Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar History: Mengenang Peristiwa Semburan Gas di Blora pada 2002 Silam, Sebabkan Tiga Korban Dilarikan ke RSU Cepu dan 1.096 Warga Mengungsi

M. Irvan Romadhon • Minggu, 1 Maret 2026 | 08:00 WIB

MEMBARA: Kobaran api di lapangan gas Kecamatan Randublatung pada 2002 silam berdampak kesehatan hingga pendidikan.
MEMBARA: Kobaran api di lapangan gas Kecamatan Randublatung pada 2002 silam berdampak kesehatan hingga pendidikan.

 

Kejadian menggemparkan pernah terjadi di Kabupaten Blora pada akhir Februari 2002 lalu. Tepatnya semburan gas yang memancarkan api setinggi 50 meter di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan di lokasi ekplorasi pengeboran migas milik Usaha Pertamina Daerah Operasi Hulu (DOH) Jawa Bagian Timur (Jabati) Cepu.


Semburan api tersebut muncul pada Senin 25 Februari 2002. Pertama diketahui karyawan Pertamina pukul 09.00 akibat kebocoran gas, yang mengeluarkan percikan api.

Karyawan kemudian memerintahkan penduduk sekitar untuk mengungsi demi mengantisipasi kebocoran lebih besar. Jarak aman dari pusat semburan mencapai 500 meter.

Menurut Sucipto salah satu karyawan bagian pengeboran, kekuatan semburan gas bumi tersebut diperkirakan 5.000 PSI.

Semburan gas yang disertai ledakan keras membuat kepanikan hebat warga desa setempat. Akibatnya warga di 7 dusun dari 13 dusun di desa itu harus dievakuasi.

Kahumas DOH Jabati Cepu Bambang Kusyanto mengatakan data terakhir sebanyak 1.096 penduduk diungsikan. Tiga orang masuk RSU Cepu akibat semburan gas bumi. ‘’Tetap seorang sudah keluar,” jelasnya.

Lantas, apakah gas tersebut beracun? Setelah dikaji, menurut Bambang gas itu tidak beracun. Untuk itu, Pertamina meminta warga yang mengungsi untuk kembali.

‘’Gasnya tidak beracun, karena ada puluhan karyawan kami yang masih berada di sana,” tegasnya.

Namun suhu panas dan suara gemuruh dari semburan gas bumi itu masih sangat mengganggu. ‘’Manusia di dekat lokasi hanya mampu bertahan 12 jam,” ungkapnya.

Eksplorasi yang dilakukan Pertamina Capu tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengetahui kandungan hidrokarbon. Namun, tidak disangka hasilnya ada kandungan gas bumi yang mencapai ratusan juta meter ton (MT).

Soal kompensasi warga yang mengungsi, Bambang menjelaskan sejak kejadian itu Pertamina mengambil langkah untuk menyelamatkan mereka. Warga yang merasa dirugikan karena sakit atau yang lain akan ditanggung Pertamina.

Bambang mengaku belum mengetahui pasti upaya dilakukan untuk memadamkan api. Terlebih manajemen Pertamina Pusat dan Cepu sedang merapatkan masalah tersebut. Namun bisa jadi dilakukan pengeboran lagi di sekitar 1 KM dari lubang semburan. Tujuannya untuk mengatur tekanan semburan gas. Selain itu, harus didukung dengan pemberian zat kimia khusus untuk memadamkan api. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Hidrokarbon #gas #pertamina #cepu #2002 #semburan gas #gas bumi #kradenan #blora #migas