Tak pernah terbayang oleh Nagita Novaola, gadis asal Kecamatan Padangan ini bisa duduk di bangku perguruan tinggi negeri bergengsi. Terlebih, lewat jalur golden ticket.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
NAGITA, sapaan Nagita Novaola, anak dari keluarga buruh tani dan buruh pabrik, tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Mimpi melanjutkan pendidikan tinggi sempat terasa mustahil. Namun, keyakinan, doa, dan keberaniannya menjadi pintu perubahan besar dalam hidupnya.
"Saya anak dari buruh tani dan buruh pabrik. Sejak awal saya sudah terbiasa hidup sederhana, dan jujur saja, waktu itu rasanya mustahil bisa lanjut kuliah,” ungkap Nagita.
Namun keterbatasan itu justru menjadi titik perjuangan. 2025, Nagita resmi diterima sebagai mahasiswa Program Studi S-1 Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Ia masuk melalui jalur golden tiket, jalur khusus yang memberinya kebebasan memilih perguruan tinggi negeri.
“Prosesnya tentu tidak mudah. Tapi saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu penerima golden ticket UNAIR dari ribuan pendaftar. Semua ini berkat doa orang-orang di sekitar saya,” katanya.
Kesempatan besar itu berawal dari peristiwa di 2024. Saat itu, Nagita dipercaya mewakili Forum Anak Jawa Timur dalam Lokakarya Forum Anak Nasional di Jakarta. Dari kegiatan tersebut, ia terpilih sebagai satu dari empat anak yang mendapat kesempatan berdialog langsung dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI saat itu, Bintang Puspayoga.
Dalam dialog tersebut, Nagita memilih untuk berbicara apa adanya tentang hidupnya. Kejujuran itu justru mendapat apresiasi. Nagita memperoleh surat rekomendasi untuk masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia, sekaligus peluang beasiswa.
Nagita akhirnya memilih Universitas Airlangga. Pilihan itu bukan semata soal reputasi kampus, melainkan juga ikatan emosional dengan keluarga.
“UNAIR adalah impian sekolahnya ibuk saya dulu. Alhamdulillah, saya bisa kuliah di sana dengan bantuan beasiswa KIP,” ucapnya.
Bagi Nagita, kesempatan ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang mewujudkan mimpi yang sempat tertunda di keluarganya.
"Bapak ibu saya lulusan SMP, tapi dulu ibu saya kerja jadi pembantu di Surabaya, dan sejak saat itu punya mimpi semoga anaknya bisa melanjutkan perjalanan di Unair. Alhamdulillah rejeki saya," ceritanya.
Di luar aktivitas akademik, Nagita aktif di berbagai kegiatan sosial. Ia fokus pada isu anak, perempuan, dan kesehatan mental.
“Saya ingin anak-anak, khususnya di Bojonegoro, percaya bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang. Selama kita mau berusaha dan ikhtiar, selalu ada jalan,” pungkasnya.
Dari keluarga buruh di Padangan hingga bebas memilih perguruan tinggi negeri, kisah Nagita Novaola menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah batas akhir sebuah mimpi. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana