Annisa Azzaidah Al-Humaira tak pernah gentar menghadapi lawan. Dengan latihan rutin, bela diri Tapak Suci mengantarkannya meraih berbagai prestasi.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
DI usianya yang baru menginjak sepuluh tahun, Annisa Azzaidah Al-Humaira sudah akrab dengan gelanggang pertandingan. Setiap kali telapak kakinya menapak gelanggang, bukan sekadar jurus demi jurus yang diperagakan.
Ada disiplin yang sedang ditempa, ada rasa takut yang perlahan ditaklukkan, dan ada mimpi yang tumbuh bersama setiap tetes keringat.
Bocah asal Kelurahan Klangon, Kecamatan Bojonegoro tersebut memilih Tapak Suci bukan semata karena ingin pandai bela diri.
Melainkan, ruang untuk membentuk diri menjadi pribadi yang lebih kuat, bugar, dan percaya diri. Dengan mental berani serta tangguh dalam menghadapi setiap tantangan.
‘’Sejak usia 8 tahun, tepatnya di kelas 3, mulai mengikuti Tapak Suci,’’ kata Annisa sapaannya.
Sederet pengalaman mewarnai perjalanan Annisa. Paling membekas, hadir ketika ia pertama kali mengikuti perlombaan. Rasa gugup sempat memenuhi pikirannya.
Sorot mata penonton, ketatnya persaingan, hingga bayang-bayang melakukan kesalahan membuat langkahnya terasa berat.
Namun dukungan pelatih dan teman-teman perlahan mengusir keraguan. Ia pun tampil dengan segenap kemampuan yang dimiliki.
Dari gelanggang itulah Annisa belajar bahwa kemenangan bukanlah satu-satunya tujuan.
Menghormati lawan, menerima hasil dengan lapang dada, serta bangkit untuk terus berlatih adalah pelajaran yang jauh lebih berharga.
Setiap pertandingan menjadi guru yang mengajarkannya arti sportivitas dan ketangguhan.
‘’Pengalaman saat kompetisi membuat saya lebih percaya diri, tangguh, dan termotivasi untuk berprestasi di masa depan,’’ terangnya.
Siswa Kelas 4 SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro tersebut mengatakan, bagian paling disukai dari Tapak Suci adalah saat mempelajari dan mempraktikan jurus-jurus baru.
Dia merasa senang karena setiap jurus memiliki teknik dan gerakan yang unik.
Tidak selalu mulus, perjalanan yang dilalui Annisa atas pilihannya membutuhkan banyak perjuangan.
Lelah sepulang latihan, kesulitan menguasai gerakan, hingga membagi waktu antara sekolah dan latihan menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Namun semua itu terbayar ketika namanya dipanggil naik ke podium. Sejumlah prestasi pun berhasil dikoleksi. Diantaranya, Juara 1 Seni Tunggal Tangan Kosong Putri Usia Dini Pencak Silat Ngawi Championship 2026; Juara 2 Seni Tunggal Tangan Kosong Putri Usia Dini Tapak Suci Student National Championship Tingkat Nasional 2025; Juara 1 Tanding Kelas A Pencak Silat Bojonegoro Championship Tingkat Nasional 2025; dan Juara 2 Tanding Kelas A Pencak Silat Dandim Cup Malang Tingkat Nasional 2024.
Di balik setiap medali yang terkalungkan, ada doa orang tua yang tak pernah putus, bimbingan pelatih yang sabar mengasah kemampuan, serta teman-teman latihan yang saling menguatkan. Mereka menjadi alasan Annisa terus melangkah tanpa kehilangan semangat.
Baca Juga: Perjalanan Reihan Menembus Paskibraka Nasional 2026 Latihan Pagi-Sore, Jaga Asupan Makanan
Kini, bocah itu masih memperjuangkan mimpi yang belum selesai. Ia ingin terus berkembang, menembus gelanggang yang lebih luas, dan membawa pulang prestasi yang lebih tinggi.
Sebab bagi Annisa, setiap jurus bukan sekadar rangkaian gerakan. Melainkan pijakan kecil menuju masa depan yang ia impikan.
‘’Inggin meraih prestasi di tingkat yang lebih luas, baik daerah maupun nasional,’’ pungkasnya. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko