Haryo Radityo Dhanurendro kerap menggunakan baju khas daerah dalam setiap kompetisi, terakhir mengenakan batik obor sewu di ajang ISCO Global Round di Kuala Lumpur, Malaysia.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
TIDAK hanya membawa kecerdasan, Haryo Radityo Dhanurendro juga membawa selembar kebanggaan dari tanah kelahiran ketika berkompetisi di negeri orang.
Radit memilih mengenakan Batik Obor Sewu. Pilihan sederhana itu menjadi cara memperkenalkan identitas daerahnya kepada dunia.
Sebelum akhirnya sukses mempersembahkan medali perak pada ajang International Science Challenge Olympiad (ISCO) Global Round di Kuala Lumpur, Malaysia.
Batik yang dikenakannya bukan sekadar pelengkap penampilan. Di balik setiap motif Obor Sewu, tersimpan cerita tentang Bojonegoro yang ingin dikenalkan kepada peserta dari berbagai belahan dunia.
Radit mengaku, keputusan mengenakan batik itu merupakan pilihannya sendiri. Setiap kali kompetisi internasional, sering menghadirkan tema busana tradisional, ia selalu ingin membawa identitas daerah asalnya.
"Dia ingin menunjukkan kalau berasal dari Bojonegoro, kota di Indonesia, sekaligus memperkenalkan batik khas Bojonegoro kepada teman-teman dari negara lain," tutur sang ibu, Dokter Nia sapaannya.
Baca Juga: Mengenal Semi Otomatisasi Sistem Akuatik Bojonegoro: Alatnya Sempat Macet, karena Kepanasan
Kecintaan Radit terhadap dunia sains telah tumbuh sejak usia dini. Ia gemar membaca buku pengetahuan dan menghabiskan waktu menonton tayangan bertema sains.
Kebiasaan sederhana itu perlahan menempa rasa ingin tahunya hingga mengantarkannya menjadi langganan juara dalam berbagai olimpiade.
Dia mengatakan, persiapan menuju ISCO Global Round dilakukan selama sekitar satu bulan.
Waktunya bertepatan dengan ujian akhir semester. Sehingga, harus pandai membagi waktu antara belajar di sekolah dan mempersiapkan materi lomba.
Hari-hari libur pun berubah menjadi ruang belajar yang tak pernah benar-benar sepi.
Meski telah mengoleksi banyak medali nasional maupun internasional, rasa gugup tetap tak bisa disembunyikan.
Menjelang perlombaan hingga malam sebelum pengumuman, Radit mengaku sulit memejamkan mata.
Jumlah peserta yang jauh lebih banyak dibanding biasanya membuatnya sempat dihantui kekhawatiran tidak membawa pulang penghargaan.
‘’Peserta kali ini cukup banyak dari biasanya. Banyak yang menangis karena tidak mendapat award. Sempat takut anaknya nangis juga, tapi alhamdulillah masih bisa pulang membawa medal untuk Indonesia,’’ kisahnya.
Prestasi tersebut melengkapi sederet pencapaiannya di tingkat internasional, setelah sebelumnya meraih medali emas pada ISOCSEA Global Round di Osaka, Jepang, serta medali perunggu pada STEMCO Science di Singapura.
Di tingkat nasional, puluhan medali juga telah dikoleksi dari berbagai ajang olimpiade sains dan bahasa Inggris.
Di balik keberhasilan yang tertorehkan, ada keluarga yang selalu berdiri di barisan terdepan.
Orang tua setia mendampingi setiap proses, guru-guru memberikan bimbingan tanpa henti, sementara sang adik, Narend, menjadi penyemangat yang tak pernah absen memberikan dukungan. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko