Sejak beberapa tahun terakhir, Safir Ahyanuddin aktif mengikuti berbagai lomba menulis. Dari sini ia belajar membangun keberanian dan menerima penilaian orang lain.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
‘’Ketertarikan saya terhadap dunia menulis sebenarnya sudah muncul sejak di bangku SMA. Saat itu, saya mulai menikmati bagaimana kata-kata bisa menjadi tempat berlabuhnya perasaan, pikiran, dan pengalaman hidup,’’ ucap Safir Ahyanuddin, Juara 1 Lomba Menulis Cerpen 750 Kata Tingkat Nasional 2025.
Kepada Wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengaku, selain menjalani aktivitas perkuliahan juga aktif menekuni dunia penulisan. Baik dalam bentuk cerpen, esai reflektif, maupun konten edukasi bahasa. Bahkan, tengah mengembangkan buku berjudul Only One for Oneness.
‘’Buku ini telah saya garap hampir tiga tahun terakhir secara konsisten. Karena bagi saya, dunia kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga ruang mengembangkan diri melalui karya dan kontribusi nyata di bidang sastra dan literasi,’’ ucapnya melalui sambungan WhatsApp, sebab sedang di Surabaya.
Berkat kecintaannya itu, Safir mulai aktif mengikuti lomba menulis dalam beberapa tahun terakhir. Meski awalnya terlibat kompetisi berskala ringan seperti lomba puisi dan menulis yang banyak diselenggarakan melalui media sosial (medsos). ‘’Dari sana saya belajar membangun keberanian mengirim karya dan menerima penilaian orang lain,’’ tuturnya.
Seiring waktu, pelajar jurusan Sastra Indonesia itu pun lebih serius menekuni dunia kepenulisan. Mulai konsisten mengirim tulisan di berbagai platform dan media seperti Medium, Omong-Omong.com, Mojok.co, hingga Kompas. Bentuknya beragam dari opini, esai, sampai cerita pendek atau cerpen.
Dia mengaku, beberapa tulisannya mengangkat isu sosial dan kritik masyarakat melalui karya sastra maupun artikel reflektif. Terkadang, kata dia, juga menulis di Instagram pribadinya, @Safierahsfr.
‘’Dan, prestasi yang paling berkesan ketika berhasil meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerpen 750 Kata Tingkat Nasional yang digelar oleh Pusat Studi Literasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Unesa,” katanya berbinar.
Menurutnya, kemenangan itu menjadi pencapaian penting sekaligus penyemangat besar untuk terus berkarya. Meski rasa takut dan minder takut karya tidak layak sering muncul. Sebab, melalui tulisan ia merasa lebih hidup.
Rasa senang merangkai kalimat, bermain diksi, dan mencoba menulis hal sederhana yang memiliki makna menggeluti. ‘’Sebenarnya keseriusan menekuni dunia kepenulisan itu setelah lulus SMA 2022, meski ketertarikan sejak di SMA,’’ katanya.
Karena memutuskan menekuni dunia kepenulisan, Safir mulai banyak membaca karya sastra, menulis hampir setiap hari, dan rutin mengirim tulisan ke media dan perlombaan. Bukan berangkat dari keluarga bergelut di dunia menulis, ia mengaku, rasa itu muncul karena kegemaran membaca dan kepekaan terhadap sekitar.
‘’Dari mengamati manusia, peristiwa kecil, hingga pergulatan batin, saya menemukan banyak hal yang ingin saya ceritakan lewat tulisan. Bagi saya, menulis bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup,’’ tuturnya.
Pelajar asal Kecamatan Balen itu pun mengaku, ke depannya ingin terus berkembang di ranah bahasa, sastra, dan budaya. Bermimpi berkontribusi sebagai sastrawan sekaligus akademisi linguistik dan kebudayaan. Dia ingin karyanya tidak hanya dinikmati sebagai bacaan tapi juga memberi pemahaman.
‘’Membuka sudut pandang baru serta memperkuat kesadaran literasi masyarakat. Saya juga bercita-cita menerbitkan buku-buku yang mengangkat refleksi kehidupan, isu sosial, serta kekayaan Bahasa Indonesia,’’ doanya.
Terkadang, lanjut dia, tugas akademik cukup padat padahal ide menulis terus datang. Sehingga ia berusaha membagi waktu dan menghadapinya dengan disiplin. Safir berpegang, setiap kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan belajar.
Dia mengajak banyak membaca, agar sudut pandang semakin luas. Dan, jangan takut mengirimkan karya meski belum sempurna.
‘’Kunci utama adalah konsistensi dan kejujuran dalam menulis. Jangan hanya mengejar kemenangan, tali tulislah sesuatu yang benar-benar kita pahami dan rasakan. Jangan mudah menyerah ketika gagal, karena setiap penulis pasti melewati fase itu,’’ ucap dia. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana