariyam, 52, warga Desa Wulung, kecamatan Randublatung. Untuk memastikan penyebab kebakaran, Polres Blora mendatangkan Tim Labfor Polda Jateng.

Sujiman, 42, warga Wulung yang rumahnya berdekatan dengan lokasi pasar kepada Radar Bojonegoro mengatakan, seusai nonton tinju di sebuah stasiun TV sekitar pukul 01.00, dia keluar rumah. Saat itu dia melihat kobaran api di salah satu kios Pasar Randublatung yang belakangan diketahui milik Siti Mariyam. "Waktu itu api sudah cukup besar," kata Sujiman.

Baca Juga: Radar History: Hujan Angin Terjang 62 Bangunan Bojonegoro

Karena panik, pria yang juga mempunyai kios di dalam pasar tersebut langsung membunyikan kentongan untuk meminta bantuan. Setelah itu, dia langsung menyelamatkan barang-barang dagangan yang ada di kiosnya. "Beruntung saya berhasil menyelamatkan dagangan berupa pakaian meski ada yang tertinggal satu sak," akunya.

Sementara itu, warga sekitar pasar bersama petugas berusaha memadamkan api. Mobil pemadam kebakaran dari Pemkab Blora pun dikerahkan. Namun, api terus membesar hingga akhirnya seluruh kios di pasar tersebut ludes. Api baru padam sekitar pukul 05.00.

''Waktu itu kami berusaha sekuat tenaga melokalisasi api supaya tidak menjalar ke pemukiman pen-duduk," kata Kapolsek Randublatung Ipda Slamet.

Berdasar pantauan tim Jawa Pos Radar Bojonegoro, untuk proses penyelidikan, lokasi kebakaran dibatasi dengan garis polisi (police line). Sementara itu, di beberapa kios masih tampak kobaran api meski kecil. Menurut Kepala Dipenda Blora Heru Sutopo, bangunan pasar yang terbakar terdiri dari 23 kios, lima los, sebuah warung, dan sebuah bangunan tempat penitipan sepeda itu nilainya sekitar Rp 1,3 miliar.

Baca Juga: Radar History: Dana Proyek Ronggohadi Dipungli

Sementara itu, di Lamongan, tiga rumah milik Jimah, Tas, dan Katimin, ketiganya warga Dusun Sanur, Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung juga ludes dilalap si jago merah pada 26 Oktober 2002. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, namun kerugian ditaksir mencapai Rp 60 juta.

Sumber api yang mengakibatkan kebakaran sekitar pukul 06.00 itu hingga berita ditayangkan belum diketahui pasti. Hanya, menurut Kacung, warga setempat yang kali pertama mengetahui kejadian itu, kebakaran berasal dari rumah Tas. Saat itu dia sedang berangkat kerja dan melintas di jalan desa tersebut, melihat kepulan asap tebal yang disertai jilatan api membumbung dari atap rumah Tas. (yna/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro Pasar Induk Randublatung Kebakaran Pemkab Blora jawa pos radar bojonegoro