Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Anna Nurhayati, Perajin Emping Gerut Asal Kecamatan Ngasem: Awalnya Dianggap Umbi Liar untuk Pakan Ternak

Hakam Alghivari • Rabu, 25 Maret 2026 | 14:30 WIB

POTENSI LOKAL: Anna Nurhayati, perajin emping gerut DI Kecamatan Ngasem memamerkan produknya
POTENSI LOKAL: Anna Nurhayati, perajin emping gerut DI Kecamatan Ngasem memamerkan produknya

 

Emping gerut milik Anna Nurhayati menjelma camilan bernilai tinggi yang menembus pasar nasional. Ada ketekunan seorang ibu rumah tangga yang menolak menyerah pada stigma dan keterbatasan musim.


HAKAM ALGHIVARI, Bojonegoro


UMBI liar yang dulu dipandang sebelah mata, emping gerut di tangan Anna Nurhayati menjadi komoditas bernilai tinggi yang menembus pasar nasional.

Di baliknya, ada ketekunan warga RT 02 RW 01, Desa Ngasem/Kecamatan Ngasem, yang perlahan mengubah stigma menjadi peluang.

Di dapur sederhana, lembaran emping tersusun rapi, dijemur di bawah terik matahari. Prosesnya tampak biasa, namun menyimpan perjalanan panjang. Anna, sapaannya, memulai dari kegelisahan melihat umbi gerut hanya dijual murah di pasar.

“Awal mula saya melihat umbi gerut hanya dijual dalam bentuk matang sekitar Rp1.000-an, juga dibuat pati. Dari situ muncul ide dibuat emping,” kenangnya.

Sekitar 2010, emping gerut nyaris tak memiliki nilai ekonomi. Harganya hanya Rp10 ribu per kilogram. Umbi gerut sendiri dikenal sebagai tanaman liar, bahkan lebih sering digunakan sebagai pakan ternak. Namun, perempuan 51 tahun itu melihat sisi lain, bahan alami, berserat tinggi, dan tidak semua daerah memilikinya.

Inovasinya itu tidak langsung diterima. Menghadapi penolakan dari lingkungan sekitar tak terhindar. “Umbi gerut hanya tanaman buat makan ternak kok di jual. Banyak penolakan dan dianggap sepele dari tetangga sekitar dan warung yang mau saya titipi,” ceritanya.

Semangatnya tidak berhenti. Ia mulai mengikuti pelatihan UMKM yang digelar dinas terkait, memperkuat kapasitas usaha sekaligus mengurus legalitas seperti PIRT, sertifikat halal, NIB, merek, hingga NPWP. Perlahan, kepercayaan pasar tumbuh.

Kini, permintaan terus meningkat, bahkan kerap melebihi ketersediaan bahan baku. Terlebih, produksi sangat bergantung pada musim, yakni antara Juni hingga Oktober. Dalam periode itu, ia mampu menghasilkan sekitar 1,5 ton emping.

Untuk menjaga produksi, Anna menggandeng 50 pengrajin rumahan sebagai rekanan, serta mempekerjakan empat karyawan inti. Jaringan pemasarannya juga meluas, dengan lebih dari 30 reseller di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, bahkan juga tersebar di luar jawa, mulai dari Bali, NTB, hingga Kalimantan.

Tak lupa dengan generasi penerus,  Anna memberikan pesan kepada insan muda yang juga sedang membangun bisnis. “Survei pasar, jangan pantang menyerah, terus berusaha, ikhtiar, dan berdoa,” pesannya.

Dari sesuatu yang dulu dianggap tak bernilai, emping gerut kini menjadi bukti bahwa ketekunan dan keberanian membaca peluang mampu mengubah arah cerita. (kam/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#emping #pasar #camilan #Ngasem #umbi garut #umkm #umbi #Ekonomi #bojonegoro