Menelusuri Jejak Sejarah Bojonegoro, Rampung dalam Setahun, Ajang Uji Gagasan dan Kajian Sejarah

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 07:00 WIB
SARASEHAN : Suasana bedah buku Maribong di Desa Payaman Kecamatan Ngraho. (YANA DWI/RADAR BOJONEGORO)
SARASEHAN : Suasana bedah buku Maribong di Desa Payaman Kecamatan Ngraho. (YANA DWI/RADAR BOJONEGORO)

Bojonegoro tak kurang pemuda pintar, cerdas, kreatif, dan inisiatif. Salah satunya Muhammad Andrea, yang berhasil merampungkan satu buku sejarah salam setahun. Sebelum diluncurkan, draf buku diuji dan dibedah lebih dulu. 


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


RUMAH khas Jawa itu tampak berbeda pada Rabu (19/8) malam. Dinding kayu dengan balutan ukiran cokelat menjadi saksi pertemuan warga, pegiat sejarah, mahasiswa, dan komunitas literasi.

Rumah tersebut merupakan kediaman Mbah Satinah di Dusun Merbong, Desa Payaman, Kecamatan Ngraho. Letaknya di ujung barat Bojonegoro. Dari tempat sederhana itu, sebuah perjalanan untuk membaca kembali sejarah Kota Ledre dimulai.

Malam itu, Muhammad Andrea memperkenalkan draf buku yang tengah digarapnya. Buku tersebut diberi judul Maribong: Menafsir Ulang Rentetan Sejarah Bojonegoro. Tak sekadar memperkenalkan isi buku, Andrea menjadikan sarasehan budaya dan bedah draf tersebut sebagai ruang untuk menguji gagasan sekaligus membuka dialog dengan masyarakat.

Bagi Andrea, pemilihan Dusun Merbong bukan tanpa alasan. Wilayah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kajian yang dituangkan dalam buku Maribong.

Baca Juga: Sandya Dewi Janitra, Komandan Paskibraka Jawa Timur 2026 Asal Kalitidu, Kaki Kanan Sempat Cedera 

"Pemilihan Dusun Merbong sebagai lokasi awal bukan tanpa alasan. Wilayah ini menjadi salah satu bagian penting dalam kajian yang diangkat dalam buku Maribong. Sehingga masyarakat setempat diharapkan dapat memberikan perspektif, informasi, maupun tanggapan terhadap hasil kajian yang telah disusun," tutur Andrea.

Tema yang diangkat dalam sarasehan tersebut adalah Membaca Sejarah Bojonegoro dalam Perspektif Prasasti Maribong 1264 M: Merbong-Payaman. Kegiatan itu merupakan kolaborasi KKN Unugiri Payaman, Komunitas Bojonegoro History, Pemerintah Desa Payaman, dan Takaloka.

Andrea menyebut, kegiatan tersebut menjadi bagian dari Tour Buku Maribong. Melalui kegiatan itu, dia ingin mempertemukan hasil kajian sejarah dengan masyarakat yang tinggal di wilayah yang menjadi bagian dari cerita tersebut.

"Melalui sarasehan dan bedah draf ini, Tour Buku Maribong diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan hasil kajian sejarah dengan masyarakat sekaligus membuka diskusi mengenai berbagai kemungkinan perspektif baru dalam membaca sejarah Bojonegoro," tuturnya.

Bagi pria asal Kecamatan Sugihwaras tersebut, menulis buku sejarah bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada kalanya ide terasa buntu dan inspirasi sulit ditemukan. Namun, proses tersebut justru memberinya banyak pelajaran.

Gagasan yang tumbuh sejak lama itu akhirnya dituangkan dalam sebuah buku. Setelah melalui proses panjang sekitar setahun, draf Maribong mulai diperkenalkan kepada publik.

"Buku ini berkolaborasi dengan Bojonegoro History dan Takaloka," ujarnya.

Sejarah untuk Generasi Muda

Di tengah perkembangan zaman, literasi sejarah lokal menjadi tantangan tersendiri. Tidak banyak bahan bacaan yang secara khusus mengangkat sejarah desa dan lingkungan sekitar. Kondisi itu membuat kegiatan seperti sarasehan budaya menjadi penting, terutama bagi generasi muda.

Baca Juga: Profesor Sri Minarti, Cetak Sejarah Guru Besar Pertama di Bojonegoro: Gelar Profesor Bukan Akhir dari Proses Belajar

Kepala Dusun (Kasun) Merbong, Desa Payaman, Zihaul Haq, menilai masyarakat perlu memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal sejarah di lingkungannya sendiri.

Menurut dia, pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan pengembangan potensi ekonomi. Ada identitas, budaya, dan sejarah yang juga perlu dirawat.

"Kalau kita ingin mengembangkan desa, menurut saya kita harus mengetahui terlebih dahulu sejarah desa ini. Kita harus tahu bagaimana asal-usulnya, apa yang pernah terjadi di sini, dan peninggalan apa yang masih ada," katanya.

Bagi Zihaul, memahami sejarah bukan sekadar mengingat masa lalu. Pengetahuan tersebut dapat menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan desa agar tetap memiliki identitas.

" Dengan memahami sejarah, kita tidak hanya mengetahui masa lalu, tetapi juga bisa menentukan bagaimana desa ini akan dikembangkan ke depan tanpa kehilangan identitasnya," imbuhnya.

Sejarah lokal juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari potensi wisata desa. Sebuah tempat, menurut Zihaul, tidak harus hanya dijual melalui keindahan alam atau kondisi geografisnya. Cerita yang melekat di balik tempat tersebut justru dapat menjadi daya tarik tersendiri.

"Wisata yang sudah ada di desa ini sebenarnya bisa kita branding lagi. Jangan hanya menunjukkan tempatnya, tetapi juga ceritanya. Kalau suatu tempat memiliki sejarah atau cerita yang berkaitan dengan masyarakat, itu bisa menjadi nilai tambah," tegasnya.

Pengunjung, lanjut dia, tidak hanya datang untuk melihat sebuah tempat. Mereka juga dapat mengetahui alasan tempat tersebut penting dan bagaimana keterkaitannya dengan sejarah masyarakat setempat. (*/zim)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Kecamatan Ngraho sejarah bojonegoro bojonegoro history kondisi geografis bojonegoro